Sabitlenmiş Tweet
Artemisyu
2.6K posts

Artemisyu retweetledi

AKU KATAKAN SEKARANG : Side Job Terbaik Buat Gen Z Dengan Keadaan Ekonomi Sekarang

Tanyarl 💚@tanyakanrl
💚 infokan side job pliss, biar waktu luang ttp cuan😭
Indonesia
Artemisyu retweetledi
Artemisyu retweetledi

Tertinggal bukan berarti usai. Balasan empat gol yang berkelas! Tiga poin berhasil diamankan #PERSIB malam ini 💙
#PERSIBDAY #WeArePERSIB

Indonesia

@tanyakanrl Ikut freenlance co barang ku mau ga nder? Fee st 3-100k per co nyaa. Btw ini free
Indonesia
Artemisyu retweetledi

“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.


Indonesia
Artemisyu retweetledi

@jasontoddreveng TITIP JUGA!!!!!. Ada juga kasus ks yang di lakuin dosen cowok bergelar S3 di kampus bukan top Ten. Sudah negosiasi, dan cuman berhenti mengajar 1 tahun. Korban rata2 anak bimbingannya. Korban gak bisa apa2 dilarang bersuara, karna backingannya rektor kampus tersebut.
Indonesia
Artemisyu retweetledi

daripada terus melarang dan menyuruh perempuan untuk ini dan itu, mengapa tidak sedari awal menanamkan dan mengajarkan kepada anak laki laki terkait batasan, empati, serta bentuk respect terhadap sesama manusia?
persoalan ini sejatinya terletak pada kegagalan mendidik anak laki laki. orang tua yang gagal mendidik anak laki lakinya untuk tumbuh sebagai manusia yang beradab dan bertanggung jawab.

Indonesia
Artemisyu retweetledi

Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆
Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat?
Karena ada yang namanya “disinhibisi online”.
Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan.
Ditambah lagi efek peer pressure.
Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward:
• Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju”
• Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle
• Dopamin naik.
Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal.
Masalahnya?
Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi.
Empati ke perempuan turun.
Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek.
Ini bukan hal sepele.
Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke:
• Pelecehan verbal
• Pelecehan seksual
• Bahkan kekerasan seksual
Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”.
Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur.
Makanya penting banget buat sadar:
Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding.
Itu conditioning.
Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain…
Tapi ke cara otak memandang manusia..
Indonesia

@tanyarlfes malming gini santuy aja nder🤭 maaf oot guys, contohnya isi kuisioner aku ya😔 Thankss before❤️
docs.google.com/forms/d/e/1FAI…
Indonesia

@tanyarlfes aku sudah isii kak!
maaf oot guys, ada yg bersedia isi kuisioner aku gak ya😔 Thankss before❤️
docs.google.com/forms/d/e/1FAI…
Indonesia

@tanyakanrl coba download Roblox nderr hehe seru main.
maaf oot guys, ada yg bersedia isi kuisioner aku gak ya😔 Thankss before❤️
docs.google.com/forms/d/e/1FAI…
Indonesia

@tanyakanrl maaf oot guys, ada yg bersedia isi kuisioner aku gak ya😔 Thankss before❤️
docs.google.com/forms/d/e/1FAI…
Indonesia
Artemisyu retweetledi

@tanyakanrl sender kalo mau tips belajar bahasa inggris atau mau gue ajarin sedikit sedikit boleh kabarin gue yaa, kebetulan gue sedikit beruntung bisa belajar sastra inggris dan punya pengalaman ngajar bahasa inggris juga🙌
Indonesia
Artemisyu retweetledi

@nahdlatululama Ngamuk² masalah nunduk, giliran ngerusak tambang + korupsi dana haji, diem aja, emang badjingan kalian semua
Indonesia
Artemisyu retweetledi

BREAKING ⚠️ the Indonesian islamic organization PBNU is trying to silence the facts presented by the national television TRANS 7 about bad habits in spreading Islam (bullying, child labor exploitation, behaviors against Islamic law) and this is PBNU (Nahdlatul Ulama) looks like
Nahdlatul Ulama@nahdlatululama
Karena sudah berulang, karena sudah keterlaluan, karena bernada sinis. Bahkan cenderung menghina nilai-nilai pesantren.
English












