R Syah 🇵🇸 🍉
28.7K posts

R Syah 🇵🇸 🍉
@RIYANSYAH_
Greed is permanent slavery. - Ali ibn A Talib -




“Tahun depan gabung NPWP sama aku yuk”












Menurut analisis Prof. Salim Haji Said, calon tunggal penerus Soeharto adalah Tutut Soeharto. Kalau Orde Baru gagal tumbang, Tutut akan menjadi Presiden ke-3 Indonesia pada tahun 2003. Konspirasi ini dimulai Soeharto sejak 1993. Pada 1997, Tutut sudah jadi Waketum Golkar dan Ketua Fraksi Golkar di MPR. Pada saat itu Salim Said mendengar rencana bahwa Tutut akan menjadi Menteri Sosial, lalu Ketua Umum Golkar, lalu Presiden pada tahun 2003. Konspirasi yang didalangi Soeharto tersebut hanya berjalan sampai Tutut diberi jabatan menteri karena rezim Soeharto keburu tumbang. Bahwa Soeharto dan gerombolan keluarganya yang sangat serakah dan rampok ternyata masih bebal meneruskan rencana jahat, gila, egois, dan nepotistik ekstrem ini di tengah-tengah Maret 1998 adalah sangat keterlaluan. Pasar tak bisa menerima. IMF tak bisa menerima. Golkar tak bisa menerima. ABRI tak bisa menerima. Tidak ada yang percaya bahwa rezim Soeharto-Tutut yang jelas-jelas gagal dan inkompeten akan mampu mencegah Indonesia roboh, apalagi memimpin proses Reformasi yang dibutuhkan untuk keluar dari krisis dan mencegahnya agar tak kembali terulang. Apalagi Soeharto sendiri hampir mati kena stroke pada November 1997. Oposisi tak percaya. Ulama dan tokoh masyarakat seperti Cak Nur yang dimintai Soeharto untuk masuk "Dewan Reformasi" tak percaya. Elite penguasa tak percaya. Bandit dan koruptor pun tak percaya. Tidak ada yang percaya pada gerombolan rampok yang telah washed out kehilangan pamor ini. Indonesia gagal pulih dari Krisis 1997 seperti negara-negara tetangganya dan malah roboh sendiri. Anyways, selain tugas informal dari Soeharto sebagai Ahli Negara yang bertugas mengendalikan kabinet jika Soeharto yang luar biasa sangat tua dan sakit-sakitan tidak hadir, secara resmi Tutut memang "hanya" diberi jabatan Menteri Sosial oleh Soeharto pada Kabinet Pembangunan VII. Menteri Sosial berkuasa terhadap distribusi seluruh bansos di Indonesia. Jabatan ini sangat cocok bagi Tutut yang hendak cari popularitas populis sebagai Tokoh Bansos Nasional dengan kekaisaran perusahaan media yang dimilikinya. Ia luar biasa sangat rajin membagikan bansos dengan direkam TV. Sebelum Krisis 1997 menghantam, Gus Dur sepertinya setuju dengan analisis bahwa Tutut dipastikan menjadi presiden berikutnya, dan menjadi dekat dengan Tutut demi menjamin ruang hidup bagi NU di dekade-dekade selanjutnya. Tutut diajak kunjungan ke berbagai pesantren NU. Coba kita bayangkan apa yang terjadi apabila pada 1998 Orde Baru berhasil diselamatkan, gerakan Reformasi berhasil ditumpas seperti Tiananmen di China, Gus Dur dan Megawati dan Amien Rais berhasil dibasmi, dan Tutut dipilih MPR menjadi Presiden pada tahun 2003 untuk menggantikan Soeharto. Kita abaikan dahulu bagaimana "Tiananmen" (sebagaimana dianjurkan oleh Pangkostrad saat itu) boleh jadi akan memicu perang saudara, pemberontakan daerah, konflik etno-sektarian, keruntuhan