Wawan ⚪🔴⚪

30.2K posts

Wawan ⚪🔴⚪

Wawan ⚪🔴⚪

@FachSetiawan

Lawan kesewenangan sambil bergembira. Tukang ngurus ayam ➡️🥚🐣🐥🐓. AFC Ajax - Netherland NT - McLaren diehard 🔥

Katılım Nisan 2019
518 Takip Edilen281 Takipçiler
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Disaster News
Disaster News@Top_Disaster·
Large eruption at Dukono Volcano on Halmahera Island, Indonesia 🇮🇩 The ash column is estimated to have reached approximately 4,000 meters above the summit. (03.04.2026)
English
30
3K
3.7K
397.3K
Gibran Rakabuming
Gibran Rakabuming@gibran_tweet·
Beli game fisik @CallofDuty MW2 download update dulu 36gb (nunggu seharian). Trus download lagi campaign pack, co-op pack, multiplayer pack yg totalnya juga lebih dr 30an gb. Padahal bsk udah hari senin dan akhirnya nunggu lebaran taun depan br bs dimaenin
Indonesia
286
253
2.1K
0
Wawan ⚪🔴⚪
Wawan ⚪🔴⚪@FachSetiawan·
@RadioElshinta Pak Nasbi tau ga esensi demokrasi kita bs muncul klo presiden Indo mau menjalankan sila kelima Pancasila dgn proper.
Indonesia
0
0
0
26
Radio Elshinta
Radio Elshinta@RadioElshinta·
Hasan Nasbi Kritik Provokasi di Momen Silaturahmi: Tak Paham Esensi Demokrasi Jakarta - Hasan Nasbi merespons video pernyataan seorang pimpinan lembaga survei dalam sebuah acara halalbihalal. Hasan mengaku miris menyaksikan pernyataan provokatif pimpinan lembaga survei tersebut. Pimpinan lembaga survei itu, Hasan mengungkapkan, ingin menjatuhkan pemerintahan yang sah tanpa melalui proses demokrasi hanya karena petahana bukan pihak yang didukungnya saat Pemilu 2024 lalu. "Mungkin hasrat untuk berkuasa tanpa Pemilu ini meronta-ronta dalam jiwa mereka. Mereka ingin menempuh sebuah jalan untuk berkuasa tanpa melalui proses demokrasi. Mereka itu mengakunya pejuang demokrasi, tapi enggak pernah mau paham apa esensi demokrasi. Kalau perebutan kekuasaan dalam demokrasi itu difasilitasi kok lewat Pemilu," kata Hasan dalam akun Youtube resminya, dikutip pada Minggu (5/4). Hasan pun merasa heran karena provokasi tersebut datang dari seorang pimpinan lembaga survei yang juga pakar di bidang ilmu politik. Ajakannya mengatasnamakan kepentingan rakyat, sementara tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini tinggi. Pimpinan lembaga survei yang hidup dari sistem demokrasi, tapi malah tidak menghormati proses demokrasi. Mengeklaim kepentingan pribadinya sebagai 'kepentingan rakyat'. "Sebagai konsultan politik kan beliau juga kaya raya dari proses demokrasi. Proses Pilkada, proses Pilpres, proses Pileg. Klien-kliennya presiden dulu, calon presiden, partai politik, caleg-caleg, dan yang hari ini dia hina semua itu. Presidennya dia hina, partai politiknya dia hina, caleg-calegnya dia hina. Dia juga seorang Pollster yang harusnya paham data," ujar Hasan. Di setiap masa pemerintahan, lanjut