KuraKuraaLupa

2.9K posts

KuraKuraaLupa

KuraKuraaLupa

@Haende_hnd

DKI Jakarta Katılım Ekim 2017
8 Takip Edilen10 Takipçiler
vi er
vi er@vier4x4·
mereka ada yang sadar gak sih sebenernya kita lagi KRISIS MONETER😭😭😭😭
Indonesia
238
14.3K
57.6K
663.6K
Duta Crypto
Duta Crypto@duta_crypto·
Welcome Rupiah 17.520 per $ 🥲
Duta Crypto tweet media
English
6
2
20
2.6K
KuraKuraaLupa
KuraKuraaLupa@Haende_hnd·
@celaviez gw punya rezeki banyak, gw mau buang buangin orang kaya lu ke pulau terpencil di dunia
Indonesia
0
0
0
233
ciaa ୨ৎ
ciaa ୨ৎ@celaviez·
kalau dikasih rejeki yg berlimpah, klian mau pindah ke negara mana?
Indonesia
616
70
1.1K
48.8K
Denis Malhotra
Denis Malhotra@denismalhotra·
Negara ini hancur lebur bukan oleh bom, bukan oleh bangsa lain, bukan oleh antek asing, dan lain-lain … tetapi oleh 58% manusia-manusia tolol.
Indonesia
94
5.2K
13.4K
141.7K
Denny Anr
Denny Anr@diora_anr·
Rupiah Udah Ath Lagi aja. Padahal baru semalem Penarikan kena Rp. 17.400 $USDC Ke IDR ( Rupiah ) Sekarang Udah 17.500 Sepertinya Soon akan 20Rb .. Sedangkan Gaji kita hanya naik Sedikit .. Siapa yang harus di salahkan di sini?
Denny Anr tweet media
Indonesia
50
1
50
2.1K
KuraKuraaLupa retweetledi
txtangkringan
txtangkringan@txtangkringan·
Mengapa rupiah melemah di tengah fundamental ekonomi yang solid? Mengapa mata uang IDR tertekan justru saat indikator ekonomi domestik kuat? Kita perlu memahami realitas ekonomi global yang semakin kompleks dan saling berkaitan. Rupiah mengalami fluktuasi tajam hingga sempat menyentuh level terendah terhadap dolar AS akibat kombinasi tekanan global: kenaikan suku bunga The Fed, penguatan dolar AS secara global, arus keluar modal dari emerging markets, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya permintaan dolar untuk pembayaran utang berbasis USD. Sekilas kondisi ini tampak seperti sinyal kerapuhan domestik. Jika dicermati lebih dalam, dinamika tersebut justru mencerminkan tekanan eksternal yang sedang dialami banyak negara berkembang secara bersamaan. Perlu dicatat bahwa tidak semua pelemahan mencerminkan kerapuhan ekonomi. Di tengah arus risiko global, indikator ekonomi domestik Indonesia tetap terjaga. Nilai tukar rupiah saat ini bahkan berada jauh di bawah nilai wajarnya (undervalued). Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi tetap diproyeksikan stabil dengan inflasi yang terkendali.
txtangkringan tweet media
Indonesia
2
1
1
514
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
PEMERINTAH DAN RUPIAH BERGERAK KE ARAH YG BERBEDA PEMERINTAH BILANG BAIK2 SAJA, RUPIAH BANTAH KERAS SAMPE TEMBUS LEVEL TERENDAH SEPANJANG SEJARAH Hari ini kita disuguhkan dua berita yang seharusnya membuat kita berpikir keras. Di satu sisi, pemerintah mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen. Di sisi lain, rupiah amblas ke Rp 17.512 per dolar AS Kalau ekonomi kita sedang tumbuh, kenapa mata uang kita justru semakin hancur? Mari kita jujur soal satu hal. Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen yang diklaim pemerintah itu dihitung dari Produk Domestik Bruto atau PDB. Dan PDB adalah angka agregat, artinya ia menghitung total nilai seluruh produksi barang dan jasa di Indonesia tanpa mempedulikan siapa yang menikmati hasilnya. Ketika perusahaan tambang batu bara milik konglomerat mengekspor miliaran ton dan menghasilkan triliunan rupiah, itu masuk hitungan PDB. Ketika properti mewah senilai ratusan miliar berpindah tangan di kawasan elit Jakarta, itu pun masuk hitungan PDB. Tapi ketika ibu-ibu di pasar tradisional tidak mampu beli tempe karena harga kedelai naik, itu tidak terlihat dalam angka pertumbuhan. INDEF sendiri sudah menegaskan dengan lugas: masyarakat bawah belum merasakan pertumbuhan itu. Ini bukan opini pengamat jalanan, ini pernyataan resmi lembaga ekonomi terkemuka Indonesia. LALU KENAPA RUPIAH TERUS MELEMAH? Inilah paradoks yang perlu kamu pahami. Pertumbuhan ekonomi dan kekuatan mata uang adalah dua hal yang berbeda, dan keduanya bisa bergerak ke arah berlawanan secara bersamaan. Rupiah melemah karena beberapa faktor yang saling bertimpa. Pertama, dolar AS menguat secara global akibat kebijakan suku bunga The Fed Amerika yang masih tinggi. Semua mata uang negara berkembang ikut tertekan, dan rupiah tidak terkecuali. Kedua, defisit neraca berjalan Indonesia masih terjadi, artinya kita lebih banyak membayar ke luar negeri daripada menerima pemasukan dari luar. Ketiga, investasi asing yang masuk masih didominasi sektor tertentu dan belum cukup kuat menopang nilai tukar. Keempat, utang luar negeri yang harus dibayar dalam dolar terus menggerus cadangan devisa. DAMPAK NYATA RUPIAH LEMAH BAGI RAKYAT BIASA Ini yang paling penting dan paling sering diabaikan dalam diskusi ekonomi di level atas. Ketika rupiah tembus Rp 17.512 per dolar, harga barang impor naik. Kedelai yang mayoritas diimpor dari Amerika langsung ikut naik, dan harga tahu tempe pun meroket. Gandum impor naik, harga mie instan dan roti ikut naik. Spare part elektronik naik, bengkel ikut menaikkan ongkos. Obat-obatan yang bahan bakunya diimpor, harganya pun terkerek naik. Sementara itu, gaji karyawan swasta tidak otomatis naik hanya karena dolar naik. UMR tidak berubah karena nilai tukar memburuk. Petani kecil tidak mendapat kompensasi karena pupuk impor tiba-tiba mahal. Inilah yang dimaksud INDEF ketika mengatakan masyarakat bawah belum merasakan pertumbuhan ekonomi. Mereka justru merasakan sesuatu yang lain, yaitu tekanan biaya hidup yang terus meningkat dari semua arah. Satu hal yang perlu dipahami secara mendalam adalah bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan bukan prestasi, melainkan bom waktu. Ketika 10 persen orang terkaya menguasai lebih dari 70 persen kekayaan nasional, angka pertumbuhan 5,61 persen itu pada dasarnya hanya mencerminkan bertambah kayanya kelompok yang sudah kaya. Sementara 90 persen masyarakat lainnya berjuang dengan harga-harga yang terus naik, upah yang stagnan, dan rupiah yang nilainya terus tergerus. Pertumbuhan seperti ini ibarat kue ulang tahun yang makin besar, tapi hanya dipotong dan dinikmati oleh segelintir orang yang sudah duduk di meja. Orang-orang yang berdiri di luar ruangan tidak kebagian apa pun kecuali aromanya saja. Jadi ketika kamu melihat headline "Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen" di satu layar dan "Rupiah Tembus 17.512" berhenti sejenak, Angka di kertas bisa dimanipulasi dengan metodologi. Tapi harga di pasar tidak bisa berbohong kepada siapapun.
Hidup sebagai +62 tweet mediaHidup sebagai +62 tweet media
Indonesia
6
21
68
6.1K
Guardian Of Bekasi
Guardian Of Bekasi@rgoestama·
Rupiah mencapai level terlemahnya terhadap USD sepanjang sejarah dgn menyentuh nilai Rp.17.500 per 1 USD. Dgn harga minyak yg masih relatif tinggi, tekanan jd makin besar krn mata uang transaksi pembelian minyak msh didominasi oleh pemakaian USD. 📈💵
Indonesia
8
7
50
4.6K