Ari Ardiansyah
481 posts


@zy_zy_lestary Prabowo presiden trlalu suka ngambil keputusan, yg slalu blunder
Indonesia

@KangManto123 Macan asia sudah masuk kandang Donal trump
Indonesia

@PakKarti Saya masih dengan keyakinan bg rismom 6 Minggu yg lalu
Indonesia

@msaid_didu Pak, waktu jumpa sama presiden ada GK ngomongin Bahlil ?
Aye muak lihat dia duduk di posisi mafia
Indonesia
Ari Ardiansyah retweetledi

@KangManto123 Itu bukan nyamar bro, kalok Uda di kasih tahu, itu nama nya carik muka
Indonesia

@UmarHasibuan__ @KPK_RI Udah buat gaduh, dengan mudahnya kelen minta maap.. copot org yg buat keputusan itu
Indonesia

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan
gelora.co/2026/03/nasib-…
Indonesia

Pernyataan Menteri ESDM @bahlillahadalia soal mematikan kompor saat masakan sudah matang mungkin terdengar sederhana. Bahkan bagi sebagian netizen, dianggap “nyeleneh” dan jadi bahan bullyan. Padahal kalau kita tarik sedikit ke konteks yg lebih luas, justru di situlah letak masalahnya: kita sering meremehkan hal kecil yg berdampak besar.
Faktanya, konsumsi LPG di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Sebagian besar digunakan oleh rumah tangga, dan mayoritas masih disubsidi negara. Artinya, setiap pemborosan kecil di dapur sebenarnya ikut membebani anggaran negara yg seharusnya bisa dialokasikan ke sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial.
Di sisi global, dunia sedang menghadapi tekanan energi akibat konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah. Ketika suplai energi terganggu, harga bisa melonjak dan negara-negara harus melakukan penyesuaian. Dalam kondisi seperti ini, efisiensi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.
Jadi ketika pemerintah mengajak masyarakat untuk hemat energi, bahkan lewat cara yg sangat sederhana seperti mematikan kompor setelah masakan matang, itu bukan sekadar himbauan receh. Itu bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.
Sayangnya, di media sosial, narasi sering dibalik. Yang sederhana dianggap konyol, yg logis dianggap bahan ejekan. Padahal negara-negara maju justru menekankan efisiensi energi dari level paling kecil: rumah tangga.
Kalau mau jujur, ini bukan soal siapa yg bicara. Ini soal apakah kita mau jadi bagian dari solusi atau justru ikut memperbesar masalah.
Kadang, langkah besar memang dimulai dari kebiasaan kecil. Dan dalam konteks krisis energi global, mematikan kompor tepat waktu bukan hal sepele—itu bentuk kesadaran.

Indonesia
Ari Ardiansyah retweetledi

Pernyataan dr Tifa
Bismillahirrahmanirrahiim.
Beberapa hari ini saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan.
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah: sholat, tadarus, membaca kitab-kitab hikmah, dan lebih banyak berdiam di rumah.
Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang.
Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut.
Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan InsyaAllah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat.
Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S2 dan S3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun.
Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian.
Karena saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan bernyali, serta cermat dalam analisis.
Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: "Why, Mon, kenapa kau musti palsuin ijazah, sih?")
Langkah yang Rismon ambil saat ini, setidaknya dalam penilaian saya, terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya kita tunjukkan.
Saking liar dan mandirinya, kadang saya dan mas Roy suka kewalahan dan geleng-geleng kepala melihat segala manuvernya sambil berkata: " Piye to adikmu kuwi?*
"Lha embuh!* Jawab saya.
Setahun ini kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Seia sekata dan senasib sepenanggungan.
Hanya kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat.
Namun kekecewaan terbesar saya justru bukan kepada Rismon.
Kekecewaan terbesar saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya.
Demi menepis tuduhan tentang ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas.
Hal yang sama pernah menimpa Bambang Tri. Juga Gus Nur.
Dan kini sejarah itu seperti berulang.
Pada Rismon, dibuat hancur harga diri melata begitu rendah tak berdaya.
Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat. Bukan alat untuk membungkam mereka yang bersuara.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: kekuasaan yang digunakan untuk membungkam kebenaran pada akhirnya justru memperbesar gema kebenaran itu sendiri.
Namun saya tidak ingin larut dalam kemarahan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjaga hati tetap jernih, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Mengetahui.
Saya memilih jalan yang berbeda.
Dengan dukungan banyak orang, dan dengan sepenuhnya berserah kepada Allah, saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini.
Perjuangan untuk kebenaran memang sering kali sunyi.
Kadang juga menyakitkan.
Tetapi kebenaran memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh kekuasaan:
ia tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.
Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup.
Dan saya memilih untuk tetap berdiri.
Salam,
Tifa

Indonesia
























