Selfish Gene

4.7K posts

Selfish Gene banner
Selfish Gene

Selfish Gene

@C4usaPrima

Indonesia Katılım Mart 2011
535 Takip Edilen181 Takipçiler
Mira
Mira@miradreaamy·
bunu çözersen, sen bir dahisin. Patrick'in kilosu nedir?
Mira tweet media
Türkçe
25.3K
410
12.6K
5.2M
Pandu Widyanto
Pandu Widyanto@panduwidyanto·
@gandjar_bondan Dalam kondisi khusus spy tdk ada konflik kepentingan apa "memungkinkan" kasus FA ini dilimpahkan ke KPK? *BukanOrangHukum
Blimbing, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
1
0
0
318
Gandjar Bondan
Gandjar Bondan@gandjar_bondan·
Penyidikannya dilimpahkan ke Kejaksaan. Semoga tidak menjadi Pinangki Jilid II. Ternyata masih pada takut sama Kantor Perwakilan Kuningan. Takut jadi bola liar karena suka nggak berkoordinasi.
Gandjar Bondan@gandjar_bondan

Ini era dimana menjerat pejabat harus dapet restu bos besar dulu, biar dicopot atau mundur dulu, baru deh diproses. No restu, no proses. Makanya banyak yang lolos meski namanya santer disebut di persidangan. Tapi ada yang bandel. 2 kali dapet wamen. Paham kamu, bambaaang...?

Indonesia
3
22
57
4.4K
Selfish Gene
Selfish Gene@C4usaPrima·
@thoriqatuna ahmaq memang, mereka gak ngerti apa lansia2 itu korban sistem,
Indonesia
0
0
0
65
Ahmad Zakaria
Ahmad Zakaria@za_ka·
@C4usaPrima @ojkindonesia Agak beda kasusnya..kalau melihat RANS, mereka sudah sampai tahap pernyataan pendaftaran dan mungkin sebentar lagi akan mengumumkan prospektus awal.
Indonesia
1
0
0
75
Selfish Gene
Selfish Gene@C4usaPrima·
@mfatahilahakbar kalo bentuknya keperdataan sengketa perjanjian mungkin melihat locus penandatanganannya, dan klausul penyelesaian sengketa mau di wilayah hukum mana🤷🏻 nah kalo locus delicti pidananya di alun2 purwokerto ini agak lucu wkwkw
Indonesia
0
0
3
1.2K
M. Fatahillah Akbar
M. Fatahillah Akbar@mfatahilahakbar·
Lagi ad agenda Purwokerto. Unik jg ya. Purwokerto itu bukan Kabupaten / kota. Bahkan tdk ada nama kecamatan Purwokerto tok. Ini alun2 pun Purwokerto Timur ya di Kabupaten Banyumas. Uniknya ada PN Purwokerto, ada PN Banyumas. Begitu juga Kejari nya. Lalu bagaimana menentukan wilayah hukumnya? Nah coba yang memahami daerah ini bisa memberikan pencerahan
M. Fatahillah Akbar tweet mediaM. Fatahillah Akbar tweet mediaM. Fatahillah Akbar tweet mediaM. Fatahillah Akbar tweet media
Indonesia
19
34
283
29.7K
Selfish Gene retweetledi
Vincent Ricardo (柯仙森)
Vincent Ricardo (柯仙森)@vincentrcrd·
Output dari kebijakan Nadiem jelek? Kiranya kita bisa setuju. Kebijakan dengan output jelek itu diframing sebagai kejahatan kerah putih? Ini namanya framing untuk kriminalisasi kebijakan. Kalau semua output kebijakan yang dianggap jelek ini diframing sebagai kejahatan dan dikriminalisasi, ini ngasih disinsentif ke decision makers untuk buat keputusan dan jadi preseden buruk buat semua. Gak semua kebijakan yang disusun dengan baik outputnya akan baik. Gak jarang juga kebijakan yang disusun jelek malah berujung baik dalam jangka pendek karena faktor keberuntungan. White collar crime itu harus dibuktikan melalui niat jahat dan bukti adanya hubungan antara quid pro quo dengan illicit enrichment. Dalam konteks korupsi harus ada fraudulent intent dari pelaku untuk memperkaya diri. Sejauh ini jelas gak ada bukti dua hal ini baik di Nadiem maupun Ibam. Di negara lain, konsep illicit enrichment gak kaya di Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 UU Tipikor yang karet. Cuman di Indonesia kayanya unsur melawan hukum dan memperkaya diri atau orang lain/suatu korporasinya gak nyambung. Pelanggaran hukum administrasi dianggap bukti dari illiit enrichment? Lihat aja di UNCAC mana ada konsep korupsi kaya pasal jelek begini. Kurang-kurangi lah berbicara sesuatu yang anda gak mengerti bung Zanatul. Salam buat pakarnya pakar si Fajar Trio sahabat Jaksapedia ya.
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91

