
̶H̶e̶r̶m̶a̶w̶a̶n ̶N̶o̶v
16K posts

̶H̶e̶r̶m̶a̶w̶a̶n ̶N̶o̶v
@KikeHermawan
𝕵𝖚𝖛𝖊𝖓𝖙𝖎𝖓𝖔






Guys Jusuf Kalla baru bicara dan ada beberapa angka yang gw rasa penting banget untuk lo dengar. JK bilang defisit di atas 3% itu berbahaya. Dan dia benar secara prinsip fiskal. Semakin besar defisit semakin besar cicilan dan bunga utang yang harus dibayar. Kalau porsi utang terhadap anggaran sudah 40 sampai 50 persen negara tidak punya ruang gerak. Semua uang habis bayar utang. Tidak ada yang tersisa untuk bangun apapun. Tapi ada satu angka lain yang JK sebut yang justru lebih mengkhawatirkan gw dari soal defisit itu sendiri. Transfer ke daerah. Dulu 30 persen dari total pengeluaran pemerintah mengalir ke daerah. Sekarang tinggal 17 persen. Dipotong hampir setengahnya. Dan ini yang perlu lo pahami konsekuensinya secara nyata. Pendidikan di daerah itu dibiayai sebagian besar dari transfer pusat ke daerah. Kesehatan juga. Infrastruktur jalan kabupaten juga. Kalau transfernya turun dari 30 ke 17 persen itu bukan angka abstrak. Itu guru yang tidak digaji tepat waktu di pelosok. Puskesmas yang kekurangan obat. Jalan kabupaten yang rusak dan tidak diperbaiki. Jakarta mungkin tidak terlalu merasakan. Tapi 500 lebih kabupaten dan kota di luar Jawa mereka merasakan langsung. Dan ini terjadi di saat yang sama dengan kondisi paling berat dalam beberapa tahun terakhir. Harga bahan pokok naik perlahan mengiris penghasilan. Rupiah di 17 ribu. Subsidi energi membengkak. Dan pemerintah pusat sendiri sedang kehabisan ruang fiskal. Jadi situasinya begini. Pemerintah pusat keuangannya tertekan jadi potong transfer ke daerah. Daerah keuangannya tertekan jadi potong layanan publik. Rakyat di daerah yang menanggung dalam bentuk sekolah yang kekurangan, jalan yang rusak, dan puskesmas yang minim. JK bilang daerah adalah kumpulan dari negara. Dan kalau kumpulan itu melemah negaranya yang melemah. Defisit boleh dijaga di bawah 3% di atas kertas. Tapi kalau caranya adalah memotong yang langsung menyentuh rakyat paling jauh dari Jakarta angka yang cantik di laporan keuangan itu dibayar dengan harga yang sangat mahal di lapangan.

Bagi yang pernah pilih Prabowo di tahun 2014 dan 2019 tapi nggak milih dia di tahun 2024, ada hal yang harus Anda sadari, yaitu: ANDA BISA SALAH. Jadi, misal Anda sekarang yakin Anies Baswedan itu adalah harapan Indonesia di masa depan, bisa saja Anda salah. Iya, kita bisa salah. Maka jangan terlalu sebegitunya belain orang karena kita nggak pernah tahu isi hatinya yang sesungguhnya.

VIDEO: Hashim: MBG Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja cnnindonesia.com/tv/20260318130…



Laporan : @BANGSAygSUJUD 🤣




Tambahan: Untuk yang menuding bahwa MBG telah menyedot anggaran terbesar di Anggaran Pendidikan 2026, dan telah membuat anggaran yang dialokasikan untuk kesejahteraan Guru, Dosen dan Tendik berkurang, maaf, data kalian keliru ya. Coba cek lagi. Penggunaan terbesar Anggaran Pendidikan justru dialokasikan untuk kesejahteraan Guru, Dosen, dan Tendik, berupa Gaji dan Tunjangan. Total alokasi Gaji dan Tunjangan Guru, Dosen, dan Tendik sebesar Rp274,7 Triliun atau 35,72% dari total Anggaran Pendidikan 2026 yang besarnya Rp769,08 Triliun. MBG menggunakan Anggaran Pendidikan sebesar Rp223,5 Triliun atau sekitar 29,06% dari total Anggaran Pendidikan 2026. Gaji dan Tunjangan Guru, Dosen, dan Tendik ini justru naik Rp30,10 Triliun dibanding Anggaran Pendidikan 2024 yang belum ada program MBG. Besarnya alokasi Gaji dan tunjangan Guru, Dosen, dan Tendik tahun 2024 adalah Rp244,6 Triliun. Jadi, pada Guru, Dosen, dan Tendik tak perlu khawatir dengan keberadaan MBG. Karena, faktanya tidak mengurangi alokasi untuk kesejahteraan kalian. Yang perlu khawatir itu bila ekonomi negara kita turun akibat instabilitas, akibat pembangunan tidak berjalan, karena acap ribut dan bertikai sehingga investasi dan dunia usah terganggu. Jika ekonomi negara kita terus tumbuh, dan target Presiden @prabowo pertumbuhan 6%-8% per tahun tercapai, maka pastilah APBN kita juga akan naik setiap tahun. Jika APBN terus naik tentu akan berdampak alokasi Anggaran Pendidikan juga akan makin tinggi, sehingga Gaji dan Tunjangan Guru, Dosen, dan Tendik pun sangat mungkin naik. Sekedar berbagi. 🙏 FK



"Apakah program makan bergizi ini mengurangi program pendidikan? Saya jawab, tidak. Faktanya, tidak ada program strategis pendidikan dari periode sebelumnya yang tidak berjalan sekarang," ujar Seskab Teddy. Baca di: nasional.kompas.com/read/2026/02/2… ~WR #MakanBergiziGratis #SeskabTeddy

Clear yah, jangan DFK terus lah ya, keliatan gak berkualitas SDM para pengasong ya Kritiklah untuk kebaikan tetapi waspadai penumpang gelap bertujuan jahat agar program kerakyatan ini dihentikan hanya gegara alasan ketakutan 2029 kalah telak karena program MBG nyata manfaatnya










