Libra Wati retweetledi
Libra Wati
6.2K posts

Libra Wati retweetledi

Pernyataan dr Tifa
Bismillahirrahmanirrahiim.
Beberapa hari ini saya memilih menarik diri sejenak dari berbagai urusan.
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, saya ingin memusatkan diri pada ibadah: sholat, tadarus, membaca kitab-kitab hikmah, dan lebih banyak berdiam di rumah.
Dalam keheningan itu, saya tetap mengikuti perkembangan yang terjadi di luar. Termasuk kabar tentang Rismon Hasiholan Sianipar yang mengajukan Restorative Justice kepada Jokowi di Solo. Saya mencermatinya sesekali, dari jarak yang tenang.
Terus terang, saya menyesalkan langkah tersebut.
Saya tidak berada pada posisi yang sama dengannya. Dan InsyaAllah, atas izin Allah serta dukungan yang terus mengalir dari banyak pihak, saya tidak akan pernah memilih jalan rendah seperti yang dipilih Rismon.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Tetapi hidup sering menempatkan manusia pada tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Tekanan itu bisa berupa ancaman yang kasar, tetapi sering kali justru lebih kuat dalam bentuk yang jauh lebih halus: bujukan, iming-iming, kompromi, yang menimbulkan ketakutan yang perlahan menggerogoti keberanian dan akal sehat.
Berbagai isu yang beredar tentang dirinya, mulai dari soal ijazah S2 dan S3 dari Jepang hingga kabar mengenai surat keterangan kematian yang konon dibuat oleh istrinya, tentu bukan perkara ringan bagi siapa pun.
Saya memahami bahwa tidak semua orang mampu memikul beban semacam itu sendirian.
Karena saya sendiri sedang menghadapi persoalan dengan orang yang sama, mantan Presiden Jokowi, saya cukup mengenal karakter Rismon. Selama ini saya mengenalnya sebagai sosok yang berani, blak-blakan, dan bernyali, serta cermat dalam analisis.
Dalam banyak kesempatan, saya melihat ia memang memiliki kepakaran yang nyata di bidangnya. Soal tidak punya ijazah itu perkara lain. Karena kepakaran seseorang tidak melulu diukur dari ijazah. (Di sini sebagai mantan kawan saya berbisik: "Why, Mon, kenapa kau musti palsuin ijazah, sih?")
Langkah yang Rismon ambil saat ini, setidaknya dalam penilaian saya, terasa asing. Tidak mencerminkan kemandirian sikap yang biasanya kita tunjukkan.
Saking liar dan mandirinya, kadang saya dan mas Roy suka kewalahan dan geleng-geleng kepala melihat segala manuvernya sambil berkata: " Piye to adikmu kuwi?*
"Lha embuh!* Jawab saya.
Setahun ini kami bertiga memang sudah seperti saudara dekat. Seia sekata dan senasib sepenanggungan.
Hanya kami sedih karena kepada kami pun dia tidak terbuka. Padahal dalam ilmu yang dia tekuni, dia betul-betul hebat.
Namun kekecewaan terbesar saya justru bukan kepada Rismon.
Kekecewaan terbesar saya tertuju kepada mantan Presiden Jokowi dan lingkar kekuasaannya.
Demi menepis tuduhan tentang ijazah yang dipersoalkan publik, cara-cara yang digunakan sungguh kejam, keji, dan sangat menyakitkan: menghancurkan reputasi orang, menekan hingga kehilangan ruang bernapas.
Hal yang sama pernah menimpa Bambang Tri. Juga Gus Nur.
Dan kini sejarah itu seperti berulang.
Pada Rismon, dibuat hancur harga diri melata begitu rendah tak berdaya.
Kekuasaan seharusnya melindungi rakyat. Bukan alat untuk membungkam mereka yang bersuara.
Tetapi sejarah selalu mengajarkan satu hal: kekuasaan yang digunakan untuk membungkam kebenaran pada akhirnya justru memperbesar gema kebenaran itu sendiri.
Namun saya tidak ingin larut dalam kemarahan.
Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri, menjaga hati tetap jernih, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Mengetahui.
Saya memilih jalan yang berbeda.
Dengan dukungan banyak orang, dan dengan sepenuhnya berserah kepada Allah, saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini.
Perjuangan untuk kebenaran memang sering kali sunyi.
Kadang juga menyakitkan.
Tetapi kebenaran memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh kekuasaan:
ia tidak pernah benar-benar bisa dimatikan.
Selama masih ada satu orang saja yang berani berdiri, kebenaran akan tetap hidup.
Dan saya memilih untuk tetap berdiri.
Salam,
Tifa

