United Focus Indonesia@utdfocusid
Judas. Ular. Kapten yang menjual jiwanya ke Setan Merah bernama Sir Alex Ferguson.
Begitulah cara sebagian besar fans Arsenal membingkai Robin Van Persie setelah musim panas 2012. Jersey nomor 10-nya dibakar di depan Emirates. Namanya disorak setiap kali dia pegang bola. Foto-fotonya dicoret, posternya dirobek.
Dan jujur? Perasaan itu valid dan sangat bisa dimengerti.
Arsenal merawat Van Persie dari hampir nol. Dia datang tahun 2004 sebagai pemuda 20 tahun dari Feyenoord dengan teknik indah tapi tubuh yang ringkih. Kaki kaca, kata orang. Terlalu sering cedera, terlalu susah diandalkan. Tapi Arsenal tetap sabar. Tetap menggajinya bahkan di musim-musim panjang ketika dia lebih banyak di meja fisioterapi daripada di lapangan. Mereka menunggu. Dan kesabaran itu akhirnya terbayar.
Puncaknya di musim 2011/12, RVP meledak. 30 gol Premier League dari 38 penampilan. Sendirian memikul beban serangan Arsenal. Tanpa dia, Arsenal bukan siapa-siapa di musim itu. Hingga akhirnya dia hijrah, bukan ke klub medioker. Bukan ke Serie A atau Bundesliga. Tapi ke Manchester United. Rival abadi. Di liga yang sama. Dan di musim pertamanya, dia langsung juara bersama mereka.
Sakit? Tentu saja sakit.
Tapi di sinilah seringkali narasi berhenti. Di titik emosi. Di titik pengkhianatan. Padahal kalau kita mau sedikit mundur dan melihat lebih jernih, ada fakta yang terpampang jelas di depan mata: Arsenal tidak pernah menawarkan kontrak baru kepadanya.
Bukan RVP yang menolak perpanjangan. Bukan dia yang datang dengan tuntutan gila lalu kabur waktu ditolak. Arsenal, sebagai institusi, memilih untuk tidak melanjutkan kerjasama.
RVP sendiri bicara blak-blakan soal ini: “Saya bisa berjanji demi anak-anak saya, kalau ada yang bisa buktikan bahwa Arsenal pernah menawari saya kontrak baru, saya kasih satu juta pound hari itu juga. Keputusan tidak menawarkan kontrak itu adalah keputusan mereka, bukan saya.”
Dia bahkan tidak diam saja. RVP menyusun 7 poin rekomendasi konkret, hal-hal yang menurut dia perlu dibenahi Arsenal supaya bisa bersaing di level tertinggi. Bukan bocoran ke media. Bukan drama publik. Tapi upaya sungguh-sungguh dari seorang kapten yang masih peduli pada klubnya. Tidak satupun yang diterima. Ketika semua jalan sudah dicoba, ketika kontrak tidak datang, ketika suara tidak didengar, RVP akhirnya menghadapi satu kenyataan sederhana, bahwa dia ingin juara.
“Saya lelah. Saya ada di posisi dimana saya merasa seperti juara, tapi tidak pernah benar-benar meraih gelar juara. Saya harus pergi ke tim yang tau caranya menang.”
Lalu Ferguson menelepon. Dan RVP melihat skuad itu. Giggs, Scholes, Carrick, Vidic, Ferdinand. Nama-nama yang sudah menang berkali-kali, yang tahu rasanya mengangkat trofi: “Saya ingin jadi bagian dari mereka. Bersama mereka saya bisa hajar semua trofi yang ada.”
Musim pertamanya di United? Dia langsung bawa mereka juara Premier League. Hat-trick lawan Villa. Golden Boot untuk tahun kedua berturut-turut, dengan klub berbeda.
Emosi fans Arsenal valid. Sepenuhnya valid.
Tapi pengkhianatan punya definisi yang spesifik. Pengkhianatan adalah ketika lo memilih pergi dari sesuatu yang masih mengulurkan tangan kepada lo. Sementara Arsenal tidak mengulurkan tangan itu.
Judas? Mungkin.
Atau mungkin hanya seorang pemain yang sudah menunggu cukup lama, sudah mencoba bicara, dan akhirnya memilih untuk tidak menunggu lebih lama lagi.
Lo yang nilai.