Dan aku, Gauri Verma, telah rebah mati di dalam kereta itu. Tubuhku mereka santap, cairanku mereka teguk; tulangku dijilat hingga bersih. Panas, sakit, sesak. Khianat dan dusta menjadi akar benciku. Kan kusumpahkan, mereka yang hidup takkan pernah merasakan damai.
Dan aku, Alil, telah luput dari dahsyatnya ngeri Ratha Kudus, menyaksikan kisah yang saban limabelas warsa mereka pentaskan, dengan mata kepalaku nan telanjang. Namun rahsa ini koyak, jiwaku tercabik, hamba kini bagai insan linglung, meracau tentang petaka nan tak terperi.
Dan aku, Kraai, telah luput dari dahsyatnya ngeri Ratha Kudus, menyaksikan kisah yang saban limabelas warsa mereka pentaskan, dengan mata kepalaku nan telanjang. Namun rahsa ini koyak, jiwaku tercabik, hamba kini bagai insan linglung, meracau tentang petaka nan tak terperi