Caelum

14.7K posts

Caelum banner
Caelum

Caelum

@DROlTURE

Hanya diperuntukkan untuk rakyat—manusia yang tertindas, terhempas, dan dikuliti kewarasannya sampai habis. #9080BOOKSREAD | Zionist & Minor DNI.

Katılım Kasım 2013
344 Takip Edilen377 Takipçiler
Caelum retweetledi
Humanies Project
Humanies Project@humaniesproject·
Aceh masih belum pulih 🥺
Indonesia
3
1.2K
2.3K
49.6K
Caelum retweetledi
Alvino Kusumabrata
Alvino Kusumabrata@ARKusumabrata·
Ini detail kecil, edisi Seabad Pram saja masih pake kerangka G30S PKI. Walau sederhana, harusnya penerbit sadar dengan pembubuhan "PKI" turut membenarkan narasi impunitas Harto: Seakan mereka yang PKI pantas dibunuh. Mereka yang di-Buru-kan pantas dibuang, seperti Pram sendiri
Alvino Kusumabrata tweet media
Seno GP@senogp

Ternyata selain kualitas cover yg jelek di buku Tetralogi Buru edisi Seabad Pram, banyak yg ga suka dengan desain covernya dan harga terlampau mahal dengan kualitas cover seperti itu. Seharusnya lempar pilihan beberapa jenis cover dulu ya seperti penerbit2 lainnya. 🤔

