Ikhsan Alhaque

633 posts

Ikhsan Alhaque banner
Ikhsan Alhaque

Ikhsan Alhaque

@IAlhaque

“Refleksi sosial-politik yang tenang, tapi tak selalu nyaman. Dari Banjarmasin—membaca yang tampak maupun yang disembunyikan.

Banjarmasin, Indonesia Katılım Mart 2020
294 Takip Edilen169 Takipçiler
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
@txtdarikalsel Tadi pagi ikut menghadiri undangan launchingnya. Banjarmasin 1 tahun lebih tua dari Jakarta.
Indonesia
0
0
0
54
txtdarikalsel
txtdarikalsel@txtdarikalsel·
Logo Resmi Hari Jadi ke-500 Tahun Kota Banjarmasin (1526-2026), yaa betul, Banjarmasin sudah 5 abad wahai sodara-sodara
txtdarikalsel tweet mediatxtdarikalsel tweet mediatxtdarikalsel tweet mediatxtdarikalsel tweet media
Indonesia
3
6
16
1.1K
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Dasi bukan sekadar soal gaya, tapi soal kuasa, identitas, dan sejarah yang tak pernah netral. 1/ Masalahnya bukan soal dasi, tapi tentang siapa yang berhak menentukan makna sebuah simbol. Di banyak negara, dasi adalah standar profesional. Di Iran, justru sebaliknya: pejabat negara memilih untuk tidak memakainya. Ini bukan sekadar pilihan fashion. 2/ Ini juga bukan sekadar penolakan gaya, tapi perlawanan terhadap sejarah yang dianggap memaksa. Pada era Shah Pahlavi, rakyat Iran “dipaksa” tampil ala Barat: jas, topi, bahkan hingga pelarangan hijab. Modernisasi dilakukan, tapi dengan cara yang keras. Dan dari situlah, luka sosial ikut terbentuk. 3/ Narasinya: dasi adalah simbol Barat yang tidak Islami. Realitanya: Banyak warga Iran tetap memakai dasi—di kampus, pesta, hingga sektor swasta. Yang berubah bukan dasinya. Yang berubah adalah maknanya—dari gaya menjadi simbol politik. 4/ Ada satu hal yang jarang dibicarakan: Penolakan terhadap dasi di Iran hari ini, bukan murni soal agama— tapi lebih dekat pada ekspresi populisme revolusioner. Identitas dibangun bukan hanya dari apa yang dipakai, tapi juga dari apa yang sengaja ditolak. 5/ Ironinya, dasi modern justru punya jejak sejarah panjang yang kemungkinan terhubung hingga wilayah Iran kuno. Artinya, yang hari ini ditolak sebagai “simbol Barat” bisa jadi adalah warisan yang pernah sangat dekat. 6/ Pada akhirnya, kita belajar satu hal: Bahwa benda sekecil dasi pun bisa memuat sejarah panjang tentang kuasa, trauma, dan identitas. Dan mungkin, yang kita anggap sekadar gaya— sering kali adalah bahasa politik yang paling halus. Sebab dalam sejarah, yang tampak di permukaan jarang benar-benar sederhana spt yg dibayangkan.
Ikhsan Alhaque tweet media
Indonesia
0
0
2
15
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Kita sambung lagi refleksinya malam ini. Ini ceritanya..... Saat Badai Datang Lebih Cepat Bayangkan sebuah kapal besar yang harus berlayar… hanya dengan dua awak, di tengah badai. Tahun 2002, itulah titik awal Carmelita Hartoto. Saat ayahnya wafat, armada Andhika Lines menyusut drastis—tinggal dua kapal. Ia bukan pelaut. Bukan pula lulusan akademi maritim. Namun keadaan tidak memberinya pilihan. Ia harus pulang ke tanah air. Belajar mulai dari nol. Masuk ke detail operasional yang sebelumnya asing. Beradaptasi di bawah tekanan yang tidak kecil. Dari modal dua kapal itu, perlahan arah dibangun kembali. Bukan dengan kecepatan, tapi dengan ketekunan. Hari ini, Andhika Group tumbuh menjadi jaringan pelayaran dan logistik dengan berbagai entitas usaha. Carmelita memimpin bukan hanya perusahaan, tapi juga ekosistem : INSA, FASA, hingga forum maritim Asia. Jalan itu terhampar bukanlah tanpa ujian. Tahun 