Apa kalian lupa ya, betapa besarnya serangan terhadap guru, agar kita menerima tunjangan profesi guru dihapuskan (Draf RUU Sisdiknas 2022) pada era merdeka belajar 2019-2024? Saat itu, paradigma yang dipakai khas sri mulyani, dan world bank, bahwa guru butuh lebih banyak pelatihan sambil menutup mata pada kesejahteraan, sehingga 3 Triliun untuk program Guru Penggerak dianggap lebih prioritas daripada PPG yang hanya ratusan miliar rupiah. Mereka selalu memalingkan muka ketika diminta apakah mereka mau menjamin kesejahteraan guru. Tahun 2024, ketika sadar merdeka belajar akan karam, dibuat berbagai laporan yang menunjukan keberhasilan program-program merdeka belajar. Mereka tidak segan untuk mengundang lembaga internasional untuk ikut memuji. Bahkan sebagai penebusan dosa, mereka melakukan apa yang "seharusnya." PPG diperbesar dan dipercepat. PMM tidak diwajibkan, dan lain seterusnya. Supaya ada dukungan program dilanjutkan. Namun ada juga upaya-upaya terselubung untuk mempertahankan program yang ada. Misal menyisipkan program merdeka belajar dalam peta jalan pendidikan. Hal-hal semacam itu membuktikan bahwa program merdeka belajar lebih peduli pada reputasi programnya, ketimbang dampaknya terhadap pendidikan kita. Disini patut dipertanyakan, jika merdeka belajar adalah kontribusi terhadap pendidikan, kenapa begitu khawatir jika orang-orang menyadari masalah dari program ini? Artinya ada sasaran lebih besar dari program ini sehingga perlu menjaga reputasinya meski ganti menteri. Sebab sejak awal, mereka sudah merasa benar atas asumsinya bahwa TPG terlalu besar untuk guru. Mereka tidak mementingkan bahwa TPG bagi beberapa guru di daerah, honorer, guru swasta, adalah pertahanan terakhir supaya bisa mendapatkan gaji layak. Pertanyaannya apa dampak pelatihan guru pada era merdeka belajar terhadap kualitas pendidikan kita? Sampai saat ini yang dilaporkan hanya jumlah akses platform, konten, atraksi panen guru penggerak, hastag, testimoni-testimoni terpilih dan lain seterusnya. Jika anda rajin-rajin melihat jejak digital, ada beberapa lembaga pelatihan yang sangat terafiliasi dengan aktor merdeka belajar. Kampanye mereka begitu halus, tapi cara menyedot anggaran pendidikan begitu kasar. Kalau anda perhatikan, inilah puncak ketika guru yang ditampilkan oleh keberhasilan merdeka belajar selalu 4L, lu lagi, lu lagi. Tapi yang jelas saat ini guru yang sudah terlanjur terjebak dalam arus membuat konten, tidak dapat menghentikan dirinya, dan melupakan tugas utamanya dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas mengajar mereka. Guru/pengawas yang membuat konten ketika TKA, hanya satu fenomena dari gunung es. Dapatkah mereka dimintai pertanggung jawaban? Sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh persidangan namun dampaknya lebih buruk bagi pendidikan kita. Pada titik ini, saya melihat guru diperas dalam skala pendanaan internasional, kebijakan nasional,dan individual; di era merdeka belajar, jaringan pelatihan ini juga tidak segan memanfaatkan kepanikan guru atas perubahan kebijakan, melalui keistimewaan bahwa mereka terlibat dalam pembuatan kebijakan tersebut. Inilah kejahatan kerah putih melalui "pelatihan guru." Kasus korupsi Chromebook, hanya bisa menangkap bagian kecilnya saja. Tapi sesungguhnya sangat bisa ditelusuri. Google, tidak sendiri.

