\Taking no L Giving no F/

22.8K posts

\Taking no L Giving no F/ banner
\Taking no L Giving no F/

\Taking no L Giving no F/

@Gangsterfeast

Getting my life together

Katılım Ocak 2019
1.3K Takip Edilen63 Takipçiler
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
otto 🇲🇦
otto 🇲🇦@ottoeatsplywood·
the Norwegians have massive oil reserves and one of the best social security systems in the world, yet they eat as if they're still under Nazi occupation
Joakim 🌹🇳🇴🇪🇺@joakial_

English
156
940
15.8K
509.5K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
sophie
sophie@sophieisawitch·
i wanted to kill myself on the golden gate bridge a while ago and the guy said "sorry, last pedestrian entry was 20 minutes ago" and i asked why and he said suicide prevention. so sometimes the system works
English
258
8K
415.4K
6.8M
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
Danny🦗
Danny🦗@marvelle_danny·
Bank Himbara cuma penyalur dana, bukan pihak penanggung seluruh resiko kredit KDMP Jadi kalau kuatir KDMP gagal bayar ...iya anda tahu siapa yg nanggung? Iya itu ..... Mari kita berdoa di segerakan Yield 15%
Indonesia
16
30
322
24.8K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
TIRTA
TIRTA@tirta_cipeng·
Ada org buat water station bayangan d berlin marathon pas km 30an kasi gelas isi air Kupikir air mineral karena bening, isinya vodka Bajengan wkwwkwkwkwkw Ngekek2 orngnya Wkwkwkww
Bayanaka@byaxtaa