2017, ia sempat diperiksa sebagai saksi dalam kasus di Kemenhub—dan tetap berdiri, clear-tanpa status tersangka hingga hari ini. Di titik ini, pelajarannya menjadi semakin jelas : bukan semua orang memilih jalannya. Sebagian… oleh panggilan jiwa dan sebagian oleh karena keadaan. Carmelita mengawalinya dari hal yang ke dua. Dalam badai, yang menentukan bukan besarnya kapal, tapi ketenangan nahkoda membaca arah. Pelajarannya : Kadang hidup tidak meminta kita siap— hanya meminta kita bertahan, lalu belajar. Jika di titikmu sekarang hanya tersisa “dua kapal”, kamu akan berhenti… atau mulai membangun kembali ? #RefleksiHariIni #BeyondTheBrands #
Indonesia
0
0
1
16
Virdika R. Utama
Virdika R. Utama@virdikaa·
Tulisan saya terbit hari ini di China Daily. Saya berargumen bahwa tata kelola yang baik bukan soal proyek besar atau hasil cepat, tetapi kebijakan yang benar-benar memperbaiki hidup masyarakat. chinadaily.com.cn/a/202604/01/WS…
Virdika R. Utama tweet media
Indonesia
1
16
66
1.5K
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
@tb_siswadi Saya follow dokter, selain untuk memperluas silaturahmi juga karena keterikatan moral punya anak yg juga baru jadi dokter umum. 😊🙏
Indonesia
0
0
1
15
Tubagus Siswadi W
Tubagus Siswadi W@tb_siswadi·
Halo semua 😆 Perkenalkan, saya dr.Bagus Seorang dokter umum juga sebagai dokter casemix (yang mengurus BPJS). Ingin konsultasi kesehatan langsung dengan dokter? Dengan subscribe ke akun saya, kamu bisa melakukan telekonsultasi medis pribadi. Tanya apa saja soal gejala, pengobatan, dan pencegahan penyakit ataupun masalah bpjs di RS. Tombol subscribed ada di profile saya, mari kita jaga kesehatan bersama 😊
Indonesia
63
91
657
36.7K
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Terakhir —Masalahnya bukan kita kekurangan solusi, tapi kita sering lupa sejarah, sering melupakan akar budaya dimana kita berada. Apa yang ditulis oleh mba Vera sangat menarik. Ini bukan sekadar soal revitalisasi sungai yang kebanyakan diterjemahkan oleh para pemangku kebijakan kota dengan konsep Waterfront City. Tapi perlu usaha yang lebih keras dan cerdas menjadikan kota sebagai Water Governance City antara lain melalui usaha mengembalikan memori kota. ——— Narasinya : upaya revitalisasi sebagai kota sungai, oleh stakeholders terkait selalu berkutat pada solusi pemanfaatan teknologi dan proyek baru. Padahal realitanya: jawabannya sering sudah ada dalam cara hidup lama yang melembaga menjadi sebuah budaya atau perilaku masyarakat sejak dulu. Harus disadari: bahwa sungai bukanlah masalah yang harus diatasi—tapi sistem yang menopang kehidupan kota. Kalau kemudian sungai itu akhirnya menimbulkan masalah bagi warga yang berada di DASnya, itu adalah ekses dari perilaku kita yang tidak arif dalam membaca tanda-tanda alam. ——— Bagi kota-kota yang berada dalam kawasan Daerah Aliran Sungai, masa depannya bukan tentang memilih antara modern atau tradisional, tapi tentang menyatukan keduanya tanpa kehilangan arah.
Indonesia
0
0
1
11