Indonesia
Libra Wati retweetledi

MALU DENGAN PRESIDEN PRABOWO
Kebenaran dan pemikiran sehat itu bisa muncul dari siapapun. Suara Ismail, WNI di Iran ini jauh lebih jernih dan lebih sesuai nurani bangsa Indonesia dibanding sikap dan opini Presiden RI dan suara Istana.
Strategi dari dalam yang jadi penjelasan Istana mengapa Indonesia ikut BOP sebenarnya hanyalah alasan pembenar agar para pemimpin ormas beragama saat dikumpulkan di istana bisa memahami dan menerima sikap Prabowo yang pro pada Trump dan Israel. Padahal dukungan Presiden RI yang percaya dan mendukung Trump dan Israel inilah yg membuat AS jadi lebih yakin untuk menyerang dan membunuh para pemimpin Iran, karena mereka merasa telah didukung pemimpin negara yang memiliki 285 juta penduduk dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia.
Jadi sadarkah jika kedekatan dan dukungan pada Trump itu sama saja Indonesia mendukung sepak terjang Trump termasuk perang yang dia lakukan sekarang?
Padahal selama ini Indonesia adalah penyeimbang kekuatan geo politik dominasi Barat maupun Timur. Kita ada di tengah memimpin gerakan Non Blok sejak Presiden Sukarno. Tiba tiba jadi inkonsisten berubah “penurut” dan “Pengikut” saat AS sedang dipimpin oleh Presiden Trump yang disebut “Sakit Jiwa”.
Ada apa dan Mengapa pak Prabowo bisa lebih memilih membela Trump dari pada membela pemimpin pemimpin masa lalu dan bapak bangsa Indonesia? Apa kepentingan politik yang sebenarnya terjadi?
Mengapa Indonesia jadi mentolerir Arogansi Trump dan Zionis Natanyahu menyerang dan membunuh pemimpin negara lain yang berdaulat? Apakah hal seperti itu sesuai dengan Amanah Konstitusi kita?
Apa pak Prabowo dan orang orang Istana lupa bahwa alinea 1 pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai perikemanusiasn dan perikeadilan”. Terus serangan AS dan Israel ke Iran, ke Gaza dll dengan tujuan membunuh para pemimpinnya, mengganti pemerintahan yang sah itu sekarang ditafsir oleh Istana sesuai dengan bunyi pembukaan konstitusi kita?
Indonesia
Libra Wati retweetledi

Duka Cita ditengah Harapan Baru
Kamis, 5 Maret 2026 kami menghadiri acara Petisi dan Doa bersama atas terbunuhnya pimpinan tertinggi Iran Ayatullah Seyed Ali Khamemei oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel di kediaman Dubes Iran di Jakarta, terpancar harapan baru perubahan tatanan dunia yang selama ini dikendalikan oleh AS (dan Israel).
Iran telah muncul mematahkan arogansi AS dan Israel.
Iran bisa tampil sebagai “pemimpin baru dunia” - selain karena Iran memang negara yang sudah ribuan tahun memiliki peradaban yang sangat kuat dan maju - juga karena mereka memegang 3 (tiga) prinsip : (1) hormati dan bela kemanusiaan, (2) bela agama, dan (3) tegakkan kedaulatan negara.
Namun sangat disayangkan bahwa sejak perjuangan kemerdekaan dan saat Merdeka, Indonesia sebenarnya juga dibangun di atas 3 (tiga) prinsip perjuangan tersebut, namun atas bujukan (atau ketakutan) terhadap Donald Trump justru Indonesia memilih meninggalkan prinsip tersebut dan sepertinya lebih memilih bergaung dengan AS dan Israel. Suatu pembalikan arah perjuangan yang sangat drastis.
Perubahan arah tersebut bisa disebabkan karena : (1) sudah kehilangan prinsip dan arah perjuangan bangsa, (2) kebodohan, (3) pemimpin merasa paling tahu dan paling benar, (4) pembantu Presiden sangat tidak kompeten, (5) kombinasi.
Kita pantas prihatin atas pilihan posisi Indonesia yang sepertinya lebih memilih bergabung bersama AS dan Israel dan berhadapan dengan perjuangan Palestina dan Negara pendukung.
Saat sebagian besar Negara koalisi Amerika Serikat selama ini seperti Negara Eropa (NATO) memilih meninggalkan AS dan Israel dan memilih mendukung perjuangan Palestina, justru Indonesia memilih bergabung bersama AS (dan Israel).
Atas keprihatinan posisi Indonesia tersebut, kami sebagian rakyat Indonesia yang tergabung dalam komunitas GMKR (Gerakan Merebut kembali Kedaulatan Rakyat) menyerahkan pernyataan duka cita dan dukungan kami kepada Iran untuk melawan AS dan Israel. Dukungan tersebut didasarkan pada pelaksanaan UUD 1945. Semoga penyerahan dukungan tersebut bisa menjadi satu lilin kecil di tengah “kegelapan” hubungan Iran dengan Indonesia yang sangat terlambat meberikan ucapan duka cita atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.
Kami berharap agar tidak ada pihak lagi yang antara Syiah dan Sunni karena perjuangan Iran adalah untuk menyelamatkan kemanusiaan dan peradaban dunia yang sedang dihancurkan oleh AS dan Israel - bukan masalah Agama.
Kami berharap semoga Pemimpin Indonesia menyadari kesalahan memilih posisi dalam konflik Iran melawan AS+Israel yang terkesan sangat kuat memilih bersama AS+Israel. Perubahan tersebut Insya Allah belum terlambat.
Indonesia
Libra Wati retweetledi