Indonesia
25
76
316
91K
Selfish Gene retweetledi
Giri Kuncoro
Giri Kuncoro@girikuncoro·
Pak @zanatul_91, saya setuju soal masalah literasi dan numerasi dasar anak Indonesia saat ini sangat parah. Tapi soal penyebab utamanya, data World Bank agak beda (paper terlampir di akhir reply saya ini). Menurut laporan mereka, kehilangan pembelajaran terbesar justru datang dari penutupan sekolah karena COVID-19 (Maret 2020 hingga 2022). Estimasi kerugiannya 0,9-1,2 tahun Learning Adjusted Years of Schooling (LAYS). Skor PISA setara membaca turun sekitar 25 poin. Sebelum pandemi pun Indonesia sudah tertinggal (53% learning poverty), dan penutupan sekolah yang panjang plus pembelajaran jarak jauh yang hanya efektif 10-40% makin memperburuk keadaan (terutama di daerah rural dan keluarga berpenghasilan rendah). Merdeka Belajar / Kurikulum Merdeka justru disebut World Bank sebagai bagian dari upaya pemulihan: penyederhanaan kurikulum saat pandemi, asesmen nasional literasi-numerasi mulai 2021, program pengembangan guru, platform Rumah Belajar, serta dorongan hybrid learning. Bukan sebagai biang keladi kerusakan. Referensi: documents1.worldbank.org/curated/en/589… documents.worldbank.org/en/publication…
Indonesia
11
51
234
35K
Selfish Gene retweetledi
Vincent Ricardo (柯仙森)
Vincent Ricardo (柯仙森)@vincentrcrd·
Jujur saya sudah mulai jenuh, muak, dan jijik dengan FENOMENA PERADILAN SESAT (miscarriages of justice) yang berulang kali terjadi dalam penegakan kasus tindak pidana korupsi. Sudah berkali-kali saya menulis dan berteriak untuk kasus Tom Lembong hingga kasus hari ini yaitu kriminalisasi Ibrahim Arief (Ibam). Kejanggalan dalam penegakan tindak pidana korupsi ini pun sudah menjadi semacam konsensus di antara pakar hukum pidana. Bahkan, dalam konteks kasus Ibam, pakar hukum pidana dari UI, UGM, hingga PTIK pun sepakat betapa janggalnya proses peradilan yang menimpa Ibam. (Baca di sini: nasional.sindonews.com/read/1705547/1…) Bukannya fokus pada pembuktian di peradilan seperti pembuktian pemenuhan unsur-unsur (bestaandel) dari Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU Tipikor yang didakwakan pada Ibam (yang nyata-nyatanya belum terbukti secara sah dan meyakinkan di pengadilan), malah yang dilakukan oleh Jaksapedia dan gerombolannya adalah mendemonisasi Ibam. Demonisasi terdakwa kasus korupsi yang berulang-ulang kali terjadi dan menimpa Ibam ini (viral-based prosecution) mengingatkan saya pada literatur klasik dari Albert Camus, yakni L’Etranger (Orang Asing), sebuah buku yang bercerita tentang kisah Mearsault yang dihukum mati karena melakukan pembelaan diri dari serangan benda tajam. Ada banyak perbedaan antara kasus Ibam dan kisah Mearsault, namun setidak-tidaknya ada satu kemiripan yakni, dalam kisah Mearsault, Jaksa yang menuntut Mearsault tidak berfokus membuktikan kejahatan yang ia lakukan maupun mens rea (niat jahat), tapi mereka berfokus mendemonisasi sifat maupun perilaku Mearsault yang tidak ada hubungannya dengan perkaranya demi mendapatkan justifikasi moral untuk menjatuhi hukuman seberat-beratnya. Ini persis dengan yang Ibam alami setahun terakhir. Karena