SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌

6.2K posts

SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌 banner
SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌

SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌

@SinbandSun

Sunbi Cinta #GFRIEND 00L°EUNBI_LINE BUDDY!!°

She/Her Indonesia Katılım Temmuz 2019
172 Takip Edilen110 Takipçiler
SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌 retweetledi
JAY BUM PARK
JAY BUM PARK@JAYBUMAOM·
Like i said numbers is not all that matters but to get these type of numbers with the type of music we’re doin without a viral tik tok dance is a BiG STATEMENT. Now someone make us a viral tik tok dance please lol. 🙏🫶☺️
LNGSHOT CHARTS📈@LngshotChart

.@LNGSHOT4sho Mixtape 2 "4SHOVILLE" Debuts with 1.3 MILLION streams on the spotify counter. This is Lngshot biggest album debut. We also surpassed our goal shotties,Good job🥳👏. #LNGSHOT

English
544
3.7K
16.6K
1.4M
SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌 retweetledi
Atxx
Atxx@atydsss·
@Jakartalk Iklim investasi tetep adem, matamu
Atxx tweet media
Indonesia
0
10
164
8.3K
Asura 🔥
Asura 🔥@Asura0599·
Banyak yang ngira krisis 1998 itu cuma karena Rupiah nyungsep dari Rp2.500 ke Rp16.000. Kenyataannya, ada satu faktor pembunuh yang jarang dibahas yaitu El Nino 1997. Kekeringan ekstrem di tahun itu bikin gagal panen masal, stok beras menipis, dan harga pangan meroket gila-gilaan tepat di saat nilai uang lagi hancur-hancurnya dan PHK massal terjadi. Kombinasi mematikan antara perut lapar (krisis pangan) dan dompet kosong (krisis moneter) inilah yang memicu people power dan meruntuhkan Orde Baru setelah 32 tahun berkuasa. Skenario Prof. Ferry soal Juli-Agustus 2026 itu nyeremin karena polanya plek-ketiplek sama 1997-1998. media.neliti.com/media/publicat… babelinsight.id/penyebab-krisi…
Asura 🔥 tweet media
Abul Muzaffar@abulmuzaffar10

Prof Ferry melihat bahwa Juli-Agustus nanti akan ada El-Nino. Apa itu? Kondisi kekeringan ekstrim yang bikin krisis pangan. Produksi pangan berisiko turun, impor pangan bisa makin membludak dan akhirnya membuat rupiah makin melemah. Harga pangan juga makin mahal. Prof Ferry juga melihat pemerintah cenderung merusak iklim bisnis. Bisa dilihat dari konteks adanya Danantara yang mengontrol Bank BUMN. Pasar takut ini bisa menjadikan bank BUMN sebagai sapi perah. Selain itu, ada risiko badai PHK akibat kenaikan energi yang membuat biaya produksi bisnis semakin tinggi. Yang akhirnya kombinasi dari semua masalah ini pada akkhirnya bisa menciptakan instabilitas politik Begitu rupiah jadi Rp22.000–Rp25.000, ia khawatir kemarahan masyarakat bisa tidak terbendung. Dan tahulah berikutnya bakal apa?

Indonesia
76
5.7K
15.7K
500.8K
Zoldyck
Zoldyck@kiluazoldyck25·
@abulmuzaffar10 Prof Ferry prediksinya terlalu cepat. El Nino mencapai puncaknya antara september-desember. Kalau berdasarkan sejarah tahun 97 Rupiah jatuh ekstrim setelah puncak el nino. Tahun 97 puncak el nino bulan desember dan rupiah jatuh ekstrim bulan januari 98
Indonesia
4
2
73
10.9K
Abul Muzaffar
Abul Muzaffar@abulmuzaffar10·
Barusan gw nonton podcast yang bilang rupiah akan nyentuh 22.000-25.000, pas bulan Juli-Agustus 2026 Itu kata Prof. Ferry Latulihin. Ekonom dan Mantan Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran. Loh kok bisa? Alasan Prof Ferry: - Efek krisis Hormuz, harga minyak sekarang di atas 100 dolar AS, bahkan otw 120 USD. - Karena masih impor BBM dan subsidi ditahan, beban APBN makin berat. - MBG sebagai the root of all evil. Bikin APBN boros karena memakan hampir 300 T - Efek MBG => Defisit fiskal membengkak sekitar Rp240 triliun Gara-gara ini kata Prof Ferry: - Pasar takut sama APBN Indo. Bisa jebol ga ni anggarannya? - Indonesia bisa turun rating menjadi non-investment grade - Ujung-ujungnya, pasar makin tidak percaya. Tapi ada lagi yang lebih seram..
Abul Muzaffar tweet media
Gopal@MYasfika

Kirain yang bullish porto kita ternyata malah Rupiah yang to the moon.