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Masalahnya bukan perkembangan kota yang terlalu cepat, tapi arah perkembangan yang salah. Ini bukan sekadar soal infrastruktur, tapi soal identitas yang perlahan hilang. ——— Narasinya: jalan, beton, dan ekspansi adalah kemajuan. Realitanya: sungai terpinggirkan, lingkungan menurun, identitas sosial budaya ikut memudar. Insight: ketika kota sungai atau kota yang dibangun di atas rawa dipaksa menjadi kota daratan, yang hilang bukan cuma lanskap—tapi cara hidup. Kalau kota-kota seperti ini ingin maju, ia harus berhenti meniru kota lain, dan mulai jadi dirinya sendiri lagi. Ironisnya banyak pemangku kepentingan yang di amanahi memimpin kota sungai atau kota rawa, suka studi banding ke kota-kota lain yang kondisi geografi, topografi bahkan kulturnya berbeda dengan kota asal. Akhirnya desain kebijakan maupun implementasinya menjadi tidak kompatibel dengan kebutuhan kota itu sendiri. Analoginya, kita memakai pakaian orang lain ditubuh kita. Yang terjadi kebanyakan adalah terlalu ketat atau terlalu gombrong/kebesaran. Mubazir. Kota akhirnya kehilangan identitas utamanya.
Indonesia
1
0
1
16
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Dapat kiriman copy disertasi seorang kolega yg baru menyelesaikan S-3 di University of Groningen–Belanda, yang berjudul: Landscape Biography of Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia. Ijin mba Vera Dian Damayanti, saya membagikan ke pembaca hasil bacaan dan pemahaman saya atas disertasi beliau. Begini kira-kira narasinya: ——— Banyak kalangan bilang, bahwa tidak sedikit kota-kota di Indonesia termasuk Banjarmasin, telah kehilangan sebagian atau hampir seluruh sungai yang dimilikinya. Pendapat ini tidaklah terlampau keliru, tapi tidak juga di katakan benar seutuhnya. Tapi satu hal yang pasti, bahwa cara kita memandang sungai sekarang yang sudah bergeser bahkan berubah. Ini bukan sekadar perubahan perspektif tentang sungai, tapi juga pergeseran cara manusia hidup secara seluruhan dengan alam. ——— Narasinya: pembangunan = modernisasi. Realitanya: semakin modern, semakin jauh dari akar ekologisnya. Untuk kota-kota yang di anugerahi banyak sungai seperti Banjarmasin, jarang dibahas: kota ini dulu tidak “dibangun di darat”, tapi sejatinya “hidup di atas air”. Mungkin sekarang yang perlu dipulihkan bukan hanya sungainya, tapi cara warga dan pemerintah dalam memahami kota itu sendiri.
Ikhsan Alhaque tweet media
Indonesia
1
0
1
30
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
@dayatpiliang Walaupun katanya cuma “bubble”, tapi bikin pihak sebelah sampai kepikiran. Berarti bukan soal wadahnya—boleh jadi isinya yang disampaikan.🤣
Indonesia
0
0
1
19
Dayat Piliang (;)
Dayat Piliang (;)@dayatpiliang·
Alhamdulillah sudah normal kembali. Aku pikir akun aku kena suspend karena ada pihak-pihak yang mungkin ingin membungkam. Tapi, harusnya suaraku tidak terlalu berpengaruh di platform ini, ya, kan? Twitter/X ini kan katanya cuma sekadar bubble yang enggak ada pengaruhnya bagi kehidupan. Harusnya tidak ada yang terganggu, ya.
Dayat Piliang (;) tweet mediaDayat Piliang (;) tweet media
Indonesia
5
0
9
447
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Ijin berpendapat bu Dina, saya melihat bahwa dengan kondisi ini bukan berarti USA langsung melemah scr signifikan, tapi bisa berarti : 1. USA makin sulit mengkonversi superioritasnya militer menjadi dukungan politik kolektif. 2. Sekutu-sekutunya makin rasional dan transaksional. 3. Legitimasi intervensi ala USA tidak lagi otomatis diterima oleh sekutunya dan era “Washington bicara, semua manut” tampaknya makin tidak relevan. l
Indonesia
5
1
12
662
Dina Sulaeman
Dina Sulaeman@dina_sulaeman·
Polandia menolak pengiriman rudal Patriot ke AS. Prancis menolak patroli di Selat Hormuz. Swiss menghentikan ekspor senjata. Italia dan Spanyol menolak penggunaan pangkalan militer. AS semakin lemah. english.almayadeen.net/news/politics/…
Indonesia
57
574
1.7K
14.7K
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
