brokokok

6.7K posts

brokokok banner
brokokok

brokokok

@JNSWAD

gym entusia

DKI Jakarta, Indonesia Katılım Aralık 2015
1K Takip Edilen177 Takipçiler
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Satu lelaki bahagia semua lelaki merasakannya itu bener habis nontn video si rambut merah ini
Indonesia
0
0
0
7
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Cari yg mother care dimana zaman skrg
Indonesia
0
0
0
1
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Inikan negara yg hanya bisa beli beli dan beli
Indonesia
0
0
0
3
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Ibu guru ini punya DNA jepang
Indonesia
0
0
0
6
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Bahlil juga nonton kala itukan
Indonesia
0
0
0
4
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Guysss...
English
0
0
0
2
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Dia ini kritis utk menuju ke system, nanti klo sdh di system ya sama aja
Indonesia
0
0
0
1
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Untuk peradaban konoha yg masih seumur jagung nonsen
Indonesia
0
0
0
0
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Udahla sama sama koruptor kalian sdh 10 tahun lu kemana aja ???
Indonesia
0
0
0
0
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Mimpi pas lgi demam
Indonesia
0
0
0
12
brokokok
brokokok@JNSWAD·
@inilahdotcom Pemerintah konoha lagi sibuk bagi2 duit nanti juga mereka kabur ke eropa
Indonesia
0
0
22
10K
inilahcom
inilahcom@inilahdotcom·
Kedutaan Besar Iran di Indonesia mengunggah pesan dalam bentuk kode morse melalui akun resminya di platform X pada Selasa (7/4/2026). Selain itu, unggahan tersebut juga disertai rekaman suara dari pesan kode morse yang sama. Sebelumnya, akun resmi Kedutaan Besar Iran di Pakistan juga mengunggah pesan serupa pada Senin (6/4/2026), namun dengan isi berbeda. Pesan tersebut berbunyi, “The time is passing and something is about to happen,” atau “Waktu terus berjalan dan sesuatu akan segera terjadi.”
Indonesia
51
531
2.7K
283.2K
brokokok retweetledi
Boediantar4
Boediantar4@Boediantar4·
Mari kita do'akan agar Pangeran Chales masuk Islam.... Aamiin....!!
Indonesia
11
165
537
7.7K
brokokok
brokokok@JNSWAD·
Cocok buat prjabat yg studi banding ke LN. Minimal PIK dlu la
𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾@Naz_lira

Bagi saya, PIK2 adalah monumen kerja nyata (sekalipun digarap oleh imperialis oligarki swasta), tapi (saat ini) bukan negara dalam negara. Ada batasan tafsir antara “Kenyamanan” dengan “Kedaulatan.” Narasi “Negara dalam Negara” hanyalah opini subyektif yg dipicu oleh emosional spontan saat melihat keteraturan yg gagal diciptakan oleh birokrasi pemerintah, namun berhasil diwujudkan oleh tangan swasta. Faktanya, secara hukum (de jure) dan fakta (de facto), PIK2 masih di bawah bendera Indonesia. Polisi, pajak, dan izinnya masih produk pemerintah. Jika di sana lebih teratur, lebih mewah, dan lebih disiplin, itu adalah manajemen kawasan komunitas, bukan pemisahan kedaulatan. Sebuah pandangan absurd menganggap keteraturan sebagai pengkhianatan nasional hanya karena sebagian besar orang terbiasa dengan kesemrawutan. PIK2 adalah manifestasi dari “Perjuangan Mewujudkan Impian” oleh sekelompok orang yg bergerak membangunnya sendiri, disaat negara dianggap lambat menyediakan standar hidup yang ideal. Mereka bahkan sama sekali tidak protes, tapi mereka membangun impian. Bahwa didalamnya ada misi jangka panjang, menengah, pendek, keuntungan ekonomi yg besar, rencana politik tersembunyi dan lain sebagainya, itu mungkin-mungkin saja. Tapi perkara PIK2 pada akhirnya terwujud sebagai sebuah “Karya Nyata”, itu merupakan kerja real dari pihak-pihak yg mewujudkan impiannya. Bukankah hal yg sama pula yg kini hendak dilakukan Amerika dan Israel terhadap “New Gaza” melalui konsorsium BoP-nya..? Jadi point pentingnya adalah sebuah “Kesadaran”. Yakni sadar bahwa “Keteraturan” itu mahal harganya, butuh kerja keras dan pengorbanan. Dalam kasus PIK2, pengorbanan oligarki itu adalah IKN yg dibayar dengan PSN (walaupun pada akhirnya dicabut di era pemerintah Presiden Prabowo), bukan hasil dari rapat-rapat retorik tanpa aksi. Dalam banyak hal, “Impian” dapat diwujudkan dengan spirit berjuang dengan keras dan sungguh-sungguh, termasuk hal-hal yg menyangkut impian membangun hukum, konstitusi, demokrasi serta ekonomi yg madani. Fakta hari ini, PIK2 merupakan produk dari hasil “Perjuangan Mewujudkan Impian” dalam “Keteraturan dan Kemewahan” didalamnya. Ia adalah prasasti fisik yang menampar wajah para pemimpi di siang bolong. Jika pun kelak dikemudian hari impian itu menuju kepada “Kedaulatan dan Otoritas Pemerintah Eksklusif”, boleh jadi juga akan terwujud, sepanjang intensitas kekuatan semangat yg sama dalam “Perjuangan Mewujudkan Impian” tersebut dengan segala pengorbanannya ditunaikan oleh para pihak yg hendak mewujudkannya. Intinya tidak ada perwujudan impian yg gratis, kecuali impian “bunga tidur” dari para pecundang yg ngelindur. PIK2 sejatinya adalah monumen yang dapat dijadikan tonggak pengingat, bahwa Impian hanya bisa diwujudkan dengan “Perjuangan dan Pengorbanan”, bukan sekedar omon omon dan omon di medsos, namun enol kosong didunia nyata. Ingat, kekalahan dan keterpurukan itu bukan karena orang jahat itu hebat dan kuat, tapi karena orang baik tidak mau bangkit, kompak, berjuang dan berkorban mewujudkan impiannya.

