Parachutes

523 posts

Parachutes banner
Parachutes

Parachutes

@Bangun1987

_

Semarang, Jawa Tengah Katılım Ocak 2019
546 Takip Edilen51 Takipçiler
Parachutes
Parachutes@Bangun1987·
@tasawufcenter Mengapa saat ditawari berangkat ke Papua untuk pembuktian tidak diiyakan ya? Seharusnya diiyakan saja, tinggal bikin syarat: biar seimbang harus mengajak tim dokumenternya Pesta Babi. Kalau seperti ini khan disayangkan, kesannya mahasiswanya yang tidak mau verifikasi dua arah
Indonesia
3
0
2
1.8K
Parachutes retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Lucu yaaaa… semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin sering kita menjawab: “Tergantung” 😌😌🙃
Indonesia
316
3.8K
39.1K
691.4K
Parachutes
Parachutes@Bangun1987·
@VikirBaskervl Seneng banget liatnya. Selanjutnya Ahmad Dhani dan Once please.
Indonesia
1
0
0
2.8K
Vikir Van Baskerville
Vikir Van Baskerville@VikirBaskervl·
Akrab banget kayak ga pernah nge -cancel satu sama lain aja 🤣
Indonesia
343
2.5K
27.3K
1.3M
Parachutes retweetledi
Hagov Berlin
Hagov Berlin@hagov_berlin·
Totalmente enamorado de esta propuesta de bandera planetaria. Un circulo azul para representar nuestro planeta, y el resto transparente para que el fondo sea parte de la bandera
Amorgosoid🇭🇷🇪🇺@amorgosoid

@PunishedAlbert The One World Flag is easily the best (transparent so the background is incorporated into the flag)

