𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾@Naz_lira
Bagi saya, PIK2 adalah monumen kerja nyata (sekalipun digarap oleh imperialis oligarki swasta), tapi (saat ini) bukan negara dalam negara.
Ada batasan tafsir antara “Kenyamanan” dengan “Kedaulatan.” Narasi “Negara dalam Negara” hanyalah opini subyektif yg dipicu oleh emosional spontan saat melihat keteraturan yg gagal diciptakan oleh birokrasi pemerintah, namun berhasil diwujudkan oleh tangan swasta.
Faktanya, secara hukum (de jure) dan fakta (de facto), PIK2 masih di bawah bendera Indonesia. Polisi, pajak, dan izinnya masih produk pemerintah. Jika di sana lebih teratur, lebih mewah, dan lebih disiplin, itu adalah manajemen kawasan komunitas, bukan pemisahan kedaulatan.
Sebuah pandangan absurd menganggap keteraturan sebagai pengkhianatan nasional hanya karena sebagian besar orang terbiasa dengan kesemrawutan.
PIK2 adalah manifestasi dari “Perjuangan Mewujudkan Impian” oleh sekelompok orang yg bergerak membangunnya sendiri, disaat negara dianggap lambat menyediakan standar hidup yang ideal.
Mereka bahkan sama sekali tidak protes, tapi mereka membangun impian.
Bahwa didalamnya ada misi jangka panjang, menengah, pendek, keuntungan ekonomi yg besar, rencana politik tersembunyi dan lain sebagainya, itu mungkin-mungkin saja. Tapi perkara PIK2 pada akhirnya terwujud sebagai sebuah “Karya Nyata”, itu merupakan kerja real dari pihak-pihak yg mewujudkan impiannya.
Bukankah hal yg sama pula yg kini hendak dilakukan Amerika dan Israel terhadap “New Gaza” melalui konsorsium BoP-nya..?
Jadi point pentingnya adalah sebuah “Kesadaran”. Yakni sadar bahwa “Keteraturan” itu mahal harganya, butuh kerja keras dan pengorbanan. Dalam kasus PIK2, pengorbanan oligarki itu adalah IKN yg dibayar dengan PSN (walaupun pada akhirnya dicabut di era pemerintah Presiden Prabowo), bukan hasil dari rapat-rapat retorik tanpa aksi.
Dalam banyak hal, “Impian” dapat diwujudkan dengan spirit berjuang dengan keras dan sungguh-sungguh, termasuk hal-hal yg menyangkut impian membangun hukum, konstitusi, demokrasi serta ekonomi yg madani.
Fakta hari ini, PIK2 merupakan produk dari hasil “Perjuangan Mewujudkan Impian” dalam “Keteraturan dan Kemewahan” didalamnya. Ia adalah prasasti fisik yang menampar wajah para pemimpi di siang bolong.
Jika pun kelak dikemudian hari impian itu menuju kepada “Kedaulatan dan Otoritas Pemerintah Eksklusif”, boleh jadi juga akan terwujud, sepanjang intensitas kekuatan semangat yg sama dalam “Perjuangan Mewujudkan Impian” tersebut dengan segala pengorbanannya ditunaikan oleh para pihak yg hendak mewujudkannya.
Intinya tidak ada perwujudan impian yg gratis, kecuali impian “bunga tidur” dari para pecundang yg ngelindur. PIK2 sejatinya adalah monumen yang dapat dijadikan tonggak pengingat, bahwa Impian hanya bisa diwujudkan dengan “Perjuangan dan Pengorbanan”, bukan sekedar omon omon dan omon di medsos, namun enol kosong didunia nyata.
Ingat, kekalahan dan keterpurukan itu bukan karena orang jahat itu hebat dan kuat, tapi karena orang baik tidak mau bangkit, kompak, berjuang dan berkorban mewujudkan impiannya.