


nih @ghazafia, sesama cowok aja mematahkan argumen kalian sendiri kok wkwkwkwkwkkwwk
Ronjuror
6.2K posts




nih @ghazafia, sesama cowok aja mematahkan argumen kalian sendiri kok wkwkwkwkwkkwwk



Pada 1970an, orang Indonesia membenci Jepang. Rezim Soeharto dianggap penuh oleh "antek Jepang". Jepang memiliki reputasi seperti China sekarang: serakah, slave labor, musuh Islam dll. Ujungnya adalah Peristiwa Malari 1974. Jepang banyak belajar dari sini. Selama berdekade-dekade, soshum Jepang turun berbasah-basahan berusaha memahami Indonesian. Kebudayaan, struktur ekonomi, dll. Cara paling cepat untuk melakukan ini ya adalah dengan mereformasi lingkungan kerjanya langsung. Ekstremitas black company Jepang di Indonesia tidak parah-parah amat dibanding akhlak perusahaan dari China dan Korea. Berkebalikan dengan 1974, hari ini golongan Islam muda menempel Jepang dan kebudayaannya. DKM sekolah-sekolah penuh dengan wibu. Jepang menjadi negara asing yang paling disukai orang Indonesia. Tidak ada yang marah dan tidak ada bahan bakar untuk marah apabila Jepang membuka pabrik, menanam modal, dan menjual produk di Indonesia. Semua ini bukan kebetulan.



Panggilan untuk saudara saudariku, muslimin dan muslimat, ayo kita report dua akun brengsek ini, ada saudari muslimah kita yang dikorek2 foto gak berhijabnya, ini jelas melecehkan kehormatan seorang muslimah, ayo kita mass report, kalau ada yg bisa doxxing lebih bagus lagi!




Kenyataannya justru feminist neken cewek buat berkarier, yg memilih rumah tangga dikatain internalized misogyny sama mereka, bikin bekal suami dikatain “kok mau jadi babu?”, yg ga setuju jadi man hater dikirim gambar sepong sama mereka. Siapa yg ga enek di persekusi sesama cewek?




sebagai cewek kok lo bisa sih anti feminisme?


Man, what a trip the Japs are: Leaving shoes behind when committing suicide in Japan is a deeply ingrained cultural practice symbolizing a transition to another realm, respect for the location, and preparation for the afterlife. It acts as a final act of order and personal resolution, often signaling that the individual is leaving the physical world behind. Key reasons for this practice include: Cultural Etiquette: In Japan, removing shoes before entering homes or sacred spaces is mandatory to keep them clean. Leaving them at a suicide site, such as a bridge or forest, is a continuation of this ritualized, respectful behavior. Symbolic Transition: It signifies stepping out of the material world and leaving one's physical, societal, and functional "identity" behind. Orderly Departure: Leaving shoes, often neatly paired, allows the individual to depart "cleanly" without creating a mess or causing unnecessary disruption to others. Signal of Intent: The shoes act as a clear sign of the person's final resolve, separating the act from a momentary or accidental incident.


Ada cowok nge-post di TikTok bahwa pacarnya meninggalkannya ketika ia lumpuh. Cewek2 di kolom komentar mengatakan bahwa si cewek melakukan hal yang benar. Mereka menghina si cowok dan menyuruhnya berhenti menangis. Sementara itu di tempat lain ada cewek yg ngepost bahwa dia ditinggal pacarnya ketika ia mengalami kecelakaan dan menjadi lumpuh. Cewek2 di kolom komentar mengatakan bahwa mantan pacarnya adalah cowo redflag. Mereka mengatakan bahwa mantan pacarnya bukanlah lelaki sejati. Mereka menghinanya dan menyebutnya pecundang. Ada yg salah dari perilaku double standard ini, cewek2 tsb mengharapkan segalanya dari cowok tetapi tidak ingin memberi apa pun sebagai balasan. Jadi inget postingan yg sebelah kanan, gimana respon netijen kalo yg kena pinj0l adalah suami? Bagaimana menurut kalian gaes?
