GFRIEND 'TILL THE END

2K posts

GFRIEND 'TILL THE END banner
GFRIEND 'TILL THE END

GFRIEND 'TILL THE END

@AriWasBlamed

your local Buddy

Katılım Nisan 2024
526 Takip Edilen9 Takipçiler
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
The_Believer__
The_Believer__@TheXiklu1·
ZXX
0
139
614
10.7K
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
Spectro
Spectro@trichromachine·
i had a vision
Spectro tweet media
English
27
1.1K
11.9K
87.9K
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
dinosaur
dinosaur@dinosaurs1969·
dinosaur tweet media
ZXX
31
1.6K
40.9K
447.1K
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
Rachland Nashidik
Rachland Nashidik@rachlannashidik·
Dalam sejarah politik Indonesia, ada satu mitos yang berusia panjang: bahwa bangsa ini harus memilih kebebasan atau stabilitas, demokrasi atau kesejahteraan, hak-hak sipil atau negara yang kuat. Mitos itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti nama. Stephen Kotkin, dalam “The Weakness of the Strongmen” di Foreign Affairs edisi Januari-Februari 2026, memberi kita kacamata teoretik untuk membaca pola itu. Dari lima ciri strongman menurut Kotkin, dua akan dibahas di sini: narasi negara kuat dan kontrol atas akses hidup warga. Keduanya sering ditautkan oleh penciptaan musuh bersama. Narasi dan Kontrol Menurut Kotkin, strongman tidak bertahan hanya karena mampu memukul. Ia juga bertahan karena mampu menguasai narasi. Setiap orang kuat dan proyek pemusatan kuasa selalu membutuhkan cerita tentang ancaman. Ancaman itu bisa datang dari luar: imperialisme, neokolonialisme, campur tangan asing, liberalisme Barat, krisis global. Ia juga bisa datang dari dalam: separatisme, radikalisme, intoleransi, hoaks, dan sebagainya. Masalahnya bukan bahwa semua ancaman itu palsu. Negara memang wajib menjaga keamanan. Indonesia lahir dari penjajahan. Republik ini juga pernah menghadapi pemberontakan, konflik ideologi, separatisme, terorisme, kekerasan komunal, dan tekanan geopolitik. Soalnya berbeda ketika ancaman nyata dimanfaatkan untuk membenarkan kecurigaan negara terhadap warganya sendiri. Di titik itu, mandat menjaga republik berubah menjadi alibi untuk menertibkan warga. Tesis Kotkin tentang kontrol atas peluang hidup juga terasa akrab bagi pengalaman Indonesia. Orang kuat, tulis Kotkin, tak perlu main gebuk setiap hari. Ia cukup membuat nasib orang bergantung padanya: karier birokrat, izin usaha, akses proyek, lisensi media, pengesahan partai politik, dan seterusnya. Dengan kuasa untuk menentukan nasib itu, orang akan melakukan kalkulasi sendiri: kapan harus diam, kapan harus memuji, dan kapan harus mundur. Pada masa Soekarno, revolusi diperlakukan bagai kitab suci. Demokrasi parlementer dianggap terlalu liberal, terlalu Barat, dan memecah-belah. Setelah Dekrit 5 Juli 1959, politik ditarik ke dalam orbit Demokrasi Terpimpin. Soekarno menjadi penafsir utama arah sejarah. Musuh luar Soekarno jelas: imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme, dan kekuatan Barat. Narasi itu tidak turun dari ruang kosong. Indonesia baru keluar dari penjajahan. Perang Dingin sedang membelah dunia. Tetapi di dalam negeri, kampanye anti-imperialisme juga dipakai untuk mencurigai kritik. Lawan politik dapat dituding kontra-revolusioner, anti-persatuan, atau antek kekuatan asing. Pada masa Soeharto, narasinya berubah. Revolusi diganti pembangunan. Mobilisasi ideologis diganti stabilitas politik. Retorika besar dilucuti teknokrasi. Namun polanya tetap sama: demokrasi harus menyingkir bila dinilai menghalangi agenda negara. Orde Baru menyempurnakan false dilemma itu. Warga dipaksa memilih pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di satu sisi, atau demokrasi dan hak-hak sipil di sisi lain. Tentu saja pilihan itu sudah diatur sejak awal. Kebebasan digambarkan sebagai kekacauan. Demokrasi digambarkan sebagai risiko. Kritik digambarkan sebagai gangguan. Stabilitas menjadi kunci yang membenarkan hampir segalanya. Atas nama stabilitas dan keamanan nasional, partai dijinakkan, pers dikontrol, kampus diawasi, dan buruh dilemahkan. Dengan trauma 1965, negara menempatkan dirinya sebagai benteng terhadap komunisme dan ekstremisme. Represi memperoleh bahasa teknokratis. Koersi tampil sebagai syarat pertumbuhan ekonomi. Alatnya: Undang-Undang Subversi. Lalu datanglah Reformasi 1998. Perubahan politik itu mematahkan sebagian besar bangunan otoritarianisme Orde Baru. Lebih jauh, Reformasi membuka imajinasi politik baru. Indonesia, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, berhasil membuktikan bahwa demokrasi tidak sama dengan kekacauan. Kritik tidak sama dengan subversi. Pembangunan juga tidak memerlukan represi. .... (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Rachland Nashidik tweet media
Indonesia
2
18
83
60.6K
Er
Er@merdesiren·
Ini ibarat suppresant kah
Er tweet media
Indonesia
190
1.3K
9.6K
146.9K
GFRIEND 'TILL THE END
GFRIEND 'TILL THE END@AriWasBlamed·
@smokeatcity Gw demen baca, dan gw gapernah senyesel ini baca karangan orang lain 😭😭😭💔💔💔 majas hiperbola nya absurd beut bangkek
Indonesia
0
0
0
83
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
すず
すず@jpmxf·
知ってる人に雰囲気で伝わればいいな〜って感じで作ったトモコレのイコラブちゃん💖
すず tweet media
日本語
3
284
12.3K
3.6M
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
Mathieu Chaurette
Mathieu Chaurette@math_chaurette·
''Meet Sebastian'' - Happy to finally share this 3D animation that I've been cooking for a while, enjoy!
English
66
3.6K
30.1K
257.2K
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
Kötti!
Kötti!@Koetti_sketches·
I think I'll ink this one
Kötti! tweet media
English
4
115
1.1K
6.7K
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
Daily Naruto
Daily Naruto@NarutoDaily_·
Warra
Daily Naruto tweet media
English
85
2.5K
26.8K
321.2K
GFRIEND 'TILL THE END retweetledi
ymsk
ymsk@1yamasuke060·
スキップとローファー 重たいカバン💼📚
ymsk tweet media
日本語
26
2.4K
21.2K
240.7K