🚨 Paolo Maldini on Italy failing to qualify for a third consecutive World Cup after losing to Bosnia ❌🇮🇹:
🗣️ Maldini:
“When you wear the Italy shirt, you carry history, responsibility, and pride. This is not just another national team — this is one of the greatest in football.”
“To miss one World Cup is a warning. To miss two is a crisis. But three in a row… that is a complete failure.”
“In my time, talent was important, but mentality was everything. Discipline, sacrifice, respect for the badge — these were non-negotiable.”
“Today, I don’t see that same level of hunger. I don’t see players willing to give everything for the shirt.”
“Losing to Bosnia is not just a result… it reflects a deeper problem.”
“Because without identity, without pride, without responsibility… Italy is no longer Italy.”
🚨Francesco Totti on Italy’s national football team missing THREE World Cups in a row ❌🇮🇹:
🗣️Totti: “The last Italy team I remember at the World Cup… they were warriors. Men of determination, focus, and sacrifice. There were no distractions, no obsession with image, no need to live on social media. Just football, just pride, just responsibility to the badge.”
“That 2014 team were like the Romans in history; disciplined, feared, and respected. That was when Italy was truly Italy.”
“Today, it pains me to say, we have lost that identity. Too many players are comfortable, too distracted by fame, by tattoos, by the celebrity lifestyle. The focus is gone, the hunger is fading.”
“And now we face the ultimate embarrassment—missing the World Cup THREE times in a row. For a nation like Italy, this is not just failure… it is humiliation. Because talent alone is never enough. Without mentality, without discipline, without pride… you have nothing”
@LambeSahamjja JK paham bahasa Rakyat, pandai memberi solusi bagi yg terdidik... dan tdk sekedar memaksakan kehendak, dimana semua diawali Kita HARUS... HaRus Ini, haru itu dan pasti ada .... iya adaa, pasti adaaa....😂🤣🤣🤣
Baru aja Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bikin heboh lagi.
Di tengah ramai isu harga minyak dunia naik karena konflik Iran vs AS-Israel, pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM agar rakyat tidak terbebani.
Tapi JK justru bilang
Naikkan harga BBM itu perlu
Menurut JK, ada tiga alasan kuat:
- Kurangi Beban APBN
Subsidi BBM akan berkurang jika harganya disesuaikan dengan harga internasional.
Jadi pemerintah tidak pusing membayar subsidi yang membengkak.
- Orang Akan Hemat BBM
Kalau mahal, otomatis masyarakat bakal lebih selektif memakai kendaraan, sehingga konsumsi BBM turun.
- Yang Bisa Bayar, Bayar; Yang Harus Hemat, Hemat
Pemilik mobil tentu mampu beli BBM lebih mahal. Pemilik motor akan lebih bijak menggunakannya, misalnya mengurangi perjalanan yang kurang penting.
@ainurohman Mulai terbiasa menyaksikan World Cup tanpa Italia, juara dunia 4x yg liganya pernah jadi kiblat liga profesional di dunia
Brasil satu2nya negara yg tidak pernah absen di Piala Dunia. Bakal jadi kehebohan luar biasa kalo suatu saat Brasil gagal lolos kualifikasi
Italia, Juara Euro 2020, tapi berkali2 gagal mentransfer performa hebat itu dlm laga2 kualifikasi Piala Dunia.
Dengan kekalahan adu penalti dari Bosnia hari ini, Italia menjadi mantan juara dunia pertama dlm sejarah yg gagal lolos ke Piala Dunia 3 kali scr beruntun.
Tragis.
@fillainart Ok. Mungkin penting juga melihatnya dari sudut lain, misalnya enjoyment nya Zizek: apa misery (simbolik) yg harus dibayar dibalik kenikmatan itu?
Sering banget kita lihat di timeline komentar semacam "Gen Z mana tau" atau balasan "Dasar Milenial/Boomer lembek". Sekilas ini emang kelihatan kayak jokes atau banter internet biasa. Tapi kalau kita bedah pakai kacamata sosiologi, perang generasi ini menurutku sebenarnya adalah wujud dari coping mechanism yg lumayan menyedihkan dari ego yg terluka.
Buat memvisualisasikan akar masalah dari konflik kultural ini, kita bisa pakai analogi dinamika antara generasi ninja tua di era Naruto versus generasi muda di era Boruto.
Generasi tua yg besar dan hancur di era Perang Dunia Shinobi sering banget merendahkan generasi Boruto dengan narasi yg sangat bias: "Kalian tuh enak hidup di zaman damai, belum pernah ngerasain kerasnya perang berdarah kayak zaman kami dulu."
Contoh paling oke ada di alur Ujian Chunin, ketika Naruto mendiskualifikasi Boruto karena ketahuan memakai Tech Ninja mutakhir (Kagaku Ningu). Di mata generasi Naruto, "jalan ninja" itu harus penuh keringat, darah, dan penderitaan fisik. Menggunakan teknologi yg mempercepat efisiensi pengeluaran jutsu dianggap "curang" dan mencederai esensi seorang Shinobi. Padahal, Boruto lahir di era modern yg memang menuntut adaptasi perangkat, bukan cuma sekadar otot dan tekad buta.
Di dunia nyata, generasi Milenial dan Gen X sering melakukan hal yg persis sama ke Gen Z. Mereka menjadikan trauma masa lalu—mulai dari kerasnya didikan Orba, guru yg main fisik, sampai susahnya merintis karir manual tanpa kemudahan internet atau AI, sebagai medali kehormatan.
Dalam Kajian Budaya, fenomena ini disebut sebagai Fetisisasi Trauma. Penderitaan dan rasa sakit di masa lalu diagungkan sedemikian rupa seolah-olah hal tersebut adalah standar mutlak dan tunggal untuk mengukur kedewasaan seseorang.
Akibat dari fetisisasi ini adalah membusuknya empati dan lahirnya sistem Toxic Resilience (Ketangguhan yg Beracun). Ketika Gen Z mulai vokal menyuarakan isu mental health, menuntut work-life balance, atau menetapkan boundaries di tempat kerja, generasi tua langsung merespons dengan sinis. Logika alam bawah sadar mereka sebenarnya berbunyi seperti ini: "Kalau aku dulu menderita, ditindas sistem, dan terpaksa menelan trauma itu sendirian, maka kamu juga harus menderita hal yg sama supaya kamu valid diakui sebagai manusia dewasa."
Pada akhirnya, ejekan "Gen Z mana tau" itu sering kali bukan lahir murni dari arogansi, melainkan tangisan ego dari generasi tua yg diam-diam iri melihat generasi muda punya keberanian (dan ruang sosial) untuk menolak penderitaan yg dulu terpaksa mereka telan bulat-bulat.
Kita sering lupa esensi dasar dari peradaban. Tujuan kita membangun masa depan yg lebih baik itu justru supaya generasi berikutnya gak perlu lagi merasakan kebrutalan "Perang Shinobi". Sangat ironis kalau kita malah ngambek dan merasa tersaingi ketika melihat hidup generasi penerus kita ternyata jauh lebih manusiawi.
@ATRightMovies You may say i'm a dreamer, but i'm not the only one.. Imagine, J. Lennon
F**k you, I won't do what you tell me, motherf**ker.. Killin' in the name of, RATM