Indonesia
317
9.9K
30.9K
1.8M
😪💤
😪💤@yoonirey·
@tanyarlfes 1 sama 3 ada suara warga dalam pengambilan keputusan, sedangkan no 2 gak ada. Lalu sekarang pemilihnya pada kaget kalau ni orang ternyata bebal anti kritik, semau-maunya bikin kebijakan dan gak mau dengerin suara rakyat 😂
😪💤 tweet media
Indonesia
11
584
4.2K
60.2K
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 PADAHAL DULU UDAH SEJELAS INI YA 😩😩😩 sayangnya lebih banyak yg kemakan framing GEMOY dan KASIAN doang. makan tuh GEMOY
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
1.5K
18.1K
65.3K
1.2M
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 dia ini kerjanya cuma nerima laporan doang apa gimana si?? kayak abis makan kecubang mulu ucapannya. curiga dia cuma diem aja kerjaanya trs nerima laporan dari bawahannya yg isinya omon omon ga nyata 😭
Indonesia
345
567
3.2K
126.3K
SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌
orang kaya bisa meninggalkan negaranya, sedangkan yang gak bisa? 😭
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri. Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas. Bukan slip of the tongue. Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan: Mau dolar berapa ribu kek kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar. Yang pusing yang suka ke luar negeri. Ini bukan candaan. Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya. Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini. Dan apa yang terjadi setelahnya. Zimbabwe ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat: Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat. Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir. Hasilnya? Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7 sextillion persen per tahun di 2008. Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti. Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam. Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam. Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi. Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali. Venezuela ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs: Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil. Yang penting ada subsidi. Yang penting ada program sosial. Hasilnya? Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018. Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi. Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya. Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung. Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun. Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan: Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar. Tapi benarkah demikian? Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat. Harganya ditentukan dalam dolar. Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik. Harga tempe naik. Harga tahu naik. Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka. Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor. Harganya dalam dolar. Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor. Harganya dalam dolar. Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India. Harganya? Dalam dolar. Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik. Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar. Dan inilah yang paling miris: Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat. Padahal kepercayaan itulah yang membuat rupiah bisa stabil. Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk. Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita. Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar? Sinyal apa yang dikirim ke investor asing? Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah? Bandingkan dengan pemimpin yang serius: Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya. Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan. Hasilnya? Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar. Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah. Bukan karena Singapura kaya alam. Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya. Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin. Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah. Rakyat desa tidak pegang dolar. Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar. Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar. Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar. Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya. Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli. Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya. Semoga kita tidak sampai di sana. Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.

