sya@arsenatasyas
Arsenal bakal dibantai PSG di final?
Arsenal masuk final UCL tanpa predikat tim unggulan, terlepas mereka belum kalah di UCL musim ini dan baru kebobolan 6 kali. Alasannya karena katanya rute Arsenal menuju final lebih gampang, “cuma” lawan Leverkusen, Sporting, Atletico. Arsenal belum teruji melawan giants, they said.
Aku jadi keinget sama salah satu buku yang aku baca, “David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants” karya Malcolm Gladwell. Goliath tuh prajurit raksasa, sedangkan David cuma anak gembala yang dikirim buat ngelawan Goliath berbekal ketapel dan batu. Buku ini tuh tentang gimana seseorang yang nggak diunggulin tapi tetap bisa menang lawan musuh terkuat. Mungkin, pertandingan final nanti bisa jadi ajang pembuktian tesis di buku ini.
PSG datang ke Budapest dengan cara seorang pemenang datang ke pesta yang bakal dia kuasai. Gimana nggak, PSG udah lolos ujian ngelawan klub-klub besar kayak Liverpool, Chelsea, Bayern dengan cara meyakinkan. PSG tuh tesis bola yang bergerak kayak nyala api: cepat, lapar, menyebar ke segala arah, membakar siapapun yang terlambat membaca pergerakannya. Mereka diunggulin karena mereka juga pernah menang lawan Arsenal di semifinal musim lalu. Jadi, “angin” memang mengarah ke PSG yang berambisi buat back to back juara UCL.
Di sisi lain lapangan Budapest, Arsenal hadir dan kehadirannya justru dipertanyakan karena sepanjang knock out, Arsenal cuma menang dengan skor tipis. Tapi, kalau dari buku ini, aku belajar bahwa hal yang dilihat sebagai kekurangan justru bisa jadi kelebihan. Menjadi tim dengan defense terbaik dan masih cukup produktif, tim ini jelas masih punya kans untuk juara UCL pertama kali. Bahan bakar untuk menang juga diperkuat memori pahit semifinal musim lalu yang secara data dan xG, Arsenal tampil lebih baik. Plus, musim lalu Arsenal juga main tanpa line up terbaik waktu lawan PSG. Gladwell banyak nulis soal gimana seseorang yang nggak diunggulkan dengan motivasi “dendam” sering perform di luar ekspektasi.
Tapi Gladwell juga ngingetin kalau seseorang yang nggak diunggulkan bukan berarti selalu menang. Salah satu kuncinya tuh apakah si David mengubah aturan main atau nggak. Kalau Arsenal coba mengimbangi PSG dalam adu gol dan eksplosivitas, mereka mungkin bakal kesulitan. Tapi kalau mereka menggunakan sistem dan cara mereka sendiri, seperti David yang menolak duel pedang dan memilih ketapel, ceritanya bisa aja berbeda. Arsenal harus bisa ngajak PSG untuk main dengan cara Arsenal.
Final di Budapest ini tuh pembuktian yang pas sama tesis Gladwell. PSG adalah Goliath dengan semua tanda-tanda kemenangan. Arsenal adalah David, tim yang nggak diunggulin karena cara mereka bermain berbeda.
When the world wanted to make David king, the world didn’t send him a crown. The world sent him Goliath. Arsenal seharusnya nggak boleh merasa inferior karena bermain nggak se-ofensif lawan dan lawan lebih diunggulkan. Don’t misread “weakness” as defeat.
Apapun bisa terjadi di final.