Español
1.9K
3.7K
50.6K
17.1M
Parachutes retweetledi
Muhammadiyah
Muhammadiyah@muhammadiyah·
Segelas kopi, dan teri sebiji kadang sudah bisa menjadi pelipur lelah sebelum pulang ke rumah. Semoga lelah bekerjamu yang diniatkan karena Allah jadi berkah, dan langkahmu selalu dimudahkan. Selamat Hari Buruh #Muhammadiyah
Muhammadiyah tweet media
Indonesia
425
6.5K
18.2K
2.5M
Parachutes retweetledi
👑
👑@coffeededo_o·
👑 tweet media
ZXX
27
1.8K
19.6K
109.7K
Parachutes retweetledi
Kgoshi Ya Lebowa
Kgoshi Ya Lebowa@Mothematiks·
Dont grow old my son, its a trap.
English
458
4.4K
54.1K
11.4M
Parachutes retweetledi
picoez
picoez@picoez·
Tadi kedatangan tamu. Wajah kucel dan tampak capek. Kusuguhkan kopi, lalu dia mulai bercerita kalo sedang sumpek, gak punya uang, dll. Aku hanya mendengarkan sampai dia selesai cerita. Mungkin karena melihat aku diam saja, dia bilang," Mbok saya diberi nasihat 1-2 kalimat, Mprop." Kubilang," Sampeyan masih hidup, berarti rezeki sampeyan masih ada. Kalo rezeki sampeyan sudah habis, mesti sampeyan udah mati saat ini." Di luar dugaanku, dia tertawa ngakak," Oh, iya. Sesederhana itu ternyata menghilangkan sumpek. Gobloknya aku 🤣." Saat dia pamit, kuulurkan 1 lembar 50 ribuan. "Ini, buat sak karepmu. Maaf, cuma segini karena cuma itu yg ada di dompetku," kataku. Dia menerima uang yang kusodorkan, sambil lompat2 dan tertawa, "Hahaha ... rezeki, rezeki, ternyata rezekiku masih ada. Alhamdulillah. Ternyata omongan sampeyan bener, Mprop. Langsung terbukti," katanya. Aku bilang," Lha mamang uang itu kuberikan untuk membuktikan kalo omonganku benar, kok. Biar kayaknya aku ini wali." Lalu kami ngakak berdua. Sesaat kemudian dia pamit. Kutegur dia,"Kok gak bilang terima kasih ke aku?" Dia menjalankan motornya sambil njawab," Ini kan rezekiku, bukan rezeki sampeyan, Mprop. Hahahaha. Assalamu'alaikum." Rezeki, rezeki ... sayup aku masih mendengar suara itu sepeninggalnya. Aku senyum. Gembira. Alhamdulillah
Indonesia
89
268
2.1K
174.7K
Parachutes retweetledi
F A A R E E S 💫 🇵🇸
F A A R E E S 💫 🇵🇸@MFaarees_·
In Islam, Saudi Arabia is just a country, just like America and France are, there's nothing special about it. Our holy places are Makkah and Madinah, they just happen to fall under Saudi Arabia. That's all.
English
351
2.8K
14.9K
201.2K
Parachutes retweetledi
Mustafa
Mustafa@oprydai·
i often think about this..
Mustafa tweet media
English
456
13K
102.8K
2.8M
Parachutes retweetledi
Muslim
Muslim@Muslim·
🇮🇩 Eid prayers in Indonesia was full of COLOR! MashaAllah
Muslim tweet mediaMuslim tweet media
English
220
13.3K
103.6K
2.5M
Parachutes retweetledi
piee
piee@noopiieeeeee·
ini bukan kemiskinan,itu foto orang tua yg tidak pernah menyerah untuk pulang, potret satu keluarga yg lagi istirahat disela2 ramainya pemudik.
piee tweet media
Indonesia
480
3.3K
29.7K
4.1M
Parachutes retweetledi
Cipher | AI & Web3
Cipher | AI & Web3@cipherr_exe·
10 hal yang Claude bisa lakuin dan 90% orang belum tau Ini beneran useful, bukan cuman jawab pertanyaan doang: 1. Cowork : akses file lokal lu, rapiin, rename, organize 2. Claude in Chrome : baca web page, debug error, automasi workflow browser 3. Bikin dokumen Word/Excel/PPT langsung dari chat 4. Memory: inget project dan preferensi lu lintas sesi 5. Skills: ajarin Claude workflow spesifik lu, dia inget selamanya 6. 38+ plugin : Gmail, Drive, Notion, Slack, semua connect 7. Visualisasi data interaktif : chart, diagram, langsung di chat 8. Claude Code : autonomous coding sampe 30 jam nonstop 9. Extended Thinking : dia "mikir dulu" sebelum jawab buat masalah kompleks 10. Dan ini semua udah available sekarang. Bukan "coming soon."
Indonesia
21
309
2.2K
63.9K
Parachutes retweetledi
Ikan Paus 🐳
Ikan Paus 🐳@siolleeee·
Daftar serial Netflix terbaik yg bikin gamau berenti nonton. Nomer 2 fav. ane bgt 😁
Ikan Paus 🐳 tweet media
Indonesia
52
365
2.6K
307.8K
Parachutes retweetledi
Muhammadiyah
Muhammadiyah@muhammadiyah·