ekonomi, kemiskinan ekstrem, pengangguran massal, serta anarki total yang memberi ruang bebas bagi gerombolan bandit, teroris, kartel narkoba, judi online, dan bajak laut seperti di Myanmar dan Somalia hari ini. Untuk sekarang kita tinjau saja sisi ekonominya. Sejarah ekonomi menunjukkan bahwa masa kekuasaan hipotetis Tutut ini ternyata akan berbarengan dengan Commodity Boom yang akan berlangsung sampai 2014. Pada masa itu, harga harga jual ekspor sawit, migas, batu bara, bijih nikel, bijih bauksit, pasir galian, dll sangat melambung tinggi di seluruh dunia. Dalam skenario ini, gerombolan keluarga Cendana yang sangat gila serakah akan uang dan berkuasa penuh terhadap sistem otoriter Orde Baru pun akan menduduki posisi strategis untuk memonopoli utuh seluruh ekonomi Commodity Boom tahun 2000-2014 seperti VOC pada tahun 1600an. Semua sawit, semua batu bara, semua bauksit, semua galian pasir akan dapat diambil alih. Semuanya akan masuk ke dalam pundi-pundi kekayaan raksasa pribadi keluarga Cendana, yang akan membalon berkali kali lipat. Tentakel aliran bisnis keluarga Cendana akan menjalar ke setiap RT RW di Indonesia: perumahan cluster, pertokoan, mall, logistik, maskapai, yayasan, sekolah, bank, peminjaman kredit, jaringan telepon, jaringan internet, ormas, ormas keagamaan, gerombolan preman tukang pukul. Model-model ekonomi yang diterapkan pada monopoli ekspor impor pasokan bensin nasional Petral, monopoli cengkeh BPPC, pengadaan tank Scorpion, dll akan diterapkan untuk mengelola seluruh dan semua ekonomi Commodity Boom dan semua turunannya, serta seluruh aspek pemerintahan lainnya. Tanpa rem dari reformasi hukum dan tata kelola serta tanpa penciptaan kelas profesional pasca-Reformasi terutama di sektor keuangan, aliran dana Commodity Boom ini boleh jadi akan mengikuti tren dunia yang sangat umum saat itu, yaitu tersedot seluruhnya untuk ditanamkan dalam aset spekulatif real estate yang meletus pada tahun 2008. Supaya negara tidak kembali roboh seperti 10 tahun lalu, suatu BLBI Jilid II kemungkinan akan dialirkan untuk mem-bailout bank dan perusahaan aset keluarga Cendana yang meletus kolaps pada tahun 2008 dalam skenario ini. Sebagaimana 1997, pajak rakyat dirampok habis-habisan untuk menyelamatkan kekayaan pribadi keluarga. Daftar Presiden Indonesia 1945-1967: Soekarno 🔴 1967-2003: Soeharto 🟡 2003-: Tutut Soeharto 🟡 Kabinet Pembangunan VIII (2003-2008) 1. Presiden: Tutut Soeharto 🟡 2. Wakil Presiden: R. Hartono 🟤 3. Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI/Panglima Kopkamtib: P****** S******* 🟤 4. Menteri Dalam Negeri: Feisal Tanjung 🟤 5. Menteri Luar Negeri: H***** D************** 🟡 6. Menko Ekonomi: Fuad Bawazier 🟡 7. Menteri Keuangan: Soedrajad Djiwandono 🟡 8. Menteri Perindustrian: Sudono Salim ⚪ 9. Menteri Perdagangan: Bob Hasan ⚪ 10. Menteri Pertanian dan Kehutanan: Bambang Soeharto 🟡 11. Menteri Pertambangan dan Energi: Tommy Soeharto 🟡 12. Menteri Pemuda dan Olahraga: Sigit Soeharto 🟡 13. Menteri Sosial: Titiek Soeharto 🟡 14. Menteri Negara Peranan Wanita: Mamiek Soeharto 🟡















