Selfish Gene
4.7K posts




Ini era dimana menjerat pejabat harus dapet restu bos besar dulu, biar dicopot atau mundur dulu, baru deh diproses. No restu, no proses. Makanya banyak yang lolos meski namanya santer disebut di persidangan. Tapi ada yang bandel. 2 kali dapet wamen. Paham kamu, bambaaang...?


Ketua KBHIU : "Jemaah haji lansia itu merepotkan kami"


Arief Muhammad baru aja posting foto di Instagram dengan berikan kode dari captionnya "Bismillah 📈 #NSPD" Apakah Padang Payukumbuah bakalan IPO? 👀







Apa kalian lupa ya, betapa besarnya serangan terhadap guru, agar kita menerima tunjangan profesi guru dihapuskan (Draf RUU Sisdiknas 2022) pada era merdeka belajar 2019-2024? Saat itu, paradigma yang dipakai khas sri mulyani, dan world bank, bahwa guru butuh lebih banyak pelatihan sambil menutup mata pada kesejahteraan, sehingga 3 Triliun untuk program Guru Penggerak dianggap lebih prioritas daripada PPG yang hanya ratusan miliar rupiah. Mereka selalu memalingkan muka ketika diminta apakah mereka mau menjamin kesejahteraan guru. Tahun 2024, ketika sadar merdeka belajar akan karam, dibuat berbagai laporan yang menunjukan keberhasilan program-program merdeka belajar. Mereka tidak segan untuk mengundang lembaga internasional untuk ikut memuji. Bahkan sebagai penebusan dosa, mereka melakukan apa yang "seharusnya." PPG diperbesar dan dipercepat. PMM tidak diwajibkan, dan lain seterusnya. Supaya ada dukungan program dilanjutkan. Namun ada juga upaya-upaya terselubung untuk mempertahankan program yang ada. Misal menyisipkan program merdeka belajar dalam peta jalan pendidikan. Hal-hal semacam itu membuktikan bahwa program merdeka belajar lebih peduli pada reputasi programnya, ketimbang dampaknya terhadap pendidikan kita. Disini patut dipertanyakan, jika merdeka belajar adalah kontribusi terhadap pendidikan, kenapa begitu khawatir jika orang-orang menyadari masalah dari program ini? Artinya ada sasaran lebih besar dari program ini sehingga perlu menjaga reputasinya meski ganti menteri. Sebab sejak awal, mereka sudah merasa benar atas asumsinya bahwa TPG terlalu besar untuk guru. Mereka tidak mementingkan bahwa TPG bagi beberapa guru di daerah, honorer, guru swasta, adalah pertahanan terakhir supaya bisa mendapatkan gaji layak. Pertanyaannya apa dampak pelatihan guru pada era merdeka belajar terhadap kualitas pendidikan kita? Sampai saat ini yang dilaporkan hanya jumlah akses platform, konten, atraksi panen guru penggerak, hastag, testimoni-testimoni terpilih dan lain seterusnya. Jika anda rajin-rajin melihat jejak digital, ada beberapa lembaga pelatihan yang sangat terafiliasi dengan aktor merdeka belajar. Kampanye mereka begitu halus, tapi cara menyedot anggaran pendidikan begitu kasar. Kalau anda perhatikan, inilah puncak ketika guru yang ditampilkan oleh keberhasilan merdeka belajar selalu 4L, lu lagi, lu lagi. Tapi yang jelas saat ini guru yang sudah terlanjur terjebak dalam arus membuat konten, tidak dapat menghentikan dirinya, dan melupakan tugas utamanya dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas mengajar mereka. Guru/pengawas yang membuat konten ketika TKA, hanya satu fenomena dari gunung es. Dapatkah mereka dimintai pertanggung jawaban? Sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh persidangan namun dampaknya lebih buruk bagi pendidikan kita. Pada titik ini, saya melihat guru diperas dalam skala pendanaan internasional, kebijakan nasional,dan individual; di era merdeka belajar, jaringan pelatihan ini juga tidak segan memanfaatkan kepanikan guru atas perubahan kebijakan, melalui keistimewaan bahwa mereka terlibat dalam pembuatan kebijakan tersebut. Inilah kejahatan kerah putih melalui "pelatihan guru." Kasus korupsi Chromebook, hanya bisa menangkap bagian kecilnya saja. Tapi sesungguhnya sangat bisa ditelusuri. Google, tidak sendiri.







Sebenernya beban pembuktian ini di Jaksa. Jaksa harus bisa membuktikan bahwa uang tersebut murni dari uang yg diambil dr pengadaan chromebook. Beban pembuktian terbalik bs jg berlaku dgn batasan pembuktian di situ. Namun klo jaksa tdk bs membuktikan hubungannya g perlu capek2.



Pedagang membuang Timun ke sungai karena murah dan gak laku. Padahal kalo disumbangkan ke panti² asuhan atau pesantren pasti pada mau, gak mubazir kek gini. 🥹



Supaya lebih objektif, yuk kita coba cek hasil penelitian tentang kuliah di Top Univ. 1. Gaji lulus Top Univ cenderung lebih besar Penelitian di Chile tahun 2020 menunjukkan bahwa lulusan dari universitas paling bergengsi terima gaji yang lebih besar 13% di tahun pertama kerja dibanding kandidat dengan kemampuan setara dari kampus kurang bergengsi. NAMUN, selisih penghasilan tersebut akan turun pada periode pengalaman kerja lebih dari 6 tahun. 2. Akses bekerja lulusan Top Univ cenderung lebih baik Studi tahun 2023 menunjukkan kuliah di Ivy League meningkatkan peluang 3 kali lebih besar untuk bekerja di perusahaan yang lebih baugs dan 50% lebih tinggi peluang masuk 1% orang-orang berpenghasilan tinggi. 3. Potensi promosi lebih cepat Studi di Jepang tahun 2016 menunjukkan bahwa karyawan dari universitas bergengsi dipromosikan lebih cepat karena cenderung mendapat evaluasi performa lebih tinggi. Namun yang perlu diperhatikan adalah mereka yang duduk di posisi lebih tinggi tidak selalu berasal dari kampus yang lebih bergengsi. Pandangan gue: Jadi dari penelitian-penelitian di atas, kuliah di Top Univ itu merupakan keuntungan tersendiri, terutama di fase awal karir. Namun, tetap di akhirnya yang berperan adalah performa dan kemampuan kita, terutama pada kondisi sudah ada pengalaman kerja. Semoga bermanfaat!










