Boy merespons dengan caranya sendiri—mendekat lebih dekat, auranya terasa hangat, stabil. Seolah ia menyerap kegelisahanku sedikit demi sedikit. Dan di tengah percakapan satu arah itu, aku menyadari sesuatu… mungkin ikatan kami tidak selalu tentang kendali atau latihan.
Aku mulai menceritakan hal yang lebih dalam. Tentang rasa ragu yang kadang muncul tanpa alasan, tentang tekanan yang tidak selalu terlihat. Aneh rasanya, berbicara seperti ini pada makhluk kecil di depanku. Tapi justru karena itu, aku bisa jujur tanpa takut dihakimi.
Setiap tahap dilakukan dengan fokus dan hati-hati, mulai dari penanganan awal hingga tahap akhir. Aku juga memastikan lingkungan tetap bersih agar kualitas daging tetap terjaga.
Di sela kegiatan itu, aku memperhatikan rumput liar yang mulai tumbuh diam - diam di sekitar patch. Tanpa ragu, aku mencabutnya satu per satu, membersihkan area agar tidak mengganggu perkembangan tanaman utama. Tanganku kotor, tapi pikiranku justru terasa lebih jernih.
Gerakanku terasa lebih stabil, seolah tubuhku mulai menghafal ritmenya sendiri. Selesai pemupukan, aku melanjutkan dengan penyiraman. Air mengalir lembut, meresap ke tanah yang kini terasa lebih hidup dibanding hari-hari awal.
Saat aku berhenti, Boy tetap berada di dekatku, tidak menjauh seperti dulu. Dari cara ia bergerak dan tetap tinggal di sekitarku, aku menyadari bahwa ini bukan sekadar bermain, tetapi tanda bahwa ia sudah merasa nyaman, dan ikatan di antara kami perlahan menjadi lebih kuat.
Aku berjalan beberapa langkah, dan ia mengikuti, kadang mendahului, kadang melayang di sampingku. Tidak ada aturan, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa alami. Kami bergerak dengan ritme yang sama, tanpa perlu saling mengerti lewat kata.