Congratulations Dr. Zain on passing his viva yesterday 🥳Zain is a member of Research Ireland's @GenomicsCRT and was supervised by Vadim Zhernovkov & Walter Kolch here in SBI. His project analysed PD-1 signalling in T cells with the hope of improving cancer immunotherapy
BREAKING: S&P 500 futures surge over +85 points as US Core CPI inflation unexpectedly falls to 3.2%.
The S&P 500 is set to add $750 BILLION in market cap.
Dr Louks, we support you.
Last week, Cambridge PhD student @DrAllyLouks published this photo on X to celebrate passing her viva with no corrections. Her tweet went viral, attracting over 100 million views 🧵
TWIT-TWIT LAMA
Dulu 12-15 tahun yang lalu sebelum jadi pejabat publik, saya memang aktif bermain Twitter (sekarang X). Sebagaimana nature-nya platform tersebut, saya berekspresi secara bebas. Kadang penuh kritik pedas, kadang nyindir, sering juga nyinyir. Sering saya katakan di mana-mana, dulu saya adalah netizen yang marah—bahkan julid.
Tapi kemudian takdir membawa saya ke proses hidup yang lebih kompleks. Pada gilirannya Allah menakdirkan saya menjadi pejabat publik, dari walikota sampai gubernur. Saya giliran balik dikritik, disindir, dinyinyiri di media sosial. Saya sering melihat diri saya yang dulu, netizen yang marah tadi. Bikin saya tersenyum dan sadar.
Konon setiap orang akan melewati fase-fase jadi tukang protes, anak muda yang rebel penuh kritik dan sinisme. Tapi semua orang juga berproses, harus menjadi lebih bijaksana dan tahu diri.
Ibarat anak-anak yang selalu protes pada orangtuanya, remaja yang rebel, pemuda yang kritis dan sinis, pada saatnya akan jadi orangtua yang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang akan bilang pada dirinya sendiri, "Oh gitu ya saya dulu", dan "Ternyata begini rasanya di posisi ini."
Bagaimanapun, untuk twit-twit saya yang lama, saya akui dulu saya kurang bijak dan mungkin kurang literasi—bahkan kurang sopan. Saya mohon maaf jika ada pihak-pihak yang tersakiti, terkritik, tersindir, atau terhina dengan cara saya berekspresi. Semoga saya bisa lebih baik lagi ke depan. 2017-2018 saya pernah meminta maaf tentang hal-hal ini. Saya banyak belajar.
Saya tidak membela diri atau berusaha membenarkan. Itu memang saya yang dulu, saya yang kurang bijak.
Semua orang pernah protes, tapi proseslah yang akan membuatnya sukses. Katanya masa lalu tidak akan mengubah masa depan, tapi sebaliknya.
Maafkan aku yang dulu. Mari kita move on.
Ridwan Kamil
Chess broadcasts should absolutely have an eval bar. The goal should be appealing to a global audience, most of whom need to know who is winning.
You should be able to watch chess at a loud bar and know “the score”.
You can watch higher level coverage without it, but that should not be the norm.
We should be striving to make the game bigger and more accessible than ever.
End of story.
Please stop using Tophat scholar.google.com.mx/scholar?hl=es&… Cole and I developed the method in *2008*. It was greatly improved in TopHat2 then HISAT & HISAT2. There is no reason to use it anymore. I have been saying this for years yet it has more citations this year than last #methodsmatter