Hasan, memang ada saja pihak-pihak yang ingin menjatuhkan pemerintahan sah tanpa melalui proses yang demokratis. Tapi di tengah dinamika global saat ini, provokasi tersebut sungguh tidak tepat. Dalam kondisi seperti sekarang, persatuan sangat dibutuhkan agar bangsa Indonesia dapat mengatasi berbagai tantangan. "Ketika situasi ekonomi dunia kacau balau, situasi keamanan dunia juga sedang tidak baik-baik saja, cuaca panas di luar, ada banyak pertengkaran di luar negeri. Tapi di dalam negeri, orang-orang yang mengaku pejuang demokrasi ini juga memanas-manasi susana. Kan yang kita butuhkan hari ini adalah persatuan, kerja sama. Ada satu semangat, satu hati, satu perasaan untuk menjaga bangsa kita bisa melalui keadaan yang sulit ini dengan baik. Ini kok malah mengacak-acak, malah memprovokasi supaya pemerintahan tumbang," ucap Hasan. Menurut Hasan, kritik adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Tapi provokasi untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah tanpa melalui proses yang konstitusional merupakan pelangggaran terhadap demokrasi. "Kritik itu enggak masalah. Silakan kritik pemerintah sekeras-kerasnya, dan pemerintah harusnya juga boleh menjelaskan pembelaannya seterang-terangnya. Itu esensi demokrasi yang bisa kita terima. Tapi kalau pemerintah tidak melakukan pelanggaran, tidak melakukan kesalahan melanggar Undang-Undang, tidak menabrak konstitusi, tapi Anda ingin mengajak masyarakat untuk menjatuhkan presiden karena perasaan Anda tidak terpenuhi, karena keinginan Anda tidak tercapai, itu sesuatu hal yang tidak bisa diterima," tegasnya. #HasanNasbi #Demokrasi #JagaDemokrasi #TolakProvokasi #Pemilu #StabilitasNasional #PersatuanBangsa @prabowo #PolitikIndonesia #SuaraPublik
Indonesia
74
28
52
7.6K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
GOAT
GOAT@SportsTakesGOAT·
@Inside_020 We don't care about Oscar Gloukh, we care about Ajax. Oscar Gloukh didn't prove that he is a very good footballer while playing for Ajax, Oscar Gloukh didn't lead Ajax to win the Eredivisie. Oscar Gloukh is not bigger than Ajax.
English
2
1
0
151
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing@Dospemz·
Kalau mau jujur, sebetulnya yang terjadi sekarang ini dampak ekonominya sudah lebih parah dari krisis 97-98. Dulu masyarakat terbiasa hidup dalam ilusi stabilitas, jadi ketika fondasinya runtuh, kepanikan langsung pecah karena orang-orang belum siap hidup dalam ketidakpastian yang mendadak. Bandingkan dengan sekarang, dimana orang sudah terbiasa hidup tanpa fondasi yang kokoh. Salah satu indikatornya adalah lebih dari 50% penduduk Indonesia bertahan di sektor nonformal, gig economy, dan penghasilan yang serba tidak pasti. Itulah kenapa kita merasa seolah krisis hari ini keliatannya biasa-biasa saja.
Ravi Bakhtiar@Bakhtiar_ravi