JPU belum bisa membuktikan tuduhan dalam ruang persidangan secara sah dan meyakinkan, belakangan malah saya lihat demonisasi dimulai dengan Ibam dicap sombong, defensif, dan sebagainya. Padahal dalam kultur yang menjunjung tinggi kesetaraan, respon-respon mas Ibam selama ini sudah kelewat sopan. Ditambah lagi, apa relevansinya sifat seseorang terhadap penjatuhan sanksi pidana korupsi? Apakah suatu hari saya dan anda semua juga akan dipidana bukan karena kejahatan yang saya lakukan, tapi karena sifat saya yang dicap arogan? Apakah ini arah penegakan hukum pidana yang kita kehendaki di masa depan? Kurang terang apalagi bukti bahwa setidak-tidaknya ada 3 masukan Ibam yang ditolak: 1) Rekomendasi untuk gabungan antara chromebook dan windows. Yang akhirnya pejabat pengadaan pilih 100% Chromebook; 2) Rekomendasi mas Ibam untuk lakukan RFI/RFQ yang dilewatkan begitu saja oleh pejabat pengadaan; 3) Spesifikasi chromebook yang diambil pejabat pengadaan tidak sama dengan yang Ibam rekomendasikan. Saya gak mengerti di bagian mana mas Ibam ini sangat powerful? Powerful kok gak didengerin? Kita semua bisa sepakat kalau sistem ekonomi kita hari-hari ini belum menyejahterakan banyak kelompok, dan belum bisa menyelesaikan persoalan ketimpangan. Tapi kenapa kesalahan sistemik ini dilemparkan pada seorang konsultan yang tidak bisa menentukan arah masa depan negara? Konsultan mana yang memiliki wewenang untuk menentukan arah masa depan negara? Tulisan ini memang bukan dibuat untuk membahas problematika pasal karet UU Tipikor maupun teori penegakan hukum seperti apa yang saya dan rekan saya Dr. Giovanni Christy (@gvnchrsty) tulis di The Jakarta Post minggu lalu berjudul “How obscure interpretation of state losses fuels capital flight”. Di tulisan ini, saya hanya ingin mengajak kita semua untuk terus menjaga akal sehat, karena betapa menjijikkan dan rusaknya tatanan hukum kita hari-hari ini akibat segerombolan orang yang secara ugal-ugalan menjadikan hukum pidana senjata untuk menjatuhkan orang yang tidak disukai. Semoga esok hari akal sehat masih terjaga di PN Jakarta Pusat saat pembacaan putusan mas Ibam. Semoga mas Ibam, mba Ririe, dan keluarga tidak menjadi korban dari betapa busuknya sistem hukum kita yg sudah busuk dan terus membusuk.
Vincent Ricardo (柯仙森) tweet mediaVincent Ricardo (柯仙森) tweet media
Indonesia
21
393
875
43K
archeerl
archeerl@archeerl·
Cowok idaman itu punya dapoer embege. Sepakat !! sumber ig : je.k___
Indonesia
11
68
329
34.2K
Rulie Maulana
Rulie Maulana@ruliemaulana·
@mfatahilahakbar Betul secara umum. Tapi untuk aliran dana yang dibahas ini kan dinyatakan jaksa tidak jelas sumbernya. Artinya dari awal jaksa tidak spesifik menyatakan pasti terkait pengadaan chromebook. Jadi yang berkepentingan membuktikan kejelasan asal dana itu hanya terdakwa.
Indonesia
1
0
0
266
Rulie Maulana
Rulie Maulana@ruliemaulana·
Rasanya ngga. Yang paling berkepentingan membuktikan sebanyak mungkin alat bukti yang diajukan jaksa itu tidak sah kan pengacara karena hakim hanya butuh dua alat bukti yang dia yakini itu sah untuk memutuskan bersalah.
M. Fatahillah Akbar@mfatahilahakbar