@PecintaSejarah2 Selain itu didapat info bhw kilang minyak Bazan juga tidak mengantongi IMB dan sertifikat tanahnya juga bodong. Jd perlu ada tindakan tegas dan terukur. 😅🫣
Indonesia
0
0
1
77
Pecinta Sejarah Tanah Air (PEJANTAN)
Drone Kamikaze Iran melakukan inspeksi ke Kilang Minyak Bazan, lokasi yang merupakan tempat pengolahan 60% kebutuhan BBM bagi zionis. Drone tersebut langsung bertindak tegas ketika menemukan indikasi bahwa kilang minyak tersebut tidak hanya dijadikan tempat penyulingan minyak, tapi juga telah dijadikan pangkalan bencong-bencong Tel Aviv. Ya, IRGC kini menerapkan regulasi bahwa semua aktivitas di sekitar fasilitas energi di wilayah pendudukan harus berdasarkan izin dari otoritas Teheran. IRGC tidak akan segan-segan melakukan tindakan keras bagi siapapun yang melanggar regulasi yang telah ditetapkan. 😁
Indonesia
8
152
632
22.5K
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Ketika Keberanian Mendahului Kepastian Oregon-USA tahun 1964, saat itu masih sebuah kota kecil yang baru saja di guyur hujan. Dua orang duduk serius di tepi lapangan atletik membicarakan sesuatu yg belum tentu berhasil. Yang satu, Phil Knight-mantan atlit lari yang baru pulang dari Jepang. Dan satunya lain, Bill Bowerman-seorang pelatih atletik dari Oregon University yang tak pernah puas dengan sepatu lari para atlitnya. Dua orang ini berdiskusi panjang, sampai pada akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa : Bowerman percaya bahwa performa sepatu bisa membuat seorang pelari lebih cepat sedangkan Knight percaya ide sederhana bisa menantang para raksasa industri sepatu olahraga yang saat itu dikuasai oleh Adidas dan Puma. Mereka mulai dari hal yang paling kecil: lakukan impor Onitsuka (sekarang namanya Asics), menjualnya dari bagasi mobil dan ditawarkan kepada orang perorang yang latihan atletik di Kampus Universitas Oregon. Seiring proses kulakan sepatu yang hasilnya juga tak terlalu menggembirakan, lalu masalah datang beruntun—distribusi goyah, hubungan dengan pemasok di Jepang retak dan modal makin menipis. Di titik ini, banyak usaha biasanya game over. Namun mereka memilih tetap berjalan. Tahun 1971, lahir nama “Nike”—dewi kemenangan. Lambang Swoosh (seperti tanda centang) itu digambar oleh Carolyn Davidson hanya dibayar 35 dolar. Murah di awal, tapi dalam perjalanannya mahal dalam makna. Nike tak hanya berhenti pada sepatu. Sepatu Air Jordan mengubah fungsinya jadi simbol yang ikonik. “Just Do It” (1988) mengubah iklan penjualan menjadi dorongan batin para konsumen. Mereka juga pernah tersandung—kritik rantai pasok, isu tenaga kerja murah dan sebagainya. Nike belajar, membenahi, lalu melompat dengan inovasi teknologi berupa : Flyknit, Vaporfly, hingga “Move to Zero”. Hari ini, ratusan juta pasang sepatu telah terjual setiap tahun ke penjuru dunia. Berawal dari kebutuhan di lintasan atletik ke gaya hidup, dari penjualan door to door hingga ke online shop, pelajarannya selalu tetap sama: Dunia tidak dimenangkan oleh mereka yang paling siap— tetapi oleh mereka yang berani melangkah, meskipun awalnya ragu. Arah yang besar, seringkali lahir dari langkah kecil yang tidak terlihat. Pernah ada momen kamu tetap jalan, walau belum yakin ? Besok malam, kita lanjut cerita berikutnya. #RefleksiHariIni #BangkitLebihKuat #BeyondTheBrands
Indonesia
0
0
1
25
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
