Sabitlenmiş Tweet
kYA!
1.9K posts

kYA! retweetledi
kYA! retweetledi
kYA! retweetledi

banyakan jg kosa kata ponakan 3 tahun gw
ദ്ദി ˉ͈̀꒳ˉ͈́ )✧ @ CF22@rukidut
Caca lagi nggak mau makan
Indonesia

gw kalo jadi tukang cetaknya baca ini udh gw masukin ke shredder
ദ്ദി ˉ͈̀꒳ˉ͈́ )✧ @ CF22@rukidut
Cie yang udah nggak mikirin leon sawit kurniawan
Indonesia
kYA! retweetledi
kYA! retweetledi

Ternyata banyak yang relate banget sama perasaan ini 🥲
Buat sebagian orang neurodivergent, rasa “nggak cocok sama society” ini bukan cuma feeling doang, tapi karena otak kita "wired" berbeda. Sensory overload, berpura-pura & masking seharian… lama-lama ngerasa habis energi banget.
Tapi kamu enggak sendirian. 🫂
Kalian cope-nya gimana biar nggak ngerasa draining terus?
Aang@aangtirta
Pernah enggak, ngerasa isi kepala kalian enggak cocok aja sama society ini?
Indonesia
kYA! retweetledi

kalo ngomongin siapa tokoh / filsuf yang problematik terus boikot agak gimana ya ....
Carl Jung salah satu tokoh psychoanalysis bilang, "To confront a person with his shadow is to show him his own light."
selama kuliah pun selalu diajari jangan, "taking for granted" semua omongan orang. soalnya ilmu itu dinamis.
kita diajari skeptis sama ilmunya bukan sama tokohnya, sekadar tau basic tenet-nya aja. soalnya tiap timeline selalu ada perkembangan teori dan tokoh. isinya debat mulu antar tokoh, mereka juga manusia boi bukan nabi. jadi kontroversi bisa aja terjadi.
imagine someone saying, “Personality is fluid, personality is a social construction.” post structural abad-20 also feminist theory. then someone else says, “Women’s neurosis comes from penis envy.” akarnya dari budaya patriarki abad 19. beliau juga deep down misogyny.
literally Butler vs Freud bentrok.
siapa yang bener? bisanya kita cuma tetep belajar dan skeptis .... kalau gak belajar memosisikan diri di tengah-tengah dari semester awal kayaknya udah gila.
apalagi dulu antar tokoh tuh kalo liat sejarah juga saling senggol-senggolan. coba nonton film, "The Young Karl Max". keliatan banget gimana Marx, Engels, sama yang lain saling kritik, dan iri-irian. bahkan ada drama personal. tapi ide-ide mereka tetep ngaruh gede sampe sekarang.
awalnya dulu makna sebuah karya sastra harus ditentukan oleh niat, biografi, atau kepribadian penulisnya. tapi muncul "The Death of the Author" Roland Barthes yang kemudian muncul teori-teori reader response. makna jadi diputusin sama pembaca bukan lagi ditentuin sama "si penulisnya orangnya gimana". walaupun tetep ada yang cara kita nulis dkk itu dipengaruhi oleh background dan ideologi kita.
jadi kalo sekarang banyak yang bilang "boikot aja kalo tokohnya problematik", (menurut keyakinan saya) ya tergantung sih.
kalo problemnya skandal personal selingkuh, pelecehan, dll emang bikin ilfeel, tapi karya intelektualnya tetep masih bisa dibaca kritis tanpa harus jadi "fans berat" orangnya. pisahin antara manusia biasa sama ide yang bisa berdiri sendiri.
note, tapi kalo ide-idenya sendiri yang bermasalah, misal rasisme yang nyata-nyata dipake buat justifikasi kekerasan. nah itu beda cerita. intinya, jangan langsung cancel total atau langsung sujud "mengaggungkan" nanti kamu kecewa. tetep baca aja idenya, ilmu kan emang gitu.

Kiyan Abhinaya Azkalif@yourmathsphere
@ijstwnnago Kayaknya kalau parameter moralnya melebar, hampir habis dah🗿 Kayak Dazai(novelis Jepang) nggak ada riwayat hal serupa, tapi termasuk yang "make" atau "percobaan bunuh diri". Bakal jadi perdebatan dan masuk moral buruk/efek mental yg buruk😅🙏
Indonesia
kYA! retweetledi

@muncorner loves listening to movie? check ✅
watching anime? check ✅
series and movie? check ✅
reading fiction novel? DOUBLE CHEECKKK ✅✅
English

@muncorner i got diagnoses with bpd and it always triggered whenever i fall in love lol. you can hit me up if you want! ;>
English


























