aora
3 posts


Unpopular Opinion:
Win Rate adalah metrik yang menyesatkan.
Trader pemula sering terobsesi dengan win rate. Dikit-dikit ditanya berapa win rate.
Makanya ga heran kemudian banyak akun-akun yg dikit-dikit pamer win rate. Karena itu hal yg menarik bagi para plankton.
Namun, di pasar keuangan yang merupakan sistem non-ergodic, win rate tidak berarti apa-apa tanpa mengetahui besarnya risiko yang diambil per transaksi.
Seorang trader bisa punya win rate 99% namun tetap aja jatuh bangkrut apabila 1% loss yg diderita jauh lebih besar daripada total kemenangan yang diakumulasi.
Sebaliknya seorang trader profesional mungkin hanya punya win rate 30% namun sangat profitable karena berhasil membatasi kerugian yang diderita dan membiarkan akumulasi kemenangan demi kemenangan yang dikumpulkan per trade tumbuh menggulung.
Pamer screenshot win rate hanya menunjukkan sisi kemenangan/win, tanpa memperlihatkan tail risk atau risiko ekstrim yang mengintai. Satu kejadian sial di pasar yang tak terduga dapat menghapus seluruh keuntungan yang telah diraih.
Pamer-pamer kemenangan, win rate, pengakuan jago investasi dan trading emang hanya bisa dilakukan di dunia media sosial apalagi kalau audiens semata retail naif tidak berpengalaman.
Di dunia investor institusi, profesional, high finance, umbar kemenangan tidak bisa dilakukan seenak udelnya. Di tahapan RFI, RFP dan seleksi manajer semua data discrutinise. Mau nama lo Bl*ckRock, JPMor*an, Bridgewat*r sekalipun.
Data dikumpul, dianalisa, dibuktikan, diatribusikan dan ditentukan apakah skill atau semata luck. Untuk itu malah ada ilmunya, berikut standard dan sertifikasinya sendiri. Agar apple to apple. Seperti dikatakan oleh W. Edwards Deming: "In God we trust, all others must bring data"
Kalau di media sosial sih enak. Semua bisa mengaku jago.
Indonesia
