Hendri F. Isnaeni@hendrifisnaeni
Hari ini dalam sejarah, 18 Maret 1932, Mas Marco Kartodikromo meninggal dunia di pembuangan Boven Digoel, Papua. Mas Marco adalah wartawan, sastrawan, dan aktivis pergerakan.
Mas Marco lahir dari keluarga priayi rendah di Blora. Dari tujuh bersaudara, kakaknya adalah Kartosoewirjo, seorang mantri candu, ayah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Jadi, Mas Marco adalah paman pendiri gerakan DI/TII.
Mas Marco awalnya bekerja di perusahaan kereta api di Semarang, tetapi keluar karena muak dengan kebijakan rasis dan diskriminasi. Dia kemudian menemukan pekerjaan yang tepat sebagai wartawan.
Mas Marco menjadi wartawan dan memimpin berbagai surat kabar dan majalah: Medan Prijaji yang dikelola oleh Tirto Adhi Soerjo, Doenia Bergerak, Saro Tomo, Pantjaran Warta, Sinar Hindia, dan Soero Tamtomo. Akibat tulisan-tulisannya yang menyerang pemerintah kolonial Belanda, dia berkali-kali masuk penjara.
Selain menulis di media massa, Mas Marco juga menulis karya sastra di antaranya Mata Gelap, Rasa Merdika, Matahariah, Kromo Bergerak (drama panggung), dan Student Hidjo yang terkenal dan belakangan dicetak ulang.
Tak hanya dengan pena, Mas Marco juga terjun dalam pergerakan politik dengan bergabung dalam Sarekat Islam, bersama Semaoen dan Darsono, yang berkembang menjadi Sarekat Islam Merah kemudian Sarekat Rakyat, cikal bakal PKI.
Mas Marco dibuang ke Boven Digoel, Papua karena tulisan-tulisannya dan dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI 1926. Dia meninggal di sana karena malaria dan penyakit TBC.*
🔗historia.id/article/mas-ma…
🔗historia.id/article/pogau-…
📷Roesminah setia mendampingi Mas Marco Kartodikromo hingga ke pembuangan di Boven Digoel, Papua. Dia berada di sisi suaminya yang terbaring sakit TBC. (KITLV).