Sebenernya beban pembuktian ini di Jaksa. Jaksa harus bisa membuktikan bahwa uang tersebut murni dari uang yg diambil dr pengadaan chromebook. Beban pembuktian terbalik bs jg berlaku dgn batasan pembuktian di situ. Namun klo jaksa tdk bs membuktikan hubungannya g perlu capek2.

Indonesia
3
4
4
2.9K
Selfish Gene retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Saksi Plt. Dirjen akhirnya mengakui 🚨 Beliau yang memutuskan pengadaan Chromebook tak perlu pengujian, sehingga diduga abaikan masukan Ibam. Beliau juga diduga: 1. Buat SK catut nama Ibam 2. Menugaskan kajian Chromebook 3. Menerima gratifikasi Karena ini, Ibam disalahkan 👇🏼
Indonesia
20
590
1.7K
167.4K
M. Fatahillah Akbar
M. Fatahillah Akbar@mfatahilahakbar·
Tanggal 15 April ngisi di Pupuk Kaltim Bontang. Tanggal 16 April ngisi di Pertamina Hulu Indonesia, Balikpapan. Kebetulan satu provinsi, jadi sekalian diterima deh tawarannya. Ternyata, Bontang Balikpapapan jalur darat yang menantang.. nyobain jalan Tol Samarinda-Balikpapan
M. Fatahillah Akbar tweet media
Indonesia
4
0
24
2.6K
Selfish Gene
Selfish Gene@C4usaPrima·
@za_ka @jatmikk Katakanlah isi buku diary itu si A ceritakan ke orang lain (yg bukan si B) lalu org lain tersebut tanpa persetujuan si A menceritakan ke si B, siapa yg kemudian bisa disalahkan? Purely curious,
Indonesia
1
0
1
679
Ahmad Zakaria
Ahmad Zakaria@za_ka·
Diskusi ya... Misalnya A menuliskan pemikiran dalam buku harian/note di handphone yang isinya fantasi seksualnya terhadap B. Apakah interpretasi anda di atas sudah berlaku/otomatis berlaku dalam hal ini dengan kondisi: buku harian/note di handphone A adalah ranah privat A atau bukan?
Indonesia
5
1
42
10.5K
Ahmad Zakaria
Ahmad Zakaria@za_ka·
Apakah kita bisa mempersamakan grup WA/Line/chat sebagai ruang tertutup yang privat seperti kita memperlakukan pemikiran? Pemikiran adalah ranah privat yang selama belum disampaikan ke publik atau dilaksanakan seharusnya dilindungi dari pihak mana pun termasuk tidak boleh disentuh hukum pidana. Dalam menilai suatu tindakan khususnya pidana bukan kah harusnya selalu melihat mens rea dan actus reus? Bagaimana jika keduanya hanya dilakukan di dalam pikiran atau dalam hal ini dilakukan dalam ruang tertutup/privat? Ruang tertutup/grup private dianggap reasonable expectation of privacy, forum internum, private speech, Harm Principle? Silahkan didiskusikan sehingga kita dapat melihat kasus yang ramai belakangan ini dari segala perspektif dan korban serta pelaku mendapatkan kepastian hukum yang berkeadilan.
Indonesia
152
305
1.6K
438K
Selfish Gene retweetledi
bib new edition
bib new edition@BangBib4·
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon ) Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut Saya kasih tahu sebab dan alasannya Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000, Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang) Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan. Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah. Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal. Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi Panen manual (biaya tenaga kerja). Pengemasan yang layak. Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota). Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya. Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi. Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli. Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan. Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton. Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga. Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total. Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel. Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah. Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Nakula@03__nakula