@tirta_cipeng Cerita pengalaman lucu saat marathon dok

Indonesia
111
489
10K
628.2K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
Ini emg orang2 lg pada kenapa dah? Ngeri aja konflik horizontal makin banyak Source : thread
Hidup sebagai +62 tweet mediaHidup sebagai +62 tweet mediaHidup sebagai +62 tweet mediaHidup sebagai +62 tweet media
Indonesia
1K
1.2K
23K
6.9M
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
Gita Wirjawan
Gita Wirjawan@GWirjawan·
Keputusan pemerintah harus dihormati. Namun dalam demokrasi, ia tidak luput dari komentar maupun kritikan. Di satu percakapan dengan Nadiem, Ia pernah bilang bahwa dirinya bekerja untuk kepentingan generasi berikutnya. Ia masuk dengan sebuah blueprint dan impian: membangun ulang lingkungan bagi ratusan ribu siswa dan guru, membangun kembali pondasi dari mana sebuah bangsa belajar. A revolutionary in the making. Saya mengenal keluarga Makarim selama puluhan tahun. Dalam semua waktu itu, di seluruh anggotanya, ketidakberesan tidak pernah menjadi sesuatu yang saya saksikan atau rasakan. Tidak sekali pun. Nadiem selalu menjadi, sejauh yang saya tahu, persis seperti apa yang ia katakan hari itu: seseorang yang bekerja untuk masa para penerus bangsa yang belum bisa bersuara. Setahun tujuh bulan kemudian, kita ada di sini. Kesalahan Nadiem mungkin adalah bahwa kenaifannya disalahpahami sebagai kurangnya rasa hormat terhadap memori institusional (kebiasaan sebuah lembaga dalam pola komunikasi, kerja, dan koordinasi yang telah mengakar puluhan tahun). Kenaifan ini tidak unik. Ia niscaya akan menjangkiti siapapun dari luar yang diminta atau ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan pemerintah telah dan akan berdampak pada beberapa hal yang cukup struktural: 1.⁠ ⁠Proses penegakan hukum dan translasi ketidakpastian menjadi risiko. Bayangkan Anda hendak berinvestasi ke sebuah negara di mana hukumnya tidak jelas — di mana pendiri unicorn pertama Indonesia harus menghadapi 18 tahun atas dasar konstruksi hukum yang sulit dipertahankan oleh banyak ahli hukum. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah Nadiem salah atau tidak?" Tapi: "Apakah ini tempat di mana kita bisa membangun?" Ketika hukum tidak memberikan kepastian, negara kehilangan kemampuannya untuk mengukur dan mengomunikasikan risiko kepada dunia luar. Ketidakpastian hukum adalah risiko yang tidak bisa dipricing — dan modal global tidak bersedia tinggal di tempat yang tidak bisa menjawab pertanyaan paling dasar: seberapa besar risikonya, dan siapa yang terlindungi ketika jawabannya tidak jelas? ⁠2. Pengedepanan inovasi teknologi. Pelajaran yang paling mudah diserap dari sidang ini adalah: main aman. Jangan punya keyakinan. Jangan berinovasi. Pilih yang paling aman secara administratif, bukan yang terbaik. Ketika pilihan teknologi bisa dijadikan dakwaan, ketika gagasan baru bisa menjadi jebakan, tidak ada ruang lagi bagi ide untuk tumbuh, inovasi untuk dipeluk, atau perubahan untuk disambut. Yang tersisa hanyalah birokrasi yang memilih selamat atas segalanya. Bahwa konformis adalah postur yang paling aman di dalam sistem. 3.⁠ ⁠Masa depan talenta bangsa. Yang paling fatal: kasus ini menjadi jera bagi mereka yang seharusnya melanjutkan bangsa ini. Bahwa seseorang yang berpendidikan, yang berniat baik, yang berani mencoba membangun dari nol akan dimuntahkan mentah-mentah oleh negara yang berusaha ia tolong. Platform ini dibangun untuk mendiskusikan ide, bukan peristiwa. Namun episode yang kita saksikan tidak lepas dari sesuatu yang katalitik, untuk kepentingan nation building ke depan. Dan kualitas itu, keinginan untuk memperbaiki sistem yang mungkin belum berkenan, mendongkrak edukasi bangsa, adalah salah satu yang paling langka di sebuah birokrasi. Menjadi tragedi tersendiri ketika upaya mengintelektualisasi bangsanya, menjadi batu rajam untuk dirinya sendiri. No one is perfect. May the great force be on the right side of history.
Gita Wirjawan tweet media
Indonesia
103
468
1.2K
283.4K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths econ.st/3RE0Fum Photo: Getty Images
The Economist tweet media
English
446
23.6K
36K
2.7M
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
Rupiah Anjlok ke Level 17.600 per Dolar AS, Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar AS "Rupiah begini, dolar begitu. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?"
tempo.co tweet mediatempo.co tweet media
Indonesia
4K
15.4K
50.6K
3.2M
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
Petrol Weeb | F
Petrol Weeb | F@PetrolWeeb·
Obligatory
Petrol Weeb | F tweet media
65
3.5K
21.7K
299.7K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Prabowo Subianto is centralising power, marginalising opposition and spending beyond Indonesia’s means. He could undo 20 years of economic and political progress economist.com/briefing/2026/…
English
269
9.2K
14.4K
594.6K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya. Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
Indonesia
68
661
2.3K
94.4K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
Penggemar Mie Ayam Kampung
@txtdaritaxpayer Sekarang gue paham kenapa prabowo suka sama purbaya dan begitu pula sebaliknya. Karena dua orang ini suka memuji diri sendiri, gk pernah merasa salah, alergi thd kritikan dan senang merespon dgn diksi kampungan. Okke deh. Cucok!
Indonesia
1
41
320
14.1K
\Taking no L Giving no F/ retweetledi
LEON
LEON@LEON79267955171·
@txtdaritaxpayer Sebagai Menkeu, sangat disayangkan menggunakan diksi emosional di ruang publik. Kritik dari media internasional harusnya dijawab dengan adu data ilmiah, malah dibilang bego. Gaya komunikasi seperti ini justru merusak wibawa ekonomi RI di mata global.
Indonesia
1
38
630
18.1K