Indonesia
0
0
0
9
brokokok retweetledi
𝐋𝐈𝐑𝐀 ⁽ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ⁾
Bagi saya, PIK2 adalah monumen kerja nyata (sekalipun digarap oleh imperialis oligarki swasta), tapi (saat ini) bukan negara dalam negara. Ada batasan tafsir antara “Kenyamanan” dengan “Kedaulatan.” Narasi “Negara dalam Negara” hanyalah opini subyektif yg dipicu oleh emosional spontan saat melihat keteraturan yg gagal diciptakan oleh birokrasi pemerintah, namun berhasil diwujudkan oleh tangan swasta. Faktanya, secara hukum (de jure) dan fakta (de facto), PIK2 masih di bawah bendera Indonesia. Polisi, pajak, dan izinnya masih produk pemerintah. Jika di sana lebih teratur, lebih mewah, dan lebih disiplin, itu adalah manajemen kawasan komunitas, bukan pemisahan kedaulatan. Sebuah pandangan absurd menganggap keteraturan sebagai pengkhianatan nasional hanya karena sebagian besar orang terbiasa dengan kesemrawutan. PIK2 adalah manifestasi dari “Perjuangan Mewujudkan Impian” oleh sekelompok orang yg bergerak membangunnya sendiri, disaat negara dianggap lambat menyediakan standar hidup yang ideal. Mereka bahkan sama sekali tidak protes, tapi mereka membangun impian. Bahwa didalamnya ada misi jangka panjang, menengah, pendek, keuntungan ekonomi yg besar, rencana politik tersembunyi dan lain sebagainya, itu mungkin-mungkin saja. Tapi perkara PIK2 pada akhirnya terwujud sebagai sebuah “Karya Nyata”, itu merupakan kerja real dari pihak-pihak yg mewujudkan impiannya. Bukankah hal yg sama pula yg kini hendak dilakukan Amerika dan Israel terhadap “New Gaza” melalui konsorsium BoP-nya..? Jadi point pentingnya adalah sebuah “Kesadaran”. Yakni sadar bahwa “Keteraturan” itu mahal harganya, butuh kerja keras dan pengorbanan. Dalam kasus PIK2, pengorbanan oligarki itu adalah IKN yg dibayar dengan PSN (walaupun pada akhirnya dicabut di era pemerintah Presiden Prabowo), bukan hasil dari rapat-rapat retorik tanpa aksi. Dalam banyak hal, “Impian” dapat diwujudkan dengan spirit berjuang dengan keras dan sungguh-sungguh, termasuk hal-hal yg menyangkut impian membangun hukum, konstitusi, demokrasi serta ekonomi yg madani. Fakta hari ini, PIK2 merupakan produk dari hasil “Perjuangan Mewujudkan Impian” dalam “Keteraturan dan Kemewahan” didalamnya. Ia adalah prasasti fisik yang menampar wajah para pemimpi di siang bolong. Jika pun kelak dikemudian hari impian itu menuju kepada “Kedaulatan dan Otoritas Pemerintah Eksklusif”, boleh jadi juga akan terwujud, sepanjang intensitas kekuatan semangat yg sama dalam “Perjuangan Mewujudkan Impian” tersebut dengan segala pengorbanannya ditunaikan oleh para pihak yg hendak mewujudkannya. Intinya tidak ada perwujudan impian yg gratis, kecuali impian “bunga tidur” dari para pecundang yg ngelindur. PIK2 sejatinya adalah monumen yang dapat dijadikan tonggak pengingat, bahwa Impian hanya bisa diwujudkan dengan “Perjuangan dan Pengorbanan”, bukan sekedar omon omon dan omon di medsos, namun enol kosong didunia nyata. Ingat, kekalahan dan keterpurukan itu bukan karena orang jahat itu hebat dan kuat, tapi karena orang baik tidak mau bangkit, kompak, berjuang dan berkorban mewujudkan impiannya.
Indonesia
55
158
1K
25K