Mei retweetledi

ini anabel & asumsi aja ya. tapi biasanya, semakin privileged orang tsb, semakin gampang buat mereka untuk ngutarain pendapatnya karena adanya psychological safety. mereka juga cenderung lebih berani take risks (termasuk risiko sosial kayak vocal di publik) karena stakes-nya lebih rendah. ya kalo gagal atau salah karena kevokalannya, masih ada safety net. santai aja.
beda sama yang ekonominya biasa aja atau kurang mampu, mostly ya mereka di survival mode. energinya udah abis duluan mau vokal, ya kerjain aja apa yang bisa dikerjain aja. makanya lebih mikir kalo mau nanya/engaged ke hal-hal yang ganggu stabilitas mereka.
nah kalo diliat demografi & keadaan ekonomi mahasiswa ui, itb, dan ugm kayaknya emang beda ga sih secara garis besar keadaan ekonominya? (ini asumsi bgt ya, idk datanya gmn)
Dhokowaski@irdaflaohdir
Dari ngobrol sama sesama Kagama aku ngerasa bahwa : UI, ITB > UGM (dalam urusan vocal even mungkin salah, sedangkan UGM nunggu di tanya pendapat baru jawab) Ditaraf nasional, pembicara kegiatan lebih banyak UI, ITB dari UGM padahal UGM secara knowledge setara
Indonesia









