LeonKST93

135 posts

LeonKST93

LeonKST93

@LeonKST93

Katılım Nisan 2026
267 Takip Edilen213 Takipçiler
َ
َ@dutaror·
masih jauh perjalananku ini ror
َ tweet media
Indonesia
35
7
28
1.4K
LeonKST93
LeonKST93@LeonKST93·
Day 1 cenblu baru buka akun tolong bantuin ya guys kalau lewat tl kalian nanti aq fb
LeonKST93 tweet media
Indonesia
28
6
23
611
Nitya4u
Nitya4u@Nitya_4u·
Verified ✅ or unverified ☑️ No account should be under 7.5k followers 🫵 Comment 👉 hello Let’s follow you now 🚀
Nitya4u tweet media
English
502
56
243
5.6K
yabai02
yabai02@yabai010·
day 20 cenblu nih bree, udaa bagus engga? kasih saran and opini nya dong
yabai02 tweet media
Indonesia
43
9
31
1.1K
yabai02
yabai02@yabai010·
ada yang lagi ngejar 500 cenblu kah? kalo ada mana gua bantu post di twit gua, siapa tau bisa rame and tembus
Indonesia
58
5
35
1.2K
LeonKST93 retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Saya usul kembali ke buku matematika SD tahun 90an. Buku fisik dan semua harus punya. Buku ini, materinya sederhana dan diulang-ulang. Kalimat yang digunakan sangat efektif, sederhana, singkat, dan mudah dipahami. Tidak terlalu banyak gambar² ilustrasi yang mengalihkan perhatian anak saat belajar. Anak ke sekolah tidak perlu bawa hape. Orangtua didiklat soal screen time dan harus menerapkan di rumah pakai aplikasi parental kontrol. Tidak usah menggunakan media pembelajaran digital selama SD. Kecuali guru dan orangtua MEMILIKI LITERASI DIGITAL YANG TINGGI.
listyantidewi tweet medialistyantidewi tweet medialistyantidewi tweet medialistyantidewi tweet media
IF@IFnubia

ANAK SMA GAK BISA NGITUNG! Kurang lebih begitu judul provokatif di beberapa video pendek yang sempat saya tonton. Saya kurang percaya. Apa iya: penjumlahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian dasar saja, lambat? Sampai akhirnya beberapa hari terakhir mengharuskan berinteraksi lumayan intens dengan beberapa anak SMA baru (akan) lulus di sebuah kabupaten pesisir. Remaja dengan aktivitas biologis sedang galak-galaknya, banyak menghabiskan waktu scrolling tiktok, sekolah asal lulus, tapi bisa makan MBG sampai 5 ompreng karena sekolah mereka selalu diberikan jatah lebih. Muridnya sedikit. Bagusnya: mereka mau mengerjakan apa saja asal "bisa hidup". Mulai dagang cilok di gerobak dorong, membantu di warung, sampai jadi tulang urut panggilan. Ternyata benar, mereka sangat lambat berhitung. Perkalian dasar setingkat SD saja lemah. Perlu bermenit-menit menghitung 8 kali tiga. DELAPAN KALI TIGA! sampai-sampai seluruh jari tangannya dikeluarkan semua, dipakai menghitung dengan cara menjumlahkan. Saya mengurut dada. Dada sendiri. Sedih. Kecewa. Marah. Semua campur aduk. Bukan marah kepada mereka pribadi, karena biar bagaimana, mereka adalah PRODUK pendidikan. Pendidikan formal di sekolahan, di rumah, dan di lingkungan. Dan, ini saya sampaikan kepada mereka pelan-pelan dengan bahasa amat sederhana. Bahasa sederhana yang sekiranya dipahami oleh mereka yang seumur hidup belum pernah membaca satu buku pun hingga tuntas. Bukan salah menteri dengan kebijakan asal-asalannya, karena jangan-jangan mereka pun TIDAK PAHAM atau di bawah todongan. Pun bukan salah sekolah, apalagi orang tua. Yang tidak tahu tidak bisa dikenakan delik, bukan? Abad-21 dipenuhi piranti canggih, namun pengguna kecanggihan tersebut kalah telak oleh generasi dua ribu tahun lalu, atau abad pertengahan, jauh sebelum renaissance. Kala itu manusia usia belasan tahun sudah siap mandiri, sendiri mengarungi kehidupan. PR terbesarnya kemudian: bagaimana 'menyembuhkan' mereka, yang semula sebagai PRODUK GAGAL sistem pendidikan, menjadi generasi tangguh, terampil, cerdas sekaligus mandiri di tengah tantangan dunia yang semakin berat? Berat. Sangat berat. *** Stella, ini buktinya. Tiap hari makan MBG sampai 5 ompreng pun TIDAK bikin cerdas.

Indonesia
142
1.5K
3.9K
89.7K