ArchAngels
41 posts





The story of the world fattest man that consumes 30,000 calories a day






Jumat Agung: Saat Logika Dunia Bertekuk Lutut Mengapa Yesus Lebih Digdaya daripada Jenghis Khan Coba tebak: siapa yang lebih berhasil? Seorang penakluk dengan 24 juta kilometer persegi kekaisaran dengan jutaan keturunan, atau seorang terhukum yang mati di kayu Salib, tanpa tanah, tanpa anak, tanpa seorang pun pengikut yang berani membelanya? Menurut logika dunia, jawabannya jelas: Jenghis Khan. Menurut iman Kristen, justru di situlah letak kejutan. Jumat Agung bukan hari untuk merenung dengan tenang. Ini adalah hari ketika logika dunia—logika yang baru tiga belas hari lalu diucapkan Perdana Menteri Israel di Yerusalem—berhenti dan bertekuk lutut di kaki salib. Pada 19 Maret 2026, @netanyahu mengutip sejarawan Will Durant. Katanya: "Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Jenghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, dan cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi." Mari kita jujur. Kalau logika Netanyahu benar, maka salib adalah kegagalan total. Yesus mati sia-sia.Para martir adalah orang bodoh. Dan kita yang hari ini berkumpul di gereja, kita sedang membuang waktu. Apakah Anda berani mengatakan itu? Jika tidak, berarti ada yang salah dengan logika Netanyahu. Jumat Agung Bukan Hari Membela Yesus dengan Angka Jumat Agung adalah hari untuk mengakui dengan jujur: Yesus kalah dalam ukuran dunia. Dan justru di situlah kemenangan yang tak terukur berada. Yesus pernah bersabda, "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan mewarisi bumi." (Matius 5:5) Kata Yunani yang dipakai untuk kata "lemah lembut" adalah praus. Bukan berarti lembek. Artinya kekuatan yang terkendali sepenuhnya oleh kasih. Ibarat seekor kuda perang yang terlatih, punya kekuatan besar, tetapi memilih untuk taat. Di kayu salib, Yesus bisa memanggil dua belas pasukan malaikat (Matius 26:53). Ia tidak melakukannya. Bukan karena Ia lemah. Justru disitulah letak kekuatan pengendalian diri-Nya. Paulus menulis, "Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat." (1 Korintus 1:27) Jenghis Khan membangun kerajaannya di atas mayat. Yesus membangun Kerajaan-Nya di atas pengampunan. Yang satu bertahan beberapa generasi, lalu runtuh. Yang lain sudah bertahan dua ribu tahun dan terus tumbuh. Pertanyaan yang Tak Terelakkan Jika logika Netanyahu benar, bahwa hanya kekejaman yang menjamin kemenangan, mengapa Gereja yang lahir dari seorang terhukum justru menjadi institusi tertua dan terbesar yang masih bertahan di dunia? Mengapa nama Yesus masih disebut, sementara nama para panglima perang lagendaris tersebut sudah terlupakan? Dan sekarang, pertanyaan untuk Anda: Jika Anda merasa harus selalu terlihat menang: dalam karier, dalam debat, dalam reputasi, dalam hidup, maka Anda mungkin lebih percaya pada logika Jenghis Khan daripada pada salib. Hanya saja Anda membungkusnya dengan bahasa rohani. Jumat Agung Bukan Akhir Esok adalah Sabtu Sunyi. Kubur masih tertutup. Semua gelap. Tapi kita tidak perlu melompat ke Paskah hari ini. Cukup tinggal di kaki salib, bersama Maria, bersama Yohanes, bersama para perempuan yang tidak ikut-ikutan lari. Karena iman sejati tidak selalu tampak seperti kemenangan. Kadang, iman sejati tampak seperti kesetiaan untuk tetap tinggal ketika semua logika dunia mengatakan: sudah tidak ada harapan. Dan di situlah Allah bekerja. Bukan seperti Jenghis Khan, dengan pedang dan teror. Tetapi seperti Yesus Kristus yang menang tepat pada saat Ia tampak paling tak berdaya. Dunia masih belum mengerti itu Jumat Agung, 3 April 2026. Kristus yang tersalib, kasihanilah kami.















Pengamat Kuwait, Arab muslim @JJJuraid diundang di UN: “Bapak Ketua, saya mendengar istilah ‘penjajah’. Tapi siapa sebenarnya penjajah itu? Kerajaan Yahudi pernah memerintah di Yudea selama seribu tahun. Kami, bangsa Arab lah yg mengambil alih tanah itu.”





🔥 BEST VIDEO OF THE YEAR Rare moment of truth at the UN from brave Kuwaiti dissident @JJJuraid, invited by UN Watch: Mr. Chair, I heard the term “colonizers.” But who are the real colonizers? A Jewish Kingdom ruled in Judea for a thousand years. We, the Arabs, took this land. Who Arabized Egyptians, Phoenicians, Persians and Amazighs? It was us, the Arabs. So why does the council enshrine a lie by keeping a permanent agenda item on Palestine, while ignoring the indigenous heart of Israel returning home? Let us be clear about who is actually defending our sovereignty. Today, Israel is a fighter for peaceful nations, freeing Gaza from Hamas and saving Iranians from the Islamic Republic. What Israel is doing to the IRGC — stopping a genocidal regime from acquiring nuclear weapons — is a gift to humanity. There are 57 Islamic countries and only one Jewish state, Israel. Despite the ongoing hateful desire to eliminate it, Israel has not only survived, it has thrived. I don't believe in miracles, but this is one. So I ask the UN: when will you end the ritual of condemning Israel? Is it not time, instead, to learn from Israel? How to defeat terror, defend free societies, and pursue peace. Thank you.















Muhammadiyah Terus Gelar Dialog untuk Sistem Penanggalan Islam Seragam cnnindonesia.com/nasional/20260…