Step step nya seperti krisis 98 g sih? Walaupun banyak yang bilang karakter krisisnya jauh dari 98

Indonesia
90
3K
8.5K
239.4K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
herwin
herwin@bangherwin·
Negara makin bikin bingung. Atau mungkin emang kita aja yang telat sadar polanya. Koperasi? Bukan lagi domain kementerian koperasi. Masuk ke PT Agrinas, Kemenhan, sampai TNI. Proyek MBG? Harusnya urusan sosial. Tapi malah dibuat Badan Gizi Nasional. Pelaksananya? TNI & Polri. Kementerian Sosial? Malah geser ke “Sekolah Rakyat”. Urusan tanem jagung? Harusnya urusan pertanian. Yang turun? Polisi & TNI. Puyeng gak lu? Wajar banget kalo lu puyeng. Karena ini levelnya bukan sekadar acak-acakan. Tapi beyond dari acak-acakan. 🤣🤌
Indonesia
90
546
824
16.7K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys kata Raymond Chin buat jadi Kaya di Indonesia itu sangat simpel sangat mudah untuk dilakuin cara nya ya jadi Pejabat. Logikanya sederhana kenapa ada orang rela keluar miliaran buat jadi pejabat Padahal gajinya kelihatan kecil Secara logika: Kampanye = bisa habis miliaran Gaji pejabat = relatif terbatas Harusnya rugi, tapi kenyataannya: Banyak yang tetap ngejar jabatan mati-matian Artinya ada return lain di luar gaji resmi. Raymond ngebagi jadi 3 jalur utama: A. Jalur Hitam (ILEGAL – Korupsi) Ini yang paling jelas dan sering ketangkep. 1. Suap & jual beli jabatan Bayar untuk naik posisi Sistemnya: “setor dulu, balik belakangan” Ini menyumbang sekitar 65% kasus korupsi 2. Markup proyek (pengadaan barang/jasa) Anggaran 100M → realisasi 70M Sisa 30M masuk kantong Ini sekitar 20–25% kasus 3. Main izin (tambang, lahan, SDA) Pejabat kasih izin Dapat: saham gratis fee bagi hasil Kesimpulan jalur hitam: Cepat kaya Tapi: bisa dilacak (PPATK) rawan kena KPK high risk B. Jalur Abu-Abu (LEGAL TIPIS, TAPI TIDAK ETIS) Ini yang paling banyak terjadi dan paling “licin” 4. Insider policy (main info orang dalam) Contoh: Pejabat tahu kebijakan akan keluar Sebelum publik tahu: beli saham bangun bisnis terkait Saat aturan keluar: bisnisnya meledak Legal? Bisa iya Etis? Jelas problem 5. Nepotisme halus (titip-titipan) Anak / keluarga: masuk BUMN dapat proyek besar Bukan karena pasti bodoh Tapi karena akses VIP 6. Rangkap jabatan Pejabat + komisaris perusahaan Cara mainnya: bikin kebijakan siang hari malam meeting sama perusahaan Konflik kepentingan besar Ciri jalur abu-abu: Tidak jelas salah secara hukum Tapi: merusak fairness bikin ekonomi tidak sehat C. Jalur Putih (LEGAL – PALING CANGGIH) Ini yang paling bahaya karena susah disalahkan Raymond sebut: “Politician-preneur” (pejabat + pebisnis) 7. Halo Effect (transfer kredibilitas) Jadi pejabat → trust naik Bisnis ikut naik Contoh: properti milik pejabat investor percaya → laku keras Tanpa korupsi, tapi efek jabatan jadi “jaminan” 8. Networking elite (akses VIP) Ketemu: CEO global investor besar kepala negara Dampaknya: bisnis keluarga dapat investasi Ini bukan uang langsung Tapi akses = uang 9. Valuation pump (main valuasi saham) Punya saham perusahaan Jadi pejabat + sering muncul di media Hasilnya: harga saham naik capital gain besar Ini bisa lebih cuan dari korupsi Dan 100% legal Kenapa Jalur Putih Paling Berbahaya? Karena: Tidak melanggar hukum Sulit dibuktikan salah Tapi tetap menciptakan: Ketidakadilan ekonomi Kompetisi tidak sehat Kenapa Orang Rela Keluar Miliaran? Karena jabatan itu bukan cuma: gaji Tapi: akses kekuasaan informasi jaringan elite kredibilitas publik Semua itu bisa diubah jadi uang (langsung atau tidak langsung)
Lambe Saham tweet media
Indonesia
17
172
414
21.4K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
salam4jari
salam4jari@salam4jari·
Gendeng!!!
Indonesia
0
49
126
1.6K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Nda ! 🧳
Nda ! 🧳@Naandaa27·
Seorang netizen di Threads curhat suaminya mengeluarkan modal Rp 2 miliar untuk membangun SPPG. Namun sayangnya sebelum balik modal, pihaknya harus berurusan dengan pihak yayasan dan oknum TNI yang menitipkan keluarganya untuk menjadi Kepala SPPG. Menurutnya, Kepala SPPG titipan itu masih berusia 23 tahun dan tidak pernah terlibat dalam manajemen SPPG. Mirisnya, oknum TNI yang menitipkan keluarganya itu minta jatah Rp 500 perak tiap siswa.
Nda ! 🧳 tweet media
Indonesia
324
1.8K
4.4K
273.1K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Dina Sulaeman
Dina Sulaeman@dina_sulaeman·
Panjang tulisannya. Poin penting: 1. Merekomedasikan agar misi UNIFIL dihentikan. 2. Sama sekali ga ada kecaman ke Israel.
S. B. Yudhoyono@SBYudhoyono

