۟
2.1K posts


@Arcdhen Anna menyeka air matanya lalu tersenyum “Eits, sebelum kita closing beneran, kita Veilers udah nyiapin sesuatu nih buat Scriveners.” “Kira-kira apa ya? Boleh kita minta Scriveners @TheLaveil @Reveilent merapat lagi?” Anna menggoda sambil menyapu ruangan dengan tatapan tengil

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil "Tapi kita tetap teman, kan? Karena kita udah menghabiskan waktu bersama selama 5 minggu ini. Semoga semuanya berkesan untuk kalian, ya. Nggak ada lagi yang keracunan jamur. Nggak ada lagi yang halusinasi. Nggak ada lagi Auxiliary Trial, Directive Order, maupun Veil Operation."

@zhaolulsi @TheLaveil “Halo semuanya, kembali lagi bersama saya, Elias Flint. Jangan lempar tomat dulu, lho,” ujarnya, mencoba tetap santai. Beberapa orang hanya mendengus, sebagian lain menatapnya datar, tapi Elias tetap berdiri tegak, seolah sudah terbiasa dengan itu semua.

@Reveilent @zhaolulsi ebel memberikan senyum manisnya sambil melambaikan tangan kepada para veilers yang hadir "selamat malam semuanyaa!" sapanya riang. "wah pada cantik dan ganteng banget gini kalian, walau biasanya cakep si hihiw" ucapnya terkekeh mencairkan suasana.

@zhaolulsi @TheLaveil “Saya mau mengucapkan terima kasih buat seluruh Veilers yang udah menyempatkan diri hadir di acara malam ini. Jangan sedih dulu karena kita udah mau berpisah. Setelah ini kita masih bisa ketemu, lho, walau bukan sebagai Veilers dan Scriveners lagi.”

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.


@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@Reveilent @zhaolulsi Tanel yang merasa giliran berbicaranya tiba, ia langsung mengambil mic yang diberikan. Ia menarik nafas sebentar lalu mulai berbicara, "Halo Veilers, selamat malam semuanya!" Sambil melihat Veilers yang sudah ramai di ruangan tersebut.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.

@zhaolulsi @TheLaveil Kini giliran pria berbusana putih naik ke panggung. Ia hendak mengucapkan sepatah dua kata, meski disambut tatapan tak suka. “Si tukang bansos,” bisik beberapa orang. Tetap saja, ia tersenyum sambil menggenggam mic, seolah tak ada yang mampu menggoyahkan dirinya.