Indonesia
0
0
0
19
miw.
miw.@lilaccountz·
gue mau nangis💔💔💔
miw. tweet mediamiw. tweet media
Indonesia
251
808
13.2K
277.7K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada teknologi yang sedang disiapkan hampir semua bank sentral di dunia termasuk Bank Indonesia dan kalau lo tidak memahaminya sekarang, lo akan terkejut ketika tiba-tiba lo menyadari cara lo menggunakan uang sudah berubah total tanpa lo sadari. Namanya CBDC Central Bank Digital Currency. Di Indonesia wujudnya disebut Rupiah Digital. Apa itu CBDC dan bedanya dengan yang sudah ada: CBDC bukan mobile banking. Bukan e-wallet. Bukan kripto. Mobile banking dan e-wallet seperti GoPay atau OVO adalah saldo digital yang dikelola oleh lembaga keuangan swasta bukan uang langsung, tapi klaim terhadap uang yang disimpan di bank. Kalau banknya bermasalah, saldo lo ikut bermasalah. CBDC adalah uang digital yang diterbitkan langsung oleh bank sentral setara dengan uang kertas dan uang logam, tapi dalam format digital. Nilainya sama persis dengan rupiah biasa, statusnya sah secara hukum, dan tidak bergantung pada perantara swasta. Secara konsep ini terdengar bagus. Tapi di sinilah cerita yang sebenarnya dimulai. Kenapa banyak negara membuatnya dan alasannya masuk akal: Pertama, efisiensi transaksi. Transfer internasional hari ini masih bisa butuh berhari-hari dan biayanya mahal karena melalui banyak perantara. Dengan CBDC, transaksi lintas negara bisa selesai dalam hitungan detik dengan biaya yang jauh lebih rendah. Kedua, inklusi keuangan. Masih ada jutaan orang Indonesia yang tidak punya rekening bank karena lokasi terpencil, tidak punya dokumen lengkap, atau biaya administrasi. Dengan CBDC, secara teoritis seseorang cukup punya perangkat digital untuk langsung terhubung ke sistem keuangan resmi. Ketiga, transparansi dan antikorupsi. Setiap transaksi CBDC tercatat dalam sistem digital secara teoritis membuat pencucian uang dan korupsi jauh lebih sulit karena aliran dana bisa dilacak. Keempat, persaingan geopolitik. Ketika sektor swasta dengan mata uang kripto dan fintech mulai menggeser peran bank sentral, negara-negara berlomba mengembangkan CBDC agar tetap mengendalikan sistem moneter mereka sendiri. Tapi ini yang jarang dibahas dan ini yang paling penting: CBDC bukan sekadar uang yang lebih canggih. CBDC adalah uang yang bisa diprogram. Dan inilah perbedaan yang mengubah segalanya. Uang tunai yang lo pegang sekarang adalah netral. Lo bisa pakai untuk beli apa saja, kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja tanpa ada yang bisa menghentikan atau mengaturnya dari luar. CBDC membuka kemungkinan di mana uang bisa diberi aturan yang mengikutinya. Beberapa skenario yang secara teknis memungkinkan: Uang bisa diatur hanya bisa digunakan untuk jenis pembelian tertentu. Bayangkan subsidi pemerintah yang hanya bisa dipakai untuk beli bahan pokok, tidak bisa untuk rokok atau judi di atas kertas terdengar bagus. Tapi siapa yang menentukan kategorinya? Uang bisa diberi tanggal kadaluarsa untuk mendorong konsumsi. Kalau tidak dipakai dalam 30 hari, hilang. Pemerintah bisa memaksa perputaran ekonomi dengan cara ini. Uang bisa dibatasi secara geografis hanya bisa dipakai di wilayah tertentu. Dan yang paling mengkhawatirkan: akses seseorang ke uangnya sendiri bisa dihentikan secara instan tanpa proses hukum, tanpa peringatan, tanpa prosedur administratif yang panjang. Kasus nyata di Nigeria bukan teori kosong: Nigeria adalah salah satu negara pertama yang meluncurkan CBDC secara resmi pada 2021 dengan nama eNaira. Dan yang terjadi sangat instruktif. Untuk mendorong masyarakat pindah ke sistem digital, bank sentral Nigeria membatasi penarikan uang tunai secara drastis. Hasilnya: terjadi kelangkaan uang tunai di berbagai wilayah, sementara sistem digital eNaira belum cukup siap dan dipercaya masyarakat. Protes pecah di berbagai daerah bukan karena menolak teknologi, tapi karena pilihan mereka untuk bertransaksi secara bebas tiba-tiba dipersempit. Ini menunjukkan satu hal yang sangat penting: ketika sistem keuangan digital terpusat dan uang tunai dipersulit, masyarakat kehilangan pilihan untuk bertransaksi secara bebas. Dan ketergantungan pada sistem yang dikontrol satu pihak menjadi sangat tinggi. Efek psikologis yang tidak kentara tapi nyata: Ada konsep yang disebut chilling effect efek pendingin. Ketika seseorang tahu setiap transaksinya dipantau, dia akan mulai mengubah perilakunya bukan karena melanggar hukum, tapi karena tidak nyaman diawasi. Lo akan lebih berhati-hati beli buku apa, menyumbang ke organisasi mana, membeli barang apa karena semuanya tercatat dan berpotensi dinilai oleh sistem atau otoritas. Electronic Frontier Foundation dan ACLU di Amerika sudah lama memperingatkan ini: catatan keuangan adalah data yang sangat pribadi. Pembelian buku, donasi ke kelompok tertentu, pembelian materi protes semua ini bisa menjadi bukti yang digunakan untuk melacak, memprofilkan, bahkan menangkap seseorang jika sistem memungkinkan akses tanpa prosedur hukum yang ketat. Yang menentukan semua ini bukan teknologinya tapi siapa yang mengendalikannya: CBDC bukanlah teknologi yang secara otomatis buruk. Teknologi adalah netral. Yang menentukan apakah CBDC menjadi alat pembebasan atau alat kontrol adalah dua hal: regulasi yang mengaturnya, dan sistem politik negara yang menerapkannya. Di negara dengan sistem checks and balances yang kuat, dengan peradilan yang independen, dengan mekanisme pengawasan yang benar-benar bekerja CBDC bisa menjadi sistem keuangan yang lebih efisien dan inklusif. Di negara dengan kekuasaan yang terpusat, peradilan yang lemah, dan tidak ada mekanisme pengawasan yang efektif CBDC memberikan otoritas kemampuan kontrol atas ekonomi individu yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia. Apakah uang tunai akan hilang? Belum tentu dalam waktu dekat dan banyak bank sentral, termasuk desain CBDC yang lebih matang, memposisikan uang digital sebagai pelengkap bukan pengganti uang tunai. Tapi ada dinamika yang perlu diperhatikan: ketika masyarakat semakin terbiasa dengan digital dan uang tunai semakin tidak praktis digunakan uang tunai bisa menghilang bukan karena dilarang, tapi karena ditinggalkan. Dan uang tunai hari ini adalah satu-satunya bentuk uang yang benar-benar anonim. Begitu perannya menyusut, ruang untuk bertransaksi tanpa jejak ikut menyempit. CBDC hampir tidak terhindarkan sebagai bagian dari arus digitalisasi global. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini akan terjadi, tapi bagaimana desainnya, siapa yang mengendalikannya, dan apa batasan yang diberlakukan untuk melindungi privasi dan kebebasan individu. Sebagai warga negara, ini adalah pembahasan yang harus lo ikuti bukan hanya urusan teknisi atau ekonom. Karena pada akhirnya yang dipertaruhkan adalah hubungan antara lo sebagai individu dengan uang lo sendiri dan sejauh mana negara bisa mengatur, membatasi, atau menghentikan akses lo terhadapnya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
73
324
1K
91K
SunBi🌞,•'ReadMyPinned📌
kalo dsini udah ada yg protes krna limbahnya bau
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62

