Haliling
670 posts

Haliling
@HermanAluan
beruntung lah engkau yg merasa hina, agar engkau tetap jadi pemalu.
Kalimantan Selatan, Indonesia Katılım Mart 2011
81 Takip Edilen11 Takipçiler
Haliling retweetledi

@FirdausRid45174 @Dandhy_Laksono ada sebelumnya yang bajakan di YouTube, kalo secara official hanyar dirilis hari ini. secara silaturahmi lumayan dapat pas nobar, walau mungkin di cap oposisi oleh sebagian orang.
Indonesia

@HermanAluan @Dandhy_Laksono Pdhl kn itu ada di yt lo lain di bioskop
Indonesia


@malangraya @RT_com lagi-lagi, ada kaitannya dengan pemilik kecelakaan lumpur Lapindo
Indonesia

A 100-meter-high fireball erupted from a water well being dug in Blang Reubek, North Aceh on May 21, 2026, around 11:30 PM local time. The blast set three houses on fire, forced 52–80 residents to evacuate, and was extinguished after police and PT Pema Global Energi responded.
The blaze—likely caused by a gas pipe strike—has since been extinguished.

English

@HalomoanHa91790 @RT_com because there is someone with a name almost similar to yours, in the current government
English

@RT_com Why is the Indonesian media slow in reporting your coverage?
English
Haliling retweetledi
Haliling retweetledi

PESTA BABI resmi tayang di Youtube. Teman-teman bisa menonton film Pesta Babi di kanal Youtube: youtu.be/MpdrWgDRVf8?si…
Jangan menonton bajakan, ya.

YouTube

Indonesia
Haliling retweetledi
Haliling retweetledi
Haliling retweetledi
Haliling retweetledi

𝗣𝗮𝗿𝗮𝘀𝗲𝘁𝗮𝗺𝗼𝗹 𝟱𝟬𝟬 𝗧𝗿𝗶𝗹𝗶𝘂𝗻
Fundamental ekonomi kita terlihat baik-baik saja. Per Triwulan-I 2026 (yoy) konon tumbuh cukup bagus: 5,61%. Angka itu, kata seorang Menko, melampaui Tiongkok, Singapura, Korea Selatan, bahkan Amerika.
Pada saat bersamaan, ternyata rupiah kita keok di hadapan hampir seluruh mata uang dan IHSG tergencet berminggu-minggu. Juga: investasi menurun, PHK meningkat, daya beli rakyat melemah.
Ada gap antara otoritas dan legitimasi. Gap itu makin melebar. Legitimasi tidak cukup bertenaga untuk menjelaskan bahwa angka 5,61% bisa dipercaya. Ada declining credibility. Di balik angka itu, gaya band aid atau parasetamol menggerojok kencang sekali. Sekadar pereda gejala, bukan penyembuh biang penyakit.
Lantas, (si)apa gerangan biangnya? Simak uraian ini sampai selesai.
youtu.be/uNaVy2ea-aI?si…

YouTube
Indonesia
Haliling retweetledi
Haliling retweetledi

@dhanyindraswara Tentu ada rasa khawatir itu, tapi definisi suksesnya bukan menjadi sesuatu, melainkan membuat/berbuat sesuatu. Lebih khawatir saat dewasa tidak bikin apa2 daripada tidak jadi apa2. :)
Maka, jangan tanya pada anak kalau besar kamu mau jadi apa, tapi tanyakan apa karyamu nanti?
Indonesia
Haliling retweetledi

Dear teman-teman Indonesia New Media Forum alias Homeless Media,
Jujur, saya kecewa berat sama cara main kalian.
Kalian selalu riding the wave isu yang lagi jadi keresahan publik, bahkan terkesan berpihak. Sampai pasang avatar hijau-pink itu, sampai beberapa dari kalian muncul di depan DPR waktu 17+8. Tapi ternyata semua itu cuma modal cari engagement, yang kemudian dimonetisasi dengan mengkhianati ekspektasi audiens kalian: merapat ke rezim.
Kalian sudah kasih bantahan, sampai Tempo merevisi beritanya. Tapi siaran pers istana tak bisa dibendung. Dan tidak ada satupun fakta yang berubah, kalian tetap sudah merapat.
Mau berdalih cover both sides pun tidak akan mengubah kenyataan bahwa pada 10 Maret lalu jauh sebelum Qodari bicara ke publik, kalian sudah duluan ketemu Gibran. Mau diklarifikasi kayak apapun pertemuan ini jadi bukti:
KALIAN SEBENERNYA GA PUNYA MASALAH SAMA REZIM INI.
Dan Qodari melihat celah itu. Menurut saya tujuan Qodari bukan sekadar mau kasih proyek kalian. Tapi mau ngancurin kredibilitas media alternatif yg dianggap pro publik. Dia tau kalian sering pake angle kritis, apalagi pas 17+8. Semua media mainstream sudah dikooptasi rezim, tinggal homeless media. Sekarang tanpa kooptasi, hanya pake sekali siaran pers. hancurlah harapan kami pada kalian. Sekarang coba jelasin, gimana kami masih harus percaya sama kalian?

Indonesia
Haliling retweetledi

𝗨𝗝𝗜𝗔𝗡 𝗣𝗘𝗥𝗔𝗗𝗔𝗕𝗔𝗡 𝗕𝗔𝗡𝗚𝗦𝗔 𝗠𝗔𝗥𝗜𝗧𝗜𝗠...
Lebih dari 8.000 desa di Indonesia berbatasan langsung dengan laut. 16 juta jiwa hidup di garis depan krisis iklim. 60% populasi Indonesia tinggal dalam radius 50 km dari pantai.
Selama ini urusan pesisir dipandang jadi isu pinggiran, padahal inilah inti dari tantangan pembangunan negara maritim. Rob, kenaikan muka air laut, abrasi, dan cuaca ekstrem sudah menggerus kehidupan jutaan warga, pelan tapi pasti, setiap hari.
Kamis, 23 April 2026, kami bergerak. Bersama @RujakRCUS, Universitas @harkatnegeri resmi meluncurkan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP).
Kami berharap PKPP jadi lembaga yang tidak berhenti di laporan akademik, tapi pusat kajian aksi yang mendorong riset menjadi kebijakan, dan kebijakan menjadi perubahan nyata. Sebab pada hakekatnya, ilmu yang tidak kembali ke masyarakat adalah ilmu yang belum selesai.
Tegal kami pilih bukan tanpa alasan. Sebagai kota sekunder sekaligus kota pesisir, Tegal mewakili ratusan kota serupa di Indonesia. Dari sini, kami ingin membuktikan bahwa solusi lokal bisa menjadi pelajaran global.




Indonesia
Haliling retweetledi

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia


Teman2 terimakasih atas video & poster pernyataan dukungannya. Saya sejujurnya penakut. Ini juga membuat sy takut karena siapa sih yg tdk takut berhadapan dengan kekuatan negara sendiri. Namun, saya memilih melawan. Apapun konsekuensinya. Kebetulan negara kita mendukung z10n15. Sekalian kita melawan pro-z10n15. Terus bangkit melawan imperalis!
Indonesia