Pedagang membuang Timun ke sungai karena murah dan gak laku. Padahal kalo disumbangkan ke panti² asuhan atau pesantren pasti pada mau, gak mubazir kek gini. 🥹

Indonesia
447
5.2K
19.8K
1.3M
Selfish Gene retweetledi
Rizky Banyualam Permana
Rizky Banyualam Permana@rbpermana·
mis. dominus litis - jaksa sebagai pengendali perkara, padahal bahasa latin asalnya gak spesifik merujuk kepada jaksa cuma 'he who master/control the dispute', konteks di ius civile klasik itu merujuk ke siapapun yang menjadi penggugat
Indonesia
0
11
241
14.7K
NAN
NAN@nantaris·
@afrkml Ada, indomie dobel 😂
Italiano
7
0
226
230K
Яizal do
Яizal do@afrkml·
Jujur, ini agak ngeri sih 😰 Ada yg lebih tinggi dari ini gak??? 🫩
Яizal do tweet media
Indonesia
582
690
7.8K
4.3M
Selfish Gene
Selfish Gene@C4usaPrima·
@za_ka @RidwanRWG serius nanya bang, tapi gap itu bisa tertutupi nggak dengan pengalaman di praktik real di lapangan?
Indonesia
1
0
0
564
Ahmad Zakaria
Ahmad Zakaria@za_ka·
@RidwanRWG Sayangnya di industri saya, hal ini sama sekali tidak berlaku. Gap antara universitas top dengan yang univ biasa saja terlalu jauh. Mau ngejar pun udah kalau start dan tertinggal beberapa lap.
Indonesia
5
29
222
54.4K
Ridwan Gunawan
Ridwan Gunawan@RidwanRWG·
Pada akhirnya grit+luck saat sudah bekerja akan pelan2 menutup gap di fase awal ketertinggalan dengan lulusan top univ. Nggak yg hitam putih lulusan top univ pasti lebih sukses dunia akhirat dari non top univ.
dr. Adam Prabata@AdamPrabata

Supaya lebih objektif, yuk kita coba cek hasil penelitian tentang kuliah di Top Univ. 1. Gaji lulus Top Univ cenderung lebih besar Penelitian di Chile tahun 2020 menunjukkan bahwa lulusan dari universitas paling bergengsi terima gaji yang lebih besar 13% di tahun pertama kerja dibanding kandidat dengan kemampuan setara dari kampus kurang bergengsi. NAMUN, selisih penghasilan tersebut akan turun pada periode pengalaman kerja lebih dari 6 tahun. 2. Akses bekerja lulusan Top Univ cenderung lebih baik Studi tahun 2023 menunjukkan kuliah di Ivy League meningkatkan peluang 3 kali lebih besar untuk bekerja di perusahaan yang lebih baugs dan 50% lebih tinggi peluang masuk 1% orang-orang berpenghasilan tinggi. 3. Potensi promosi lebih cepat Studi di Jepang tahun 2016 menunjukkan bahwa karyawan dari universitas bergengsi dipromosikan lebih cepat karena cenderung mendapat evaluasi performa lebih tinggi. Namun yang perlu diperhatikan adalah mereka yang duduk di posisi lebih tinggi tidak selalu berasal dari kampus yang lebih bergengsi. Pandangan gue: Jadi dari penelitian-penelitian di atas, kuliah di Top Univ itu merupakan keuntungan tersendiri, terutama di fase awal karir. Namun, tetap di akhirnya yang berperan adalah performa dan kemampuan kita, terutama pada kondisi sudah ada pengalaman kerja. Semoga bermanfaat!

Indonesia
6
88
741
30.8K
8
8@feliciatheduck_·
@za_ka @RidwanRWG define fakultas hukum top, sir
Indonesia
1
1
0
2.9K