Dampak krisis Selat Hormuz ini seharusnya jadi pengingat keras: ketahanan energi n pangan itu bukan wacana, tapi syarat bertahan hidup sebuah negara. Baru “kesenggol” sedikit saja, banyak negara yg sudah kelabakan—harga naik, pasokan goyah, kebijakan panik mulai bermunculan. Lucunya, kita sering baru bicara kemandirian saat krisis sudah di depan mata. Padahal yg menentukan ketahanan bangsa bukan siapa yg paling kuat di pidato, tapi siapa yg paling siap di dapur dan di tangki. 🫣
Indonesia
0
0
0
7
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
WFH itu boleh2 sj sbg simbol respons cepat, tanggap darurat energi atau apapun nama yg dsematkan dbelakangx tapi hrs dgaris bawahi itu bukan solusi inti. Kalau serius mau hemat energi, pemerintah harus berani pindah dari: 👉 kebijakan kosmetik ke 👉 pembenahan sistemik (transportasi + data + insentif) Kalau tidak, yg terjadi cuman: hemat di headline pemberitaan, tapi fakta dilap.biasa saja. Ini bs jd momentum yg pas bagi pem. untuk perbaiki tata kelola energi. Krn tdk dpungkiri, bs saja terjadi kembali krisis spt ini dimasa depan.
Indonesia
1
0
2
42
Dosen Kesayanganmu
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen·
ada calon doktor bidang enerhi dan minyak dari univ. dundee. Mengkritikh wacana WFH demi hemat BBM... karna tidak efektif utk kalangan buruh dan UMKM. pria punya selera nih, dapat beasiswa LPDP LN. tapi tetap mengkritik pemerintah. rispek 🔥 Pemerintah berencana menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau WFH satu hari dalam sepekan bagi ASN dan pegawai swasta. Langkah ini ditujukan untuk menekan konsumsi BBM nasional hingga 20 persen sebagai respon atas lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah.  Meskipun tujuannya jelas untuk menghemat anggaran negara, kebijakan ini dianggap masih bersifat jangka pendek dan belum didukung oleh perhitungan data yang benar-benar matang.... tapi aneh juga deh. Indonesia itu... ya mmg ga pake data 😌 Nah, Kritik utama utk kebijakan ini adalah potensi munculnya ketimpangan sosial karena WFH hanya bisa dinikmati oleh kelompok pekerja formal. Sebaliknya, puluhan juta pekerja informal seperti pengemudi ojek, pedagang pasar, hingga buruh bangunan tidak memiliki pilihan untuk bekerja dari rumah.  Pemerintah dihimbau untuk tidak hanya fokus pada kelompok formal saja. tp juga memperkuat sistem transportasi publik yang murah dan merata. Perlu ada insentif digital bagi sektor swasta serta basis data yang lebih akurat mengenai karakteristik konsumsi energi di setiap daerah. baca utuhnya ya :  theconversation.com/kebijakan-wfh-…
Dosen Kesayanganmu tweet mediaDosen Kesayanganmu tweet media
The Conversation Indonesia@ConversationIDN

Pemerintah perlu memikirkan pendekatan lanjutan yang berkeadilan bagi masyarakat menengah ke bawah yang tidak memiliki kemewahan untuk WFH. theconversation.com/kebijakan-wfh-…

Indonesia
14
146
448
50.1K
Ikhsan Alhaque
Ikhsan Alhaque@IAlhaque·
x.com/i/status/20389… Mereka awalnya datang dengan armada, keyakinan n narasi besar—seolah kekuatan selalu cukup untuk menundukkan segalanya. Menuju tanah dan budaya yg tak mrk pahami , ddukung rencana muluk yg terdengar rapi di atas kertas. Tapi sejarah n medan perang punya kebiasaan yg sama: ia tdk pernah tunduk pada retorika. Yang berangkat dgn gagah n mentereng, sering kali pulang dlm sunyi—tak seutuh saat mrk datang n tdk sedikit yg pulang dgn daftar nama.
Media Indonesia@mediaindonesia

Mereka membawa perlengkapan tempur, dukungan udara, serta unit reaksi cepat yang dirancang untuk operasi ekspedisi, termasuk pendaratan amfibi dan misi tempur cepat. mediaindonesia.com/internasional/…

Indonesia
0
0
1
13