Presiden Prabowo jika dibiarkan akan makin banyak melakukan kesalahan kesalahan yang mungkin tidak ia sadari hingga menyulitkan Indonesia di masa sekarang dan masa depan.
Nampaknya pak Prabowo dapat masukan yang salah dari orang sekelilingnya. Bahkan terkesan ada yang ndorong atau membiarkan ia membuat keputusan yg salah. Terutama terkait penandatanganan ART, keikutsertaannya dalam BOP, hingga keengganannya mengevaluasi total MBG.
Trump yg menurut banyak pihak (di beberapa negara, termasuk di Amerika sendiri) dianggap sebagai presiden AS yang sakit jiwa. Suka perang dan campur tangan ke negara lain. Tapi malah dituruti, diikuti, dan dipercaya bahkan dijadikan Aliance atau sekutu. Ini membuat presiden Prabowo terjebak kesepakatan dengan Trump, kata pak JK.
Persoalannya orang sakit jiwa seperti Trump mengapa diikuti, dituruti, dan dipercaya oleh Presiden kita !!? Sudah begitu, salah langkah ini masih dibenarkan dan dibela bela oleh pendukung atau buzzer konoha. Kasian dan menyulitkan posisi Pak Prabowo jadinya.
Indonesia
Libra Wati retweetledi

