
Alphaaa
1.6K posts









Ini kasus viral yang menurutku menunjukkan betapa bodohnya penegak hukum kita. Amsal Sitepu dianggap mark-up anggaran karena jaksa dan auditor menganggap jasa edit video harusnya bernilai Rp0. Mereka anggap jasa digital ini tidak ada nilai ekonominya. 🤷🏻♂️ medan.inews.id/read/681204/ba…


Daftar tarif yang harusnya bernilai 0 menurut auditor dan jaksa 🤦♂️


Logika Jaksa penuntut umum bahaya banget ‼️ Jasa editing video dikasih harga Rp 1.000.000 di bilang markup. Jaksa bilang jasa editor harusnya Rp 0. Ini jadi alarm buat para editor dan para kreator. Faktanya : •Editor bekerja berjam jam •Videografer bekerja berhari hari. •Kreator bekerja dg skill, alat mahal dan pengalaman. Ini bukan masalah hukum ini penghinaan terhadap "profesi kreatif"


Pause needs to be removed from the game because 99% of its usage is making the first rollout five times longer than it needs to be If youre not ready to play the game then dont queue


matthew mcconaughey yearbook photo (1988)







Dulu pertama kali mengenal Raditya Dika sebagai “anak blog” yang tulisannya absurd, jujur, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita tentang cinta yang gagal, teman yang nyebelin, sampai kejadian receh yang justru jadi lucu karena ditulis dengan gaya Deadpan yang jadi ciri khasnya. Buku-bukunya seperti Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, sampai Marmut Merah Jambu bukan cuma laris tapi jadi identitas generasi. Raditya Dika saat itu seperti teman yang duduk di sebelah kita, bercerita tanpa berusaha terlihat pintar, tapi justru terasa cerdas karena kejujurannya. Raditya Dika sekarang berbeda. Bukan lagi sekadar penulis cerita konyol, tapi kreator yang lebih matang. Podcast tentang hubungan, konten observasi kehidupan, bahkan pembahasan yang lebih reflektif dan filosofis. Humor masih ada, tapi lebih halus dan smart banget. Tidak lagi meledak-ledak, tapi lebih dalam dan improvisasi. Yang menarik, Raditya Dika sekarang juga banyak dilihat sebagai role model. Bukan karena hidupnya glamor, tapi justru karena terlihat sederhana. Hidup tenang, keluarga kecil, pilihan hidup yang realistis dan cara dia bicara tentang uang, karier, serta kehidupan terasa semakin relevan. Ia tidak lagi sekadar membuat orang tertawa, tapi juga memberi perspektif. Tentang pentingnya mengatur keuangan, membangun karier jangka panjang, dan menjalani hidup tanpa harus terlihat sibuk mengejar validasi. Dulu Raditya Dika membuat kita tertawa karena “hidupnya berantakan”. Sekarang Raditya Dika membuat kita tersenyum karena “hidupnya mulai tertata”. Mungkin itu bukan cuma perubahan Raditya Dika. Tapi juga perubahan kita yang tumbuh bersamanya. Dulu kita tertawa karena patah hati pertama. Sekarang kita tertawa karena tahu hidup memang seperti itu. Raditya Dika dulu terasa seperti teman sebangku. Raditya Dika sekarang terasa seperti teman lama yang sudah banyak belajar. Letak menariknya kita tidak kehilangan Raditya Dika yang lama. Kita hanya melihat versi yang lebih dewasa. Menurut kalian dalam posisi sekarang ini, lebih relate Raditya Dika dulu atau sekarang? Atau justru kamu tumbuh bersama perubahan itu? Reply di bawah 👇


Kadang gue penasaran, kenapa banyak orang 'berseragam' menggunakan seragamnya tidak pada tempatnya? Apa gabisa gitu ganti baju dulu? Atau memang ada aturan kedinasan yg mengharuskan selalu berseragam? *nanya serius





BREAKING 🚨 2 Kapal Tanker Indonesia dibolehin keluar dari Selat Hormuz



Kalo embege bukan ladang bisnis kenapa berbondong-bondong bikin banyak dapur? Belajar matematika lagi yuk: Penghasilan perhari 6jt x 41 dapur = 246.000.000 pendapatan perhari 1 bulan kemarin bilangnya hanya dapat 24 hari, berarti: 246.000.000 x 24 =5.904.000.000 Jika 1 tahun : 5.904.000.000 x 12 = 7,0848×10¹⁰ Program berjalan selama 1 periode (5 tahun) jika ceo embege hoki ga ke pleset ubin kamar mandi: 70.848.000.000 x 5 = 354,24 miliar When yah atmint punya dapur embege ini





Unpopular opinions about all Indonesian presidents

Unpopular opinion tentang Sejarah yang bisa bikin kamu kayak begini:








