M. Chatib Basri

17.7K posts

M. Chatib Basri

M. Chatib Basri

@ChatibBasri

Former Minister of Finance Indonesia. Senior Lecturer, Department of Economics University of Indonesia. Visiting Scholar Harvard CID

Jakarta Katılım Mayıs 2011
468 Takip Edilen126.6K Takipçiler
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Tadi sore saya ngobrol dg Richardo Hausmann Guru besar ekonomi di Harvard Kennedy School. Hausmann dikenal dg complexity index nya. Kami mendiskusikan growth strategy di emerging economies. Hausmann selalu mencerahkan. Alih alih berdebat soal sektor mana yg memberikan value added tinggi vs rendah, manufaktur vs services, Hausmann menyampaikan yg penting bukan debate memilih sektor yg memberikan value added tinggi (downstreaming vs commodities) tapi bagaimana membangun capabilities. Dia cerita bagaimana Jepang mulai dg textile, yg akhirnya mesin utk membuat textile menghasilkan toyota. Kisah negara-negara Nordik menunjukkan bahwa teknologi tinggi sering lahir dari proses yang panjang dan tampak sederhana. Finland dan Sweden mula-mula bertumpu pada hutan, kayu, pulp, dan kertas. Tetapi dari industri itulah tumbuh kemampuan engineering, manufaktur, kimia, dan riset. Perusahaan seperti Nokia bahkan berawal dari industri pulp sebelum akhirnya menjadi raksasa telekomunikasi dunia. Intinya apakah mampu meningkatkan capabilities. Kapabilitas utk mampu mengubah industri berbasis sumber daya alam menjadi pijakan untuk membangun kemampuan teknologi yang lebih kompleks. Saya setuju dichotomy antara manufacturing dg services tidak sepenuhnya akurat, krn sektor manufaktur yg produktifitasnya tinggi justru yg service intensive, istilahnya servicification. Belajar banyak dari Hausmann.
Indonesia
57
453
1.4K
45.1K
M. Chatib Basri retweetledi
Rachland Nashidik
Rachland Nashidik@rachlannashidik·
Sebuah buku tentang Hari Wibowo, seorang senior dan jejak jejaknya dalam pemikiran dan perbuatan kemanusiaan di Indonesia. Hormat.
Rachland Nashidik tweet media
Indonesia
0
1
6
1.1K
M. Chatib Basri retweetledi
Oliver Hanney
Oliver Hanney@oliverhanney·
Why has @rodrikdani changed his mind on manufacturing? Really excited for this live episode of the Ideas in Development podcast, taking place next week on Wednesday May 20th (2pm UK). Dani is joining me to discuss his evolving views, the evidence that changed his mind & more.
Oliver Hanney tweet media
English
2
55
197
17.1K
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Baru menerima copy dari kawan saya Jeffrey Winters. Topik yang menarik untuk dibaca
M. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet media
Indonesia
19
185
1.2K
26K
M. Chatib Basri retweetledi
David Evans
David Evans@DaveEvansPhD·
What is the role of economists and of evidence in international development efforts? Esther Duflo, @RGlenner (@CGDev), Michael Kremer, James Robinson, and Samantha Power discuss this topic between 2:27:30 & 2:59:28 on this video: youtu.be/u3zEJFhmuSQ?si….
YouTube video
YouTube
David Evans tweet media
English
1
50
223
22.1K
M. Chatib Basri retweetledi
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Untuk mahasiswa ekonomi, ekonom, pembuat kebijakan dan mereka yang tertarik ekonomi Indonesia Berikut adalah buku terbaru tentang Indonesia yang diterbitkan oleh ADB. Reza Anglingkusumo dan saya menulis satu bab mengenai kebijakan makroekonomi dan industrialisasi Indonesia. Kami mengulas evolusi ekonomi Indonesia selama dua dekade terakhir, dengan fokus pada produktivitas, daya saing, serta peran tabungan dan alokasi investasi dalam pengembangan industri. Bab ini juga mengidentifikasi prioritas reformasi sisi penawaran, dengan penekanan pada perlunya strategi yang didorong oleh investasi dan berorientasi ekspor untuk mendukung diversifikasi menuju manufaktur dan jasa bernilai tambah tinggi. Buku ini tersedia secara akses terbuka; tautannya tertera di bawah ini. Please find a newly published book on Indonesia published by the Asian Development Bank (ADB). Reza Anglingkusumo and I contributed a chapter on Indonesia’s macroeconomic policy and industrialization. The chapter explores Indonesia’s economic evolution over the past two decades, focusing on productivity, competitiveness, and the role of savings and investment allocation in industrial development. It identifies priorities for supply-side reforms, emphasizing the need for an investment-driven, export-oriented strategy to support diversification into higher-value manufacturing and services. The book is open access; the link is below adb.org/sites/default/…
M. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet media
Indonesia
37
1.2K
4.1K
135.1K
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Untuk mahasiswa ekonomi dan mereka yang tertarik topik Social Protection, saya rekomendasikan untuk membaca buku The Handbook of Social Protection yang di edit oleh teman dan co-authors saya Rema Hanna (Harvard) dan Benjamin Olken (MIT). Buku yang baru terbit ini secara komprehensif membahas mengenai kebijakan perlindungan sosial dan pengalaman empirisnya di berbagai negara. Free access, bisa di unduh disini direct.mit.edu/books/oa-edite…
M. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet mediaM. Chatib Basri tweet media
Indonesia
8
272
958
28.4K
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Menyambut baik kebijakan DJP ini. Kebijakan ini sejalan dengan rekomendasi dari paper kami di American Economic Review , “Tax Administration versus Tax Rates: Evidence from Corporate Taxation in Indonesia” yang ditulis bersama Rema Hanna @rema_nadeem , Mayara Felix @mayara_pfs , Ben Olken @Ben_Olken dan saya aeaweb.org/articles?id=10… Kebijakan tersebut menunjukkan arah baru pengawasan DJP terhadap kelompok wajib pajak dengan kontribusi penerimaan terbesar. ​ @kontanNews nasional.kontan.co.id/news/ribuan-wa…
Indonesia
6
51
191
50.7K
M. Chatib Basri
M. Chatib Basri@ChatibBasri·
Menarik sekali diskusi tentang masa depan pembangunan dengan tiga pemenang nobel ekonomi Michael Kremer, Esther Duflo dan James Robinson serta Rachel Glennerster dan Samantha Power dalam GEM 26 di Harvard Center for International Development conference
M. Chatib Basri tweet media
Indonesia
9
18
146
5.2K
M. Chatib Basri retweetledi
Harian Kompas
Harian Kompas@hariankompas·
Awal Januari 1998, rupiah seperti kehilangan jangkar. Dari sekitar Rp 2.450 per dolar AS pada Juli 1997, ia amblas, menyentuh Rp 17.000. Di balik angka itu ada perusahaan tutup, pekerja pulang tanpa kepastian. Ada dapur mendadak sunyi. Pada 23 Februari 1998, di Bundaran Hotel Indonesia, sekelompok perempuan berdiri, membawa kegelisahan yang sederhana: harga susu yang melonjak. Tapi, justru di situlah krisis menemukan wajahnya, bukan dalam grafik. Melainkan dalam antrean, dalam kecemasan. Inflasi mencapai 77 persen. Ekonomi Indonesia runtuh. Mahasiswa turun ke jalan. Mereka yang melewati 1998 tahu, itu tak sekadar krisis ekonomi. Peristiwa itu menjadi luka, tersimpan dalam ingatan kolektif. Mungkin karena itu, di Indonesia, nilai tukar tak pernah hanya angka, tetapi seperti detak jantung: sedikit bergejolak, ingatan lama bangkit. Setiap kali rupiah melemah, bayang-bayang Krisis Keuangan Asia 1998 kembali hadir, di pasar, di percakapan—dan mungkin—memengaruhi keputusan. "Rupiah, Risiko, dan Ingatan 1998" Baca di sini komp.as/4daQvsC Opini 4 Mei 2026 Ditulis oleh Muhamad Chatib Basri (@ChatibBasri) Visiting Scholar Center for International Development Harvard University #Opini #AdadiKompas
Harian Kompas tweet media
Indonesia
3
20
35
2.7K
M. Chatib Basri retweetledi
Harvard CID
Harvard CID@HarvardCID·
#GEM26 is kicking off at 2pm ET today! Explore how today’s global shifts are reshaping international development. Watch the Day 1 livestream: bit.ly/4t8Kdj7 View the agenda: bit.ly/449xTE6
Harvard CID tweet media
English
0
3
5
3.4K
M. Chatib Basri retweetledi
Harian Kompas
Harian Kompas@hariankompas·
Baca #Opini edisi Senin, 4 Mei 2026 berjudul "Rupiah, Risiko, dan Ingatan 1998" yang ditulis oleh Muhamad Chatib Basri (@ChatibBasri). Visiting Scholar Center for International Development Harvard University di sini komp.as/4daQvsC #AdadiKompas
Harian Kompas tweet mediaHarian Kompas tweet mediaHarian Kompas tweet mediaHarian Kompas tweet media
Indonesia
0
4
8
1.9K