Dokter Tifa@DokterTifa
Foto ini berbicara lebih jernih daripada ribuan tuduhan.
Tiga orang duduk dalam suasana hangat, sederhana, dengan meja penuh hidangan rumahan, tidak ada gestur yang menunjukkan apa pun selain pertemuan penuh keakraban intelektual.
Inilah realitas. Selebihnya adalah fantasi yang dipaksakan.
Ketika si sinting FA memilih jalur fitnah murahan, publik bisa membandingkan langsung dengan fakta visual seperti ini: tidak ada yang disembunyikan, tidak ada yang janggal. Kami bertiga terlibat dalam ruang dialog, silaturahmi, dan pertukaran gagasan, sungguhpun berada dalam ekosistem yang berbeda. Yang menyatukan saya, Rocky, dan Faldo adalah: kami sama-sama berjaket kuning, warga Makara UI.
Catatan kami, cara murahan yang dilakukan FA sama sekali tidak mencerminkan kualitas kader atau circle Joko Widodo, Kita bisa melihat contoh seperti Faldo Maldini, figur muda yang dikenal karena cara komunikasinya yang argumentatif, terukur, dan berbasis data.
Faldo tidak dikenal memainkan isu personal atau menyerang kehormatan orang. Ia berdiri di jalur rasional, bukan sensasional.
Ini penting!
Publik Indonesia sedang bergerak naik kelas. Mereka tidak lagi mudah digiring oleh isu-isu rendah. Mereka menghargai debat gagasan, bukan gosip murahan.
Dan anak-anak muda terdidik untuk tampil dengan logika, data, dan keberanian berargumentasi secara terbuka.
Karena itu, apa yang dilakukan FA bukan hanya serangan terhadap individu, tetapi juga kontradiksi terhadap standar komunikasi politik yang mulai dibangun oleh generasi baru.
Alih-alih menguatkan posisi siapa pun, cara rendahan seperti FA justru memperlihatkan jurang kualitas, antara mereka yang bermain di level gagasan, dan mereka yang terjebak di level sensasi.
Seberapapun besar perbedaan pandangan saya dengan Pak Jokowi, hingga menimbulkan konflik tajam, adalah karena beliau pejabat publik dan saya warga negara yang menggunakan hak konstitusional saya.
Namun saya yakin beliau tidak akan menggunakan cara-cara murahan seperti yang dilakukan FA, apalagi memerintahkannya.