
Radiant2025
163 posts

Radiant2025
@ShodShaff
Cape kerja pengen healing



Melayu itu sering disalahpahami sebagai etnis yang rigid. Melayu bukan etnis, bukan pula ras. Dia lebih dekat dengan konsep bangsa. Dia ga peduli kamu keturunan siapa, toh orang Melayu baik di Sumatera maupun di Malaysia aslinya ya pencampuran dari berbagai etnis. Di Sumatera Utara saja, banyak orang Melayu keturunan Jawa, Minang dan Mandailing. Banyak juga yang keturunan Arab dan India. Selama dia beragama Islam dan berbudaya Melayu dan berbahasa Melayu. Maka dia adalah Melayu.



Serba serbi coli (onani) dengan kualitas sperma dan Ca prostat. Mari diluruskan selurus2 nya Source: doi.org/10.1016/j.euru… tau.amegroups.org/article/view/1…


There has to be life on one of these dots.




Buat anak rantau, apa kenanganmu pas pertama kali harus ninggalin kota/rumahmu untuk merantau demi cari uang atau nuntut ilmu? (Foto: seorang Ayah yang melepas putrinya kembali merantau. Sumber Tiktok)



orang susah ketika diangkat derajatnya dikit ya kek gini.....










Dari sini sudah kelihatan🗿



banyak sekali miskonsepsi akan alumni LPDP, seakan akan lulusan S2 atau bahkan S3 UK/US/ manapun itu manusia sakti yang bisa berkontribusi “langsung” kepada bangsa. Dalam dunia akademik, overwhelming majority of lulusan PhD itu hanyalah seorang bayi yang masih menyusu; belum pernah membuktikan diri sebagai periset independen. They are nobody without the incubator. “Pulanglah, berbakti bangun negeri” - by doing what exactly?? An experimental physicist cant work without a synchrotron; NMR etc. Perlu dimengerti bahwa standard global research is extremely high; Indonesian institutions must compete with groups that have multiple postdoctoral experiences from all around the world. Most Indonesian researchers even in ITB/UI/UGM never even secured a postdoc positions! they came back straightaway after PhD! Mereka adalah korban romantisasi kebijakan dan narasi emosional; seakan akan negara itu seorang Ibu yang sekarat menjual seluruh hartanya untuk membiayai anak yang durhaka. this “Ratu Adil” syndrome/narrative membuat kita benci akan sesama, curiga akan mereka yang mendapat kesempatan untuk mengkultivasi dirinya. Sejak kapan kita menjadi bangsa yang penuh dendam akan sesama? To those who get the opportunity to be sent abroad - help if you can; or otherwise, SHUT UP! - you’re nobody yet.