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah keniscayaan bagi umat Islam di tengah arus globalisasi. Haedar Nashir menjelaskan bahwa KHGT merupakan respons terhadap keniscayaan globalisasi, yang ia gambarkan sebagai “kereta raksasa” yang dapat menggilas siapa saja yang tidak siap, namun menjadi kendaraan penting bagi mereka yang mampu menghadapinya. Dalam perspektif universum, Islam disebut sebagai agama kosmopolit yang mengandung nilai-nilai universal, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (QS. Al-Anbiya: 107), yang menegaskan bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh alam dengan nilai-nilai rahmat. Haedar menyoroti sejarah Islam yang telah menunjukkan sifat globalnya sejak dulu. Islam menyebar dari Jazirah Arab hingga ke Magribi, Eropa (Andalusia, Balkan), Rusia, Asia Timur, dan Asia Tenggara, meskipun dengan keterbatasan transportasi pada masa itu. “Ini bukti nyata bahwa Islam telah mengglobal sejak awal, sebagai wujud rahmatan lil alamin,” ujarnya. Oleh karena itu, di era globalisasi yang menghapus sekat administratif, kehadiran kalender hijriah global menjadi mutlak untuk menyatukan umat Islam dengan satu tanggal dan satu hari di seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada identitas kebangsaan Indonesia, sebagaimana diwujudkan dalam dokumen resmi Pancasila dan Darul Ahdi Wasyahadah. Namun, untuk kepentingan universal, kalender global ini dianggap sebagai langkah strategis yang tidak dapat dihindari. “Kita tidak lagi bisa hanya berbasis kalender lokal, kecuali untuk keperluan tertentu. Kalender global adalah jihad akbar dan ijtihad umat Islam menghadapi perkembangan global,” tegas Haedar. Dari perspektif kesatuan, Haedar menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) sebagai keniscayaan untuk menjaga keutuhan umat Islam, baik di Indonesia maupun dunia. Ia merujuk pada Al-Qur’an, “Innamal mukminuna ikhwah” (QS. Al-Hujarat: 10), yang memerintahkan umat Islam untuk bersaudara, serta perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah (QS. Ali Imran: 103). Namun, ia mengakui bahwa ukhuwah sering sulit dipraktikkan dalam dua isu besar: konflik Palestina dan penentuan kalender hijriah. Haedar menyebut penentuan kalender hijriah sebagai “jalan terjal” bagi Muhammadiyah, terutama karena perbedaan pandangan di tingkat lokal dan global. Ia mencontohkan kebingungan umat awam ketika tanggal penting seperti 1 Ramadan, 1 Syawal, atau 10 Zulhijah berbeda-beda, bahkan hingga dua atau tiga hari, padahal peredaran bulan, matahari, dan bumi bersifat eksak. Meski demikian, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah terbuka untuk dialog dan musyawarah demi mencapai mufakat. “Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi inisiatif individu dan organisasi lain yang telah merintis gagasan serupa, serta mengajak semua pihak untuk menyisihkan kepentingan pribadi demi persatuan umat. Kalender global tunggal mungkin punya kekurangan, tapi sistem lain juga tidak sempurna. “Mari duduk bersama untuk satu tujuan: satu hari, satu tanggal,” ajaknya. Dari sisi saintifik, Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan metode hisab sebagai salah satu parameter kalender global, di samping prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa hisab dan rukyat sama-sama memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti hadis dari Ibnu Umar, “Fain gumma faqdurullahu,” serta ayat yang menyebutkan kepastian peredaran matahari dan bulan (QS. Yunus: 5). Haedar menekankan bahwa perubahan metode tidak perlu ditakuti, karena metode hanyalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan. Muhammadiyah sendiri pernah beralih dari rukyat ke hisab hakiki, menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan. Ia juga merujuk pada konsep falsifikasi dalam ilmu pengetahuan Barat, yang membuka peluang untuk menguji dan memperbarui teori. “Jika kalender global ini dikritik, kami terbuka. Bahkan ijtihad yang salah pun mendapat pahala,” ujarnya, mengutip prinsip bahwa ijtihad adalah kunci peradaban Islam. Haedar berharap kalender ini tidak hanya menjadi milik Muhammadiyah, tetapi milik umat Islam secara keseluruhan. “Hilangkan nama Muhammadiyah jika perlu, yang penting kita bersatu untuk satu kalender global,” katanya. Ia juga menyoroti kebutuhan generasi milenial dan Gen Z akan kepastian kalender, serupa dengan kalender Masehi yang telah mapan, seperti perayaan Natal yang selalu jatuh pada 25 Desember di seluruh dunia. Meski tantangan masih besar, Haedar optimistis bahwa dengan dialog, musyawarah, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kalender hijriah global tunggal dapat terwujud. “Jika tidak sekarang, mungkin 25, 50, atau 100 tahun ke depan. Tapi jangan terlalu lama, karena generasi muda menanti,” pungkasnya. Sumber: muhammadiyah.or.id/2025/06/haedar… #SaatnyaKalenderHijriahGlobalTunggal #SiapLebihAwal #Muhammadiyah
Indonesia
89
1K
3K
94K