Sabitlenmiş Tweet
cieL
393 posts


@beautales_ ada juga kak salah satu dari kating nya pake tanktop pas setan ber 16 itu klarif, terus ada yang komen nyalahin baju kating nya padahal disitu aku liat kakaknya nangis sedih banget :(
Indonesia

@beautales_ hah? bagian nge expose badan nya dimana anjr? pakaian nya normal. celana panjang, kaos EMANG MEREKA AJA YANG OTAK NYA GA BENER ANJR
Indonesia
cieL retweetledi
cieL retweetledi

@CYAN1DEALMOND Lu percaya nggak kalau sebagian besar pelaku KS di real life itu emang bakal dibela keluarganya termasuk ibunya? Mereka bakal berdalih itu bukan masalah besar. Ini kenyataan kok, nggak semua ortu bisa mikir. Sosok ibu pun kadang cuma tahu cara merajakan anak laki-laki nya.
Indonesia
cieL retweetledi

@sandiwarasemu serem nya ada yang "apalah kan cuman ai" THATS RIGHT KARNA ITU AI GA ADA ORANG YANG AMAN, walau emang itu bukan tubuh asli melainkan generate dari AI nya tapi itu pake muka kita anjr, sama aja fantasi mereka terpenuhi, rotten in hell deh pelaku dll
Indonesia
cieL retweetledi
cieL retweetledi

@awaaannnn__ i thought orang yang berpendidikan ga SERENDAH itu tapi ini juga ngasih pelajaran kalo latar pendidikan, pekerjaan, dan keluarga ga mencerminkan siapa dia, tapi yaa.. orang berpendidikan aja kaya gitu apalagi yang ngga coba? i mean tukang yang suka cat calling di jalan 🥲
Indonesia
cieL retweetledi

“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.


Indonesia


















