Sabitlenmiş Tweet

My Last Diary (Book 1)
Part 1
*****
Dulu aku hanyalah anak ingusan kecil yang paling suka nangis, tiap ada masalah pasti bisanya cuma nangis. Memang, masa kanak-kanak itu menyenangkan.
Tapi pagi ini, tidak sama seperti pagi sebelumnya. Bila dulu aku masih menganggap hidup itu indah, kini aku harus sedikit merubah pandanganku itu. Karena kini aku sudah menjadi gadis remaja berusia 16 tahun.
Tak kusangka memang ternyata hidup sesingkat ini. Kemarin aku merasa masih sangat polos, tapi kini sudah menjadi seperti ini.
Oh iya, namaku Renee. Aku sekarang bersekolah di salah satu sekolah yang menjadi favorit di kotaku. Aku memang hidup dari keluarga yang mampu, tapi itu bukan alasanku diterima di sekolah ini. Melainkan karena prestasiku yang memang cukup memuaskan, dengan menjadi juara di beberapa bidang ekskul, membuatku dengan mudah diterima di sekolah ini.
Dan pagi ini adalah pagi di mana aku memulai tugasku sebagai siswi tahun ajaran baru ini.
Ya, sungguh mendebarkan memang. Karena ini akan menjadi pengalaman baru bagiku. Di masa SMA, masa akhir menjelang masa kuliahku dan menempatkanku selangkah dengan mimpiku menjadi seorang guru.
Mungkin, aku berangkat terlalu pagi sekali hari ini karena aku tidak sabar menjalani hariku sebagai siswi baru di SMA ini.
***
Sesaat setelah sampai di sekolah aku sangat terkejut, rupanya sekolah ini memang sekolah yang sangat besar. Pantas saja sekolah ini menjadi favorit di kota ini.
Kutelusuri semuanya, betapa semakin kagum aku melihat indahnya taman, ruangan yang sangat luas, serta kelengkapan fasilitas di sekolah ini. Dalam hati aku harus bisa berprestasi di sini. Aku ingin membuat orang tuaku bangga dengan aku.
Saat melihat-lihat, rupanya aku bukanlah murid pertama yang datang di sekolah ini. Kulihat bila tepat di lantai 2, ada seorang gadis sedang memandang ke arah taman. Awalnya aku ingin mendatanginya, tapi perlahan sepertinya terkesan aku lagi cari teman banget.
Selang beberapa menit, kualihkan pandanganku ke arah taman. Dan memang taman ini sangat asri. Kurasa, layak bila ini digunakan sebagai sarana untuk belajar. Ketika kulihat kembali, sosok gadis tadi sudah menghilang entah ke mana. Mungkin dia sudah pergi, pikirku.
***
Jam pelajaran pertama pun dimulai. Kumulai waktuku dengan mengenali semua teman baruku, karena guru ingin kami saling mengenali, sebelum masuk ke inti pelajaran.
Dan ketika kulihat semua orang, gadis yang tadi aku lihat ternyata satu kelas denganku. Ya, namanya adalah Aluka, seperti nama dari Jepang. Menurutku nama itu sangat indah, seperti parasnya yang memang menawan.
Aluka duduk sendiri di bangku pojok paling belakang. Membuatku berpikir, untuk anak gadis kenapa dia memilih bangku pojok? Tapi mungkin itu sudah menjadi pilihannya, aku tidak berhak ikut campur dengan pilihan orang lain.
Dan hari pertamaku di sekolah itu berjalan normal dan menyenangkan.
*****
Satu minggu sudah aku bersekolah di sini. Dan aku sudah sangat akrab dengan semua teman baruku, kecuali Aluka. Dia adalah sosok yang pendiam, bahkan semua teman kami seolah menganggap dia tidak ada.
Sesekali di jam pelajaran aku melihatnya, tapi dia hanya tersenyum. Ya, dia sangat misterius. Bahkan tak pernah kulihat dia berbicara dengan siapapun. Kadang aku berpikir, ada apa dengan gadis itu?
Indonesia














