Godliem

17.3K posts

Godliem banner
Godliem

Godliem

@Godliem1

Tdk diciptakan hidup di dunia

Yogyakarta Katılım Ekim 2017
231 Takip Edilen102 Takipçiler
Godliem
Godliem@Godliem1·
woi... nahrawi betulkan itu NU jgn jual ayat, doa , nasab, perdukunan, kemusrikkan, dgn bungkus islam, lo setres lihat org NU kelakuan persis org kafir , trus mengigau..!
iii_chromatic@blue_berets7

🙏🙏

Indonesia
0
0
0
47
Godliem
Godliem@Godliem1·
masih berisik sj,
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, lu pada tahu enggak ada yang baru terjadi di Indonesia yang menurut gue gila banget? Bukan soal rupiah. Bukan soal korupsi triliunan. Bukan soal pejabat mewah. Ini soal Josepha Alexandra siswi SMAN 1 Pontianak yang viral beberapa waktu yang lalu ada cerita dari keluarga beberapa waktu setalah pulang dari lomba itu banyak nomor asing masuk ke WhatsApp-nya. Pesannya begini: "Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi." Seseorang atau sekelompok orang yang tidak mau diketahui identitasnya, mengancam anak SMA lewat WhatsApp. Minta dia hapus video. Ancam somasi. Siswi SMA. Diancam somasi. Karena mempertanyakan ketidakadilan di lomba cerdas cermat. Dan ini yang paling menyayat hati dari seluruh kejadian ini: Josepha stres berat. Hari-hari tidur terus. Pendiam. Berubah drastis. Dan di tengah semua tekanan itu dia bertanya kepada kakaknya: "Kak, apa aku harus minta maaf? Katanya aku yang bikin gaduh..." Baca itu sekali lagi. Anak yang diperlakukan tidak adil yang diancam lewat WhatsApp oleh pihak tak dikenal malah bertanya apakah dia yang harus minta maaf. Karena sistem berhasil membuatnya merasa bahwa dia yang salah. Bahwa dia yang bikin masalah. Bahwa keberaniannya mempertanyakan ketidakadilan adalah sebuah kesalahan yang perlu dimintakan maaf. Dan sementara Josepha stres di rumah apa yang dilakukan juri yang kontroversial itu? Status WhatsApp-nya bocor ke publik. Isinya: "Nggak akan bikin gue jatuh!" Orang yang keputusannya dipermasalahkan pamer kekayaan di status WhatsApp. Sementara anak yang mempertanyakannya stres dan tidur terus di rumah. Ini bukan soal menang kalah lomba: Ini soal apa yang terjadi ketika seorang anak muda Indonesia berani bersuara. Josepha tidak melakukan apa-apa yang salah. Dia mempertanyakan keputusan yang tidak konsisten. Itu bukan bikin gaduh. Itu adalah hak dasar setiap peserta dalam kompetisi apapun di seluruh dunia. Tapi di sini itu direspons dengan ancaman. Dengan intimidasi. Dengan pesan WhatsApp dari nomor asing yang memintanya diam. Dan pertanyaan yang belum dijawab sampai sekarang: Siapa yang mengirim pesan ancaman itu? Dari nomor asing. Mengatasnamakan siapa? Dengan kewenangan apa untuk melayangkan somasi? Kalau memang tidak ada yang salah dalam lomba itu kenapa harus ada ancaman? Kenapa video harus dihapus? Kenapa tidak cukup dengan klarifikasi terbuka? Yang minta video dihapus adalah orang yang takut video itu terus ditonton. Yang takut kebenaran terus beredar. Josepha hafal konstitusi sampai tidur komat-kamit. Dia mempelajari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dengan serius dan penuh dedikasi. Dan pengalaman pertamanya mempraktikkan nilai-nilai itu di hadapan lembaga negara adalah ini: ancaman WhatsApp dari nomor tak dikenal. Tekanan untuk diam. Pertanyaan di dalam hatinya apakah dia yang harus minta maaf. Kalau anak sekecil Josepha saja sudah diajarkan bahwa kejujuran itu berbahaya kita tidak perlu heran kenapa generasi berikutnya memilih untuk tidak peduli. Kita yang mengajarkan mereka untuk tidak peduli. Dengan cara seperti ini. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan berita Liputan6.com 16 Mei 2026. Kasus masih dalam proses penanganan MPR RI. Identitas oknum yang melakukan intimidasi belum diungkap resmi.

Indonesia
0
0
0
3
Wakil Kepala Program Maling Berkedok Gizi
Seorang pria bernama Dico Milandika tewas dikeroyok sekelompok orang disebuah tempat biliar Weston Ultimate, Grogol, Jakbar. Keributan terjadi saat korban membela kekasihnya yg ribut dengan salah satu pelaku. Korban yg mengenakan kaos putih kemudian dikeroyok & dilempar dari lt2
Indonesia
487
633
5K
664.5K