Lutfi
4.8K posts

Lutfi
@Lutfi_nr
Pictures are parts of memory. This is not review, this is sharing experience about film. You can read reviews, but everyone have their own experience.


⏱️ DURASI & RATING Runtime: 2 jam 52 menit — lebih pendek dari Oppenheimer (3 jam 9 menit). Rating: R (dewasa), jadi bukan tontonan buat anak kecil. Best experience: cari bioskop yang punya layar IMAX 70mm asli kalau mau dapat visual paling maksimal.



Ready to make his mark. The Manchester United family welcomes you, @04Andrey 🤝🔴




Ada yang kenal sosok ini? Namanya Andriawan Pratikto alias Mas Tito, konten kreator transportasi favoritku 😁 Mas-mas asal Blitar ini adalah reviewer andalanku dalam urusan transportasi umum. Di channel Youtube beliau ada banyak video review kereta api dan bus, bahkan ada pesawat dan kapal laut juga. Videonya enak ditonton karena pembawaannya santai dan banyak guyon. Tapi review-nya tetap serius dan detail. Aku sering dapat detail penting tentang kereta atau bus dari video Mas Tito. Misalnya tentang kursi nomor berapa aja di kereta ekonomi yang dapat jendela full. Tanpa nonton videonya, mungkin aku cuma dapat setengah jendela atau bahkan ga dapat. Kalo kamu mau naik transum jarak jauh, aku saranin cek reviewnya dulu di channel Andriawan Pratikto. Aku ga kenal beliau secara pribadi, tapi aku rekomendasikan karena aku sering terbantu. Semoga kalian juga bisa terbantu 🤙

Memperingati 8 tahunnya wuooohh mantab! 👍

FYI, angka RERATA 200K per hari itu sudah terjadi dan bahkan jauh terlampaui (tahun lalu saja 350K). Tapi kalau mau tiap hari STABIL 200K ya memang tidak bisa, bioskop itu bisnis cyclical dan seasonal, selalu akan ada hari ramai dan sepi, weekend dan weekday, libur dan kerja. Nah terlepas dari itu, bila mau diskusi pengaruh streaming silakan, tapi menurut saya sih jangan menggunakan data yang keliru.



🚨 Five new diaspora players are on John Herdman’s shortlist ahead of the AFC Asian Cup, Erick Thohir confirms. — @noorkorompotalks via IG

Ada teori dalam marketing: "Semakin niche suatu produk, maka edukasi ke market makin panjang. Butuh biaya dan waktu lebih banyak sebelum terjual." Misalkan kamu jualan: "Supplemen Fitness" Emang bisa sekali jualan langsung laku? Sulit 😩 Perlu edukasi dulu: - Kandungan - Keamanan - Siapa produsennya Sampai akhirnya market tahu dan yakin. Beda cerita kalo kamu jualan: "Basreng" Semua orang tahu basreng. Edukasi ke market jadi lebih pendek: - Biaya - Waktu Packaging rapi & harganya menarik, udah pasti mudah laku 👍 Begitu juga buat produk FILM. Tiket film horor mudah terjual. Karena orang udah tahu ekspektasinya pas nonton: - Ketegangan - Dapat jumpscare - Seru Sedangkan film festival kayak PARA PERASUK, orang gak punya bayangan filmnya kayak apa. Berarti edukasinya perlu lebih panjang. Butuh biaya & waktu lebih banyak. Nah, jujur PARA PERASUK ini bikin kaget. Tahu-tahu tayang di bioskop. Review dari kritikus sebenernya membantu. Tapi butuh LEBIH BANYAK dan SERING. Sampai akhirnya market tahu, penasaran, dan tertarik. Dan salah satu marketnya adalah aku. Tapi, pas mau nonton udah keburu turun layar. Andai geliat marketing PARA PERASUK lebih awal sebelum tayang, kayaknya bakal punya cerita berbeda.


temanya yg di luar mainstream not that cup of tea for casual moviegoers

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

mvs setuju bgt sama ini, wregas juga bahkan sutradara indo pertama yg pernah menang di cannes

Siapa sutradara yang hampir semua karyanya masuk sama selera kalian dan menurut kalian jarang banget gagal setiap bikin *mvs



Betul, Gen Z idolanya adalah Smash dengan lagu andalan “Cenat Cenut”


Sekarang makin banyak yang pindah haluan ke idol Thai. Fanservice banyak yang lebih oke, cost-nya nggak segila K-pop :) Kenapa INDONESIA belum bisa bikin ekosistem per-idolan sampai kayak gitu ya… Thailand aja bisa..


