RJT↙️@joglodejava
“HIV ITU HOAX. AIDS ITU AKIBAT MINUM ARV.”
Saya mau cerita tentang sesuatu yang saya lihat dengan mata kepala sendiri.
Seorang abdi negara datang dengan tubuh kurus dan ceking.
Dia memakai jaket, topi, masker—seluruh tubuhnya tertutup rapat.
Saat masuk ruang perawatan, perlahan dia membuka semuanya.
Baru saya mengerti apa yang selama ini dia sembunyikan.
Seluruh tubuhnya melepuh.
Dari kepala sampai ujung kaki kulitnya terkelupas.
Luka di mana-mana. Nyeri. Gatal.
Mulutnya penuh luka dan jamur.
Jangan tanya apakah dia bisa makan.
Tentu hampir tidak bisa.
Dia juga diare, batuk, lemah sekali—gambaran yang sering kami lihat pada pasien dengan HIV stadium lanjut yang imunitasnya sudah jatuh.
Setelah keluar dari perawatan, kami belum langsung mulai ARV.
Kami stabilkan dulu kondisinya.
Saya berikan Cotrimoxazole selama 2 minggu untuk mengobati infeksi oportunistik, plus obat jamur dan terapi untuk keluhan kulitnya.
Dua minggu kemudian, dia datang kontrol.
Saya lihat perubahan.
Luka-luka di tubuhnya mulai mengering.
Mulutnya jauh membaik.
Dia sudah mulai bisa makan.
Berat badannya naik 1 kg.
Keluhan yang dulu menyiksa perlahan berkurang.
Saya ikut senang melihatnya.
Lalu kami mulai ARV.
Sebulan kemudian dia datang lagi.
Kali ini… tanpa masker.
Wajahnya bersih.
Matanya hidup.
Tubuhnya tegap.
Ternyata dia pria yang sangat gagah—tinggi, berwibawa.
Memang masih ada bekas luka di sana-sini.
Tapi dia sudah sangat berbeda.
Jadi ketika ada orang yang belum pernah merawat pasien HIV, belum pernah melihat pasien sekarat karena infeksi oportunistik, lalu datang mengajari saya bahwa:
“HIV itu ilusi.”
“ARV yang bikin AIDS.”
Maaf.
Saya tidak bisa menukar ratusan bukti nyata dengan teori konspirasi dari internet.
Saya sudah melihat terlalu banyak nyawa tertolong oleh Antiretroviral therapy.
Saya melihat orang yang tadinya tidak bisa makan… kembali makan.
Yang tadinya tinggal tulang… kembali berisi.
Yang tadinya menunggu ajal… kembali bekerja, merawat keluarga, dan hidup normal.
Opini boleh.
Curiga boleh.
Bertanya juga boleh.
Tapi jangan sampai ketidaktahuan membuat kita menyesatkan orang lain.
Karena satu postingan yang salah…
bisa membuat seseorang menolak pengobatan.
Dan pada HIV, menunda terapi bisa berarti kehilangan nyawa.
Ilmu kedokteran bukan dibangun dari omong kosong atau copy-paste status.
Ilmu dibangun dari penelitian, data, dan bukti nyata pada manusia.
Dan saya sudah melihat buktinya sendiri
“Kalian melihat teori di layar.
Kami melihat pasien di depan mata.
Kalian membaca rumor.
Kami menyaksikan siapa yang hidup… dan siapa yang meninggal.”
Pernyataan dari Dr. @Febelin Idjie ElsaMom