Presiden Prabowo Tidak Ucapkan Duka Cita Atas Meninggalnya Sayyid Ali Khamenei Kepala Negara Iran? Mengapa?
Saya belum menemukan ucapan duka cita dari Presiden Prabowo terhadap meninggalnya Sayyid Ali Khamenei, yang merupakan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Secara de facto, saat wafat, Sayyid Ali Khamenei adalah kepala negara Iran. Presiden Prabowo adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan negara Indonesia. Sementara Iran dan Indonesia adalah negara sahabat, punya relasi diplomatik yang kuat dan hubungan kerjasama tak hanya antardua negara juga di tingkat internasional.
Tapi anehnya, ada kepala negara sahabat meninggal, Prabowo tidak mengucapkan kesedihan dan duka cita. Secara etika dan adab ketimuran, raibnya ucapan duka cita itu patut dipertanyakan.
Apalagi ketika pecah serangan AS dan Israel terhadap Iran, Prabowo melalui Kementrian Luar Negeri, buru-buru menawarkan diri menjadi juru damai dan bahkan siap berangkat ke Teheran, Iran, suatu sikap yang bisa dipuji sebagai kepedulian untuk perdamaian, tapi, bagaimana mau jadi juru damai dan mau ke Teheran, mengucapkan duka cita saja tidak dilakukan?
Bagaimana mau diterima di Teheran oleh tuan rumah, kalau tatakrama saja tidak ditunaikan?
Karena itu muncul kritik hingga pesimisme pada tawaran Prabowo menjadi juru damai dan mau ke Teheran yang disebut-sebut hanya untuk memoles citra diri dan mencari panggung diplomatik untuk pemberitaan dan branding, bisa dibilang keinginanannya muluk-muluk dan melangit, tapi hal dasar, etika persahabatan: mengucapkan duka cita saja tidak dilakukan.
Apakah Prabowo merasa tidak enak, atau mungkin takut (?) pada Donald Trump dan Benjamin Netanyahu? Karena meninggalnya Sayyid Ali Khamenei akibat dari serangan militer AS dan Israel.
Tapi apakah hanya karena afiliasi politik dan konflik politik sehingga mematikan nurani kemanusiaan sampai-sampai tidak mengucapkan bela sungkawa?
Katanya Indonesia punya prinsip "bebas aktif" tapi presidennya tidak bisa "bebas" walau hanya mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara sahabat.
Bukankah Indonesia tidak sedang berperang atau berkonflik dengan Iran? Bukankah Indonesia sama-sama punya hubungan diplomatik dengan AS dan Iran, meskipun keduanya sedang terjadi konflik, harusnya posisi Indonesia tetap bisa "bebas aktif" antara keduanya, jadi apa hambatan Presiden Prabowo tidak mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara Iran?
Kalaupun terjadi konflik bukan alasan untuk membunuh rasa kemanusiaan, bukankah junjungan kita Nabi Muhammad Saw tetap berdiri dan menghormati saat ada iring-iringan jenazah orang Yahudi, meskipun saat itu berkecamuk konflik antara umat Islam di Madinah dan umat Yahudi.
Saya berharap Pak Prabowo punya keberanian mengucapkan duka cita atas berpulangnya kepala negara sahabat: Sayyid Ali Khamenei, selain pertimbangan etik, humanistik, juga diplomatik, syukur-syukur benar-benar jadi ke Teheran Iran untuk menjadi juru damai.
Mohamad Guntur Romli

Indonesia
Libra Wati retweetledi
Libra Wati retweetledi

Jadi UU ini tidak diperlukan !!!
@prabowo
UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
Warning untuk warga Indonesia 🚨
Data loe dipakai bisnis rezim ini.

Indonesia
Libra Wati retweetledi
Libra Wati retweetledi

Gw bangga tidak memilih Prabowo-Gibran yang membawa
Indonesia menjadi antek Amerika Serikat dan Sahabat Israel.
#FREEPALESTİNE

Indonesia
Libra Wati retweetledi
Libra Wati retweetledi

Ya Allah...Prabowo ini benar-benar menjadi musibah terbesar bangsa ini👇
Edy Bayo Regar@regar_op0sisi
Tahun 1945 Amerika menolak kemerdekaan Indonesia. Apes banget negeri ini punya presiden.
Indonesia
Libra Wati retweetledi

Al-fatihah almarhum adik kita, .
🤲 arianto tawakal (maluku)
Dan al-fatihah untuk saudara saudara kita
🤲 Afif maulana (Padang)
🤲 Gamma (semarang)
🤲 Affan Kurniawan (jakarta)
Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu

Opposisi6890@Opposisi6890
Biadab loe ,Bangsat 🫵
Indonesia
Libra Wati retweetledi

Bapak Presiden @prabowo yth, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif Presiden Trump, seharusnya semua perjanjanjian yg Bpk dan Menteri tandatangani kemarin, harus batal demi hukum dan tdk berlaku, tmsk pembelian BBM, pesawat dll.
Indonesia
Libra Wati retweetledi
Libra Wati retweetledi
Libra Wati retweetledi

Bapaknya akan mati-matian demi PSI.
Adeknya akan peras darahnya demi PSI.
Kalo ada yg bilang, hal diatas sedang memperlihatkan Jokowi yg lagi cemas, khawatir, ketakutan melihat masa depan Gibran itu wajar dan sepertinya betul, Krn hny PSI yg skrng mau mendukung Gibran.
Sy cuma mau bilang kasian kamu pak @jokowi.

Indonesia
Libra Wati retweetledi
Libra Wati retweetledi

Setelah melumpuhkan KPU, KPK, dan lembaga-lembaga independen lainnya, hasil reformasi, pelumpuhan dilanjutkan ke MK. Secara institusional, independensi MK dihilangkan. Secara personal, kwalitas hakim konstitusi yang seharusnya negarawan, direndahkan menjadi bisa diisi figur yang problematik secara etik. Berikut adalah rilis media CALS, hasil diskusi Membongkar Borok Seleksi Hakim MK. Silakan bisa dikutip.


Indonesia



