Salah satu hal terbaik di dunia
ialah melepaskanmu untuk berbahagia
Seperti melepas burung kecil ke rindang rimba
Melihat dari jauh cuaca semi akhirnya tiba.
Suatu saat ketika badai ini reda
kau dan aku menatap dari jauh
kita menyadari ternyata semua baik-baik saja
hanya istana pasir kecil bertahan dari hujan, perlahan runtuh.
Aku menghormati rasa sakit, seperti aku menghormatimu.
Aku menghormati air mata, seperti aku menghormati kita.
Terhadap keputusanmu aku patuh, seperti matahari terbenam di barat jauh.
Pada masa depan yang masih rahasia
pernah kutitipkan harapan untuk dijaga.
Sesuatu yang sangat kecil namun menyala, hingga satu tiupan merenggut segala.
Aku pernah melihat senyum diberkati pagi
wajah ketabahan meredam segala nyeri
napas yang meniup bunga kuncup seketika mekar
pandangan yang mengubah langit abu-abu menjadi bersinar.
Ikuti kata hatimu.
Apa yang tak mampu kau lihat dan rasa, kau tak berhak menggenggamnya.
Pertemuan dan perpisahan adalah takdir hati. Baik dan buruk tergantung di mana kau memilih tempat berdiri.
Kelak ketika batu kekosongan pecah, dan air yang dimurnikan menemukan wadah; kita akan menertawakan hari ini. Saat itu matahari mungkin sudah hampir pamit, dan doa-doa baik menyembuhkan kenangan pahit.
Setelah melihat lautan
sungai-sungai kecil yang meluap itu dianggapnya kefanaan
ia lupa bagaimana air tawar menyembuhkan dahaga
Melepas harap ke atas awan, maafkan ia tak menenali garis tangan.
Musim-musim silih berganti menopang waktu
Daun tumbuh dan gugur menghormati keberadaanmu
Bentang luas langit menjatuhkan bintang saat engkau berdoa
Di sana harapan pernah ditulis dengan kata-kata patah dan mata berkaca.
Tuhan, aku percaya dengan takdirMu semua akan baik-baik saja.
Nyeri kali ini kuterima selayaknya aku tersangka.
Aku tak akan melawan; takdir ini hukuman, takdir ini teman hidup tak terhindarkan.
Ini adalah air mata terakhir yang bisa kupersembahkan.
Persimpangan jalan telah diputuskan.
Kelak jika usia membuat kembali bertatap muka, kita adalah saudara yang tak berhutang apa-apa.
Akhirnya kita sepakat melepaskan yang rapuh,
Sebelum luka menjadi tak sanggup kau tempuh.
Aku melihat bahagiamu di masa depan begitu jauh, dari sesuatu yang mungkin mampu kuisi penuh.
Cinta itu...
ketika kau melihatnya, kau bahagia
ketika dia jauh, kau rindu
jika sesuatu terjadi padanya, kau khawatir
Engkau, apakah masih memiliki ketiganya?