KAMPUS DISURUH MASAK? WHAT?? "Tugas kami mendidik, bukan memasak!" Rektor UI Seminggu belakangan ini, dunia pendidikan Indonesia diramaikan oleh satu permintaan yang bikin banyak rektor mengernyitkan dahi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana meminta perguruan tinggi turut membuka Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan sekadar wacana permintaan ini disampaikan langsung dalam Forum U25 yang dihadiri para rektor dari 24 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di Makassar, seiring peresmian dapur MBG pertama di lingkungan kampus di Universitas Hasanuddin. ALASAN BGN: BUKAN SEKADAR MASAK-MASAKAN BGN punya argumen yang lebih luas dari sekedar "tolong buatin nasi boks". Ini alasannya: 1. Kampus = Gudang Ilmu + Sumber Daya Dadan menegaskan bahwa teknologi, SDM, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi dinilai sangat bermanfaat bagi program MBG, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis. 2. SPPG = Lab Hidup untuk Mahasiswa SPPG di kampus dimaksudkan sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik, sekaligus laboratorium hidup untuk mengembangkan riset dan inovasi mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pangan, hingga manajemen rantai pasok. 3. Skala Kebutuhannya BESAR banget Satu unit SPPG saja membutuhkan sekitar 8 hektare lahan sawah untuk suplai beras, 19 hektare lahan jagung untuk pakan ternak, dan 3.700–4.000 ekor ayam petelur untuk kebutuhan protein harian. BGN menilai kampus punya kapasitas untuk menyuplai semua itu dari civitas akademikanya sendiri. 4. Penggerak Ekonomi Lokal SPPG di kampus diharapkan jadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal, menciptakan kolaborasi antara kampus, petani, peternak, dan UMKM dalam satu sistem ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. RESPONS REKTOR UI: TUNGGU DULU! Rektor UI, Heri Hermansyah, menegaskan bahwa tugas utama perguruan tinggi adalah pendidikan, penelitian, riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat bukan operasional dapur. Jika pun ada SPPG, seharusnya dikelola oleh unit usaha kampus yang relevan, bukan universitas itu sendiri. PRO VS KONTRA Yang PRO: Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menilai pelibatan kampus dalam MBG merupakan langkah strategis karena kampus memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan sistem pangan berbasis ilmu pengetahuan, dari produksi hingga konsumsi dan gizi. Yang KONTRA: Akademisi dari Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas HKBP Nommensen mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh diperlakukan sebagai ruang operasional proyek. Kampus harus tetap menjadi institusi yang menjaga kebebasan berpikir dan otonomi intelektual. LBH Makassar bahkan mengkritik keras Unhas yang sudah terlanjur membangun dapur MBG, menyebutnya menyimpang dari mandat Tridharma Perguruan Tinggi dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Niat BGN sebenarnya mulia melibatkan kampus sebagai knowledge hub yang mengintegrasikan sains, riset, dan praktik dalam program gizi nasional. Tapi pertanyaannya tetap relevan: apakah ini tugas kampus, atau seharusnya ada lembaga lain yang mengambil peran operasional ini? Yang jelas, antar "kampus sebagai mitra riset" dan "kampus sebagai pengelola dapur" itu bedanya jauh banget. Dan Rektor UI sudah memilih jawabannya dengan elegan Gimana menurut kamu? Kampus seharusnya ikut masak atau cukup kasih resep ilmiahnya? Komen di bawah!

Indