
Agus Capucho
9.3K posts












🚨🚨 EXCLUSIVE: ARNE SLOT AND LIVERPOOL TO PART WAYS WITH IMMEDIATE EFFECT. 💣 It’s over between the Dutch manager and Liverpool after end of the season review. 👋🏼 Andoni Iraola, clear favorite to take over as next #LFC head coach.

🚨🚨 EXCLUSIVE: ARNE SLOT AND LIVERPOOL TO PART WAYS WITH IMMEDIATE EFFECT. 💣 It’s over between the Dutch manager and Liverpool after end of the season review. 👋🏼 Andoni Iraola, clear favorite to take over as next #LFC head coach.





Kiandra Ramadhipa bakal start dari P4 di Red Bull MotoGP Rookies Cup Mugello 💪🇮🇩




Romelu Lukaku… Striker yang Tidak Pernah Dianggap Cukup di Manchester United Musim panas 2017, Manchester United sedang mencari satu hal yang sudah lama hilang sejak era Robin van Persie berakhir. Seorang striker utama. Bukan wonderkid. Bukan proyek jangka panjang. Tapi mesin gol yang sudah terbukti di Premier League. Dan José Mourinho langsung tahu siapa yang dia mau. ROMELU LUKAKU. United bergerak cepat. Sekitar £75 juta dibayarkan ke Everton F.C. sebelum Chelsea F.C. sempat menyelesaikan negosiasi mereka. Transfer itu terasa masuk akal. Karena sebelum usia 24 tahun, Lukaku sudah menjadi salah satu striker paling produktif di Inggris. Golnya konsisten setiap musim. Fisiknya besar. Cepat saat sprint. Sulit dijatuhkan. Dan yang paling penting… dia tahu cara mencetak gol. Awalnya semuanya berjalan sempurna. Dalam 10 pertandingan pertama bersama United… Lukaku mencetak 11 gol. Old Trafford mulai percaya mereka akhirnya menemukan striker yang bisa memimpin lini depan selama bertahun-tahun. Tapi masalah mulai muncul saat ekspektasi berubah. Di Manchester United, menjadi striker tidak cukup hanya soal gol. Lo juga harus terlihat spesial. Dan di situlah Lukaku mulai kehilangan publik. Sentuhan pertamanya mulai dijadikan meme. Setiap kontrol bola gagal langsung viral. Bahkan ada pertandingan di mana dia mencetak gol… tapi tetap jadi bahan ejekan setelah laga selesai. Yang paling aneh adalah: semakin banyak dia mencetak gol… semakin sedikit orang menghargainya. Padahal statistiknya tidak buruk sama sekali. Musim debut: 27 gol di semua kompetisi Total dua musim: 42 gol 13 assist Dia bahkan membantu United finis posisi dua Premier League musim 2017/18. Peringkat terbaik klub sejak pensiunnya Alex Ferguson saat itu. Tapi tetap saja… rasanya tidak pernah cukup. Karena setiap kali Lukaku gagal mengontrol bola… semua gol sebelumnya seperti hilang. Dan makin lama, tekanan itu mulai terlihat mempengaruhi dirinya. Berat badannya dibahas terus. Gerak tubuhnya dikritik. Bahasa tubuhnya mulai terlihat frustrasi. Lalu datang Ole Gunnar Solskjær. Dan perlahan semuanya berubah. Ole ingin lini depan yang: cepat fleksibel agresif dalam transisi Dan Lukaku mulai merasa dirinya bukan lagi bagian utama dari proyek itu. Musim panas 2019, dia dijual ke Inter Milan. Dan ironisnya… baru setelah pergi, banyak orang sadar seberapa produktif dia sebenarnya. Di Italia, Lukaku langsung meledak. Bersama Antonio Conte: dia kembali tajam lebih percaya diri dan terlihat seperti striker elite lagi Bahkan akhirnya membawa Inter juara Serie A dan menghentikan dominasi panjang Juventus. Dan di situlah cerita Lukaku di Manchester United terasa aneh. Karena kalau melihat angka… dia tidak gagal. Tapi sepak bola kadang bukan soal angka. Kadang soal perasaan. Dan entah kenapa… meski terus mencetak gol, Romelu Lukaku tidak pernah benar-benar membuat Old Trafford jatuh cinta padanya. Menurut kalian… Romelu Lukaku memang gagal di Manchester United, atau fans terlalu keras menilainya?