Indonesia berduka karena tiga prajurit yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Libanon gugur. Beberapa prajurit juga mengalami luka berat, termasuk dalam insiden ketiga kemarin, di tempat penugasan mereka. Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka. Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi. Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative). Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan. Sebagai bentuk dukungan terhadap langkah-langkah pemerintah kita, menyusul gugur dan luka-lukanya prajurit Indonesia tersebut, saya ingin menambahkan satu, dua hal. Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. “Peacekeeper” tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”. Mereka bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone”, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”. Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung. Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini. Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda. Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini. Mengapa? Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Libanon. Ini ada sejarahnya. Pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Libanon. Korban berjatuhan utamanya di pihak Libanon. DK PBB belum melakukan langkah-langkah yang efektif untuk menghentikan peperangan tersebut. Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar “emergency meeting” guna mendesak PBB untuk segera bertindak. Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Libanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain. Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Libanon. Artinya, setelah terjadi “ceasefire” atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut. Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Libanon. Alhamdulillah, Perancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta. Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Libanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan. Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Libanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia. Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air. *SBY*

Indonesia
58
281
797
22.8K
S. B. Yudhoyono
S. B. Yudhoyono@SBYudhoyono·
Indonesia berduka karena tiga prajurit yang bertugas sebagai penjaga perdamaian (peacekeeper) di Libanon gugur. Beberapa prajurit juga mengalami luka berat, termasuk dalam insiden ketiga kemarin, di tempat penugasan mereka. Ketika saya ikut memberikan penghormatan kepada jenasah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon, hati saya ikut tergetar. Memang seorang prajurit disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggil. Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka. Merasakan ini semua, secara pribadi saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. Indonesia berhak untuk itu. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi. Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative). Saya pernah mengemban tugas PBB di Bosnia (former Yugoslavia) tahun 1995-1996. Dengan pangkat Brigadir Jenderal, saya menjadi Kepala Pengamat Militer PBB. Investigasi terhadap pelanggaran gencatan senjata juga sering kami lakukan. Sebagai bentuk dukungan terhadap langkah-langkah pemerintah kita, menyusul gugur dan luka-lukanya prajurit Indonesia tersebut, saya ingin menambahkan satu, dua hal. Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini, tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan “peacemaking”. “Peacekeeper” tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran. Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”. Mereka bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone”, yang bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”. Kontingen Indonesia, hakikatnya bertugas di “Blue Line” yang memisahkan teritori Israel dengan teritori Libanon. Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung. Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini. Dewan Keamanan PBB harus segera bersidang dan bisa mengeluarkan resolusi yang tegas dan jelas. Saya masih ingat ketika sebagai Menkopolkam RI, harus menghadiri Sidang DK PBB tahun 2000 karena ada insiden di Atambua yang menewaskan 3 orang petugas kemanusiaan PBB akibat unjuk rasa yang terjadi di wilayah Atambua, NTT waktu itu. PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda. Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Libanon ini. Mengapa? Ketika menjadi presiden Indonesia dulu, saya berinisiatif dan mengusulkan kepada PBB untuk mengirimkan satu batalyon plus Indonesia sebagai bagian dari Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB di Libanon. Ini ada sejarahnya. Pada bulan Agustus 2006 terjadi perang antara Israel dan Libanon. Korban berjatuhan utamanya di pihak Libanon. DK PBB belum melakukan langkah-langkah yang efektif untuk menghentikan peperangan tersebut. Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi (Alm) berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC (Organisasi Kerjasama Islam) untuk menggelar “emergency meeting” guna mendesak PBB untuk segera bertindak. Beberapa hari kemudian, PM Abdullah Badawi menggelar pertemuan darurat OKI di Kuala Lumpur. Di samping Indonesia dan Malaysia, pemimpin lain yang hadir adalah Presiden Iran Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Erdogan dan Perdana Menteri Libanon Siniora. Juga hadir beberapa kepala negara/kepala pemerintahan yang lain. Dalam pertemuan itu pula, saya menyampaikan Indonesia siap untuk mengirimkan pasukan satu batalyon diperkuat sebagai bagian dari “peacekeeping mission” di perbatasan Israel dan Libanon. Artinya, setelah terjadi “ceasefire” atas usaha dari PBB, Indonesia siap mengawasi pelaksanaan gencatan senjata tersebut. Saya masih ingat, karena dipersyaratkan penggunaan kendaraan tempur mekanis dan Anoa kita belum siap, segera saya menelepon Presiden Perancis Jacques Chirac, dengan tujuan Indonesia ingin membeli kendaraan tempur VAB buatan Perancis untuk segera bisa dikirim ke Libanon. Alhamdulillah, Perancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat karena dalam pengadaan alutsista tersebut saya menggunakan format G to G (government to government). Memang waktu itu kita tidak melibatkan pihak swasta. Kontingen Indonesia pertama, Garuda XXIII/A, tiga bulan kemudian (November 2006) sudah bisa berangkat ke Libanon. Untuk diketahui, 3 orang anggota kabinet Presiden Prabowo adalah bagian dari kontingen Indonesia tersebut, yaitu Kapten Kav Muhammad Iftitah Sulaiman, Lettu Inf Agus Harimurti Yudhoyono, dan Lettu Kav Ossy Dermawan. Hingga tahun 2026 ini, sudah 19 kali kontingen kita bertugas di Libanon dengan masa penugasan rata-rata satu tahun. Mungkin, ini yang terlama dalam misi PBB yang diemban oleh pasukan Indonesia. Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air. *SBY*
Indonesia
344
533
2.5K
193.7K
Wawan ⚪🔴⚪
Wawan ⚪🔴⚪@FachSetiawan·
@SBYudhoyono Pak Ga berani nyebut Israel sbg pihak yg membunuh tentara kita? Ga berani Pak?
Indonesia
0
0
0
27
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Robin Syihab
Robin Syihab@anvie·
@IRanMediaco In Indonesia, the ultimate sign of fame is having your face plastered on the back of a truck
Robin Syihab tweet media
English
36
518
2.8K
63.3K
Iran News 24
Iran News 24@IRanMediaco·
An Indonesian couple named their newborn child "Ali Khamenei"
Iran News 24 tweet media
English
342
3K
26.3K
462.4K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Reka Putra
Reka Putra@elcheeefffff·
MBG ini problemnya bukan di niat, tapi skalanya. Masif, rutin, nyentuh langsung ke masyarakat bawah, wajar kalau orang lihat ini bukan cuma program sosial. MBG serap tenaga kerja, iya… tapi dari uang negara. Klo hidupnya bergantung APBN, itu bukan ekonomi tumbuh. Itu ya cuma aktivitas yang dipertahankan biar kelihatan jalan.
Indonesia
1
29
219
7.4K
Never
Never@neVerAl0nely___·
Badan Gizi Nasional (BGN) meminta maaf atas insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur. 72 Siswa Keracunan Usai Konsumsi MBG, Alami Mual Hingga Diare
Indonesia
340
1.2K
2K
137.3K
Wawan ⚪🔴⚪ retweetledi
Yerusolo Mania【DavidBeatt】🐿🦉🎨🔮🧟‍♀️☔🦚🍂🔨📜
Mas ardi itu nulis persis apa yg lu bilang, rakyat ketergantungan mbg sampai akhirnya ni program goblok ini jadi too big to fail karena udah kemana mana mengakarnya Dan itulah kenapa lu udha gabisa percaya lagi sama pemilu dan demokrasi borjuis sekarang yang mengandalkan spektakel untuk menggaet suara
🇲🇨 B. Prasetya 🇲🇨@BANGSAygSUJUD

Dari twit @ardisatriawan jelas ternyata usaha MENGHENTIKAN MBG karena TAKUT bila MBG sukses maka 2029 Petahana terpilih lagi Cara berpikir picik, semua dikalkulasi di Pilpres 2029 MBG serap jutaan pekerja, UMKM, Petani, nelayan dll Tega kalian kalo mereka PHK?

Indonesia
26
710
2.3K
60.5K