kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm
4.8K posts


@Thejunes2 @peoniwy pake spx alhamdulillah nyampe rumah dengan selamat sentosa
Indonesia
kiyomi_yeomm retweetledi

Yang setuju, mohon diposting ulang.
tempo.co@tempodotco
Massa Aksi Kamisan: Prabowo-Gibran Sama Saja dengan Soeharto
Indonesia
kiyomi_yeomm retweetledi

@utfess aku ga punya tips, tqpi aku punya nomor joki turunin ai skor yg trusted
Indonesia
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi

@Dis_sssss @rynabluu @utfess Iyaaa kak nah kutipan langsung sama tidak langsung nya taro di bab brpa😭 di bagian yg mananya huuu smeoga kk paham maksud akuuu. Karena di sesi 2 kan bentuk nya tabel gituu
Indonesia

@kthtaehyungiess @rynabluu @utfess digabungkan kak, jadi maksud dari tugas sesi 2 ni biar kita paham mana kutipan langsung dan tidak langsung. jadi di sesi 3 langsung diaplikasikan ke dalam metopem yang lagi kakak susun
Indonesia

@rynabluu @Dis_sssss @utfess kk aku boleh tanya untuk sesi 3 kan udh tinggal susun aja ah di sesi 2 itu kita di suruh buat kutipan langsung dan tdk langsung ,lalu di sesi 3 taro nya di bagian mana nya kak?
Indonesia
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi

"8+2 = 11"
"Sawit itu kan juga pohon, kan? Ada daunnya, kan?"
"Orang-orang pintar di Jakarta tidak peduli dengan nasib nelayan."
"Orang desa tidak ada yang pakai dolar kok."
Empat kalimat bodoh, dan yang melempar keempat kalimat bodoh ini adalah orang yang memimpinmu saat ini.
alfin rizal@alfinrizalisme
@ARSIPAJA aku tahu dia inkompeten jadi presiden. tapi gak nyangka aja kalau sekosong-momplong ini.
Indonesia
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi
kiyomi_yeomm retweetledi

18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Indonesia














