am I your type?
249 posts

am I your type?
@MarshaSalima
Go fuck yourself! i dont mind




Baru tau gua cewek ada juga razia rambut





yap! unpopular opinion about relationship



Apel di Bawah Hujan Usai Libur Lebaran, Bupati Situbondo dan ASN Basah-basahan Baca di: surabaya.kompas.com/read/2026/03/2…




aku dulu pernah iseng ngajar les privat door to door (disclmr: nominal hanyalah ilustrasi) di keluarga A— minta rate Rp40.000 per sesi, itu pun setelah ibunya nawar a-lot. selama sesi belajar, anaknya belajar ogah-ogahan, moody, kadang nunggu dulu dia 'siap' belajar dan waktu itu pernah paling parah bisa 60% sendiri dari durasi sesi yang aku sediakan. aku dapet suguhan minum air putih aja udah alhamdulilah, seringnya lupa tapi. mereka pernah beberapa kali cancel jadwal belajar yang sudah ditentukan sebelumnya, parahnya pernah cancel di tempat (aku udah datang di rumahnya tapi anaknya masih ada acara di sekolah dan nggak ada konfirmasi sebelumnya kalau hari itu cancel 😣), tanpa ganti uang kompensasi/transport dan ibunya cuma wa 'iya nih, dia masih ada acara sekolah kak, off dulu ya, tq', padahal aku udah sebelumnya ngosongin jadwal dan juga udah ngusahain jauh-jauh datang sampai depan rumah di keluarga B— ibunya setuju sejak awal di rate Rp70.000 per sesi sesuai dengan yang aku ajukan dan itu rate standar/pasaran ngajar ke rumah waktu itu anaknya disiplin belajar, secara kemampuan sebenarnya anak ini sedikit di bawah anak rumah A tadi, tapi anak ini lebih tekun, mau mencoba, aktif nanya, attitude baik dan dia udah siap belajar di waktu yang ditentukan. ortunya pun selalu nanyain mau minum apa plus selalu dikasih snack buat aku selama ngajar. nggak pernah cancel jadwal, apalagi cancel mendadak, sekalipun terpaksa cancel ibunya nawarin untuk ganti uang transport/ganti full sesi sejak itu aku berprinsip, di bidang jasa - nominal rate itu bukan sekadar imbalan kita atas waktu, tenaga, pikiran dan biaya lain, tapi juga pemfilter mana konsumen yang beneran serius mau memanusiakan pakai jasa kita atau memang mereka cuma mental gratisan, mental mendang-mending, yang ketika diberi kerendahan hati di nominal lebih murah bukan menghargai kesempatan itu tapi malah beneran merendahkan pemberi jasa itu sendiri.


