Indonesia
2
122
489
16.7K
Caelum
Caelum@DROlTURE·
I can't believe, but ENHYPEN always and forever seven.
English
0
0
0
48
Caelum retweetledi
Federasi Serikat Merdeka Sejahtera 🍉
THR bukan "kebaikan hati" bos, itu hak normatif buruh. Kalau perusahaanmu mulai banyak alasan, jangan diam. LBH Semesta buka Posko Pengaduan THR. Datang & adukan! 📍 Sekre LBH Semesta ⏰ 09.00-15.00
Federasi Serikat Merdeka Sejahtera 🍉 tweet media
Indonesia
1
268
442
17K
Caelum retweetledi
SAFEnet | Southeast Asia Freedom of Expression Net
Beberapa tahun terakhir, berbagai penggunaan instrumen hukum, pendekatan keamanan, dan praktik sensor telah membatasi ruang ekspresi, tidak terkecuali dalam ruang seni seperti musik. “Kebebasan Berekspresi sebagai Ruang Perlawanan: Peran Orang Muda dalam Menjaga Demokrasi” kini hadir sebagai bagian dari rangkaian Diskusi Orang Muda tentang Hak-Hak Digital 2026. Dengan acara ini, kami hendak menyediakan ruang belajar dan refleksi kritis mengenai kebebasan berekspresi di ruang digital. Diskusi ini akan diawali dengan pengantar mengenai hak digital dan kebebasan berekspresi bersama SAFEnet, kemudian dilanjutkan dengan diskusi “Bunyi-bunyian Melawan Leviathan”, yang membahas praktik produksi musik, sensor, serta strategi kolektif dalam merawat karya di tengah tekanan negara. 🏴‍☠️😎
SAFEnet | Southeast Asia Freedom of Expression Net tweet mediaSAFEnet | Southeast Asia Freedom of Expression Net tweet mediaSAFEnet | Southeast Asia Freedom of Expression Net tweet media
Indonesia
1
53
88
8K
Caelum retweetledi
Humanies Project
Humanies Project@humaniesproject·
Lebaran Manies hadir kembali, catat tanggal nya jangan sampai terlewat yak💙 Mari teruskan kebaikan bersama melalui: bit.ly/RamadhanHumani…
Humanies Project tweet mediaHumanies Project tweet mediaHumanies Project tweet mediaHumanies Project tweet media
Indonesia
5
154
395
40.4K
Caelum retweetledi
Caelum
Caelum@DROlTURE·
tapi diterima—menjadi manusia, anak pertama, dan perempuan. tapi diterima.
Caelum tweet mediaCaelum tweet mediaCaelum tweet mediaCaelum tweet media
Indonesia
1
626
1.9K
39.6K
Caelum
Caelum@DROlTURE·
Apakah ada yang masih bangun? Ada yang jual prime video gak? #zonauang
Indonesia
40
0
0
295
Caelum retweetledi
Logos ID
Logos ID@logos_id·
19 Tahun Aksi Kamisan Sampai bertemu di depan Istana Merdeka ✊
Logos ID tweet media
Indonesia
17
671
2.4K
30.2K
Caelum
Caelum@DROlTURE·
Belajar bareng lagi yuk temen-temen. Bisa lewat zoom bahkan offline jugaa! Daftar disini yaa. s.id/Mimbar-Demokra…
Caelum tweet media
Indonesia
0
1
6
4.5K
Caelum retweetledi
Oni Suryaman
Oni Suryaman@OniSuryaman·
Lagi-lagi soal Kapitil Saya nulis ini sebenarnya sambil agak emosi (akan saya jelaskan). Kok bisa2nya entri kata seperti "kapitil" masuk KBBI. Di lain pihak, ini sebenarnya tidak mengejutkan karena dalam beberapa tahun terakhir ini KBBI mulai sembarangan memasukkan kata ke dalam KBBI, mungkin karena mengejar target. Semuanya ini dimulai karena nafsu mengejar jumlah kosa kata supaya "bisa disejajarkan" dengan bahasa-bahasa besar di dunia. LIhat: badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/berita-detail/… Tahun 2024 mereka ditarget untuk menambah 80.000 lema, mengejar target 200.000 lema. Saya kira target ini bisa jadi dijadikan semacam KPI bagi Badan Bahasa yang mengampu KBBI. Jadilah segala macam kata hantu belau dimasukkan ke dalam KBBI, termasuk yang terakhir ini: kapitil. Bagaimana sesungguhnya sebuah kata bisa masuk KBBI? Mengacu pada sebuah artikel yang ditulis oleh Badan Bahasa sendiri (badanbahasa.kemendikdasmen.go.id/artikel-detail…), syaratnya ada lima. Mari kita lihat satu per satu. 1. Unik. Belum memiliki makna dalam bahasa Indonesia. Oke, boleh, dengan syarat jangan ngarang, dan jangan maksa. Kita sudah punya lema kapital untuk huruf besar, dan nonkapital untuk huruf kecil, ada juga onderkas, mungkin mirip seperti lowercase, sebuah kata lama peninggalan dari Belanda. Jadi, apakah kita butuh kapitil? Tidak. 2. Eufonik. Enak didengar. Ini keluhan yang paling banyak saya dengar saat orang berkomentar tentang kapitil. Apaan tuh? Kok bunyinya seperti ... (you know what I mean). Jadi syarat ini udah jelas-jelas dilanggar. 3. Seturut kaidah bahasa Indonesia dalam pembentukan kata. Saya pikir syarat ini kurang relevan 4. Tidak berkonotasi negatif. Lah, justru ini yang paling parah. Soalnya mirip dengan .... (you know what I mean) 5. Kerap dipakai. Memang, untuk membela diri, Badan Bahasa memasukkan entri kapitil sebagai ragam cakap, alias nonformal. Pertanyaan saya, dalam percakapan di mana muncul kata kapitil ini? Perasaan gak pernah dengar dan lihat. Ternyata jawabannya ada di sebuah artikel di detik: detik.com/edu/detikpedia… Kata ini berasal dari joke internal di Badan Bahasa. What?Joke internal boleh dimasukin kamus? Kalau begitu kenapa lema anjir, jancuk, dan cabe-cabean yang bahkan pemakaiannya jauh lebih luas tidak dimasukkan? Karena belum diusulkan masyarakat? Jawaban macam apa itu. Ini hanya menunjukkan satu hal. Badan Bahasa memegang cek kosong untuk memasukkan kata ke dalam KBBI secara semena-mena. Mereka bahkan melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Bayangkan, joke internal kantor, yang tidak dikenal masyarakat luas bisa masuk kamus. Saya menyebutnya dengan istilah otoritarianisme bahasa, atau fasisme bahasa (grammar nazi, everyone). Sebagai penutup, saya mau cerita sedikit. Saya dulu pernah bersurat kepada redaktur KBBI perkara lema "batalion". Menurut saya, seharusnya yang masuk kamus itu adalah "batalyon", seperti yang umum dipakai oleh TNI. Kok KBBI tidak mengikuti pemakaian umum melainkan ngarang sendiri. Surat saya dijawab sederhana: bentuk bakunya adalah "batalion", tanpa membuka ruang diskusi. Kalau bukan fasis, apalagi namanya. (Update terakhir, kata "batalyon" dimasukkan sebagai varian dari "batalion") Bahasa adalah milik bangsa, milik pemakainya, bukan milik Badan Bahasa. Dengan memasukkan entri secara serampangan, Badan Bahasa sesungguh sudah merusak bahasa Indonesia. Ingat, "Bahasa Mencerminkan Bangsa." Mungkin rusaknya bangsa kita memang tercermin dari rusaknya bahasa Indonesia.
Indonesia
117
2.1K
5K
442.5K
Caelum retweetledi
Fakhrizal Haq
Fakhrizal Haq@fakhricentris·
Laras sakit di dalam tahanan, dikasih obat EXPIRED A.K.A KADALUWARSA sama polisi. CATAT DALAM BUKU HARIAN KALIAN. JANGAN PERNAH LUPAKAN. NEGARA PERNAH BERBUAT LANCANG DAN TIDAK MANUSIAWI PADA PEREMPUAN.
tempo.co@tempodotco

Indonesia
435
38.2K
94.7K
1.8M
Caelum retweetledi
Komnas Perempuan
Komnas Perempuan@KomnasPerempuan·
Unduh Buku Saku Pemberitaan Femisida: Menulis dengan Empati dan Tanggung Jawab secara gratis! Buku saku ini mengajak jurnalis meliput femisida secara berperspektif gender dan korban, tidak sekadar sebagai peristiwa kriminal, tetapi sebagai puncak dari ketimpangan relasi kuasa dan kekerasan berbasis gender. Disusun oleh Divisi Resource Center dan Divisi Partisipasi Masyarakat, buku ini menjadi panduan praktis untuk peliputan yang berempati, bertanggung jawab, dan berprinsip do no harm. 🔗 Unduh di sini: bit.ly/buku-saku-femi… #KomnasPerempuan #Femisida #BukuSaku #Jurnalis
Komnas Perempuan tweet media
Indonesia
3
157
303
9.8K
Caelum
Caelum@DROlTURE·
Test.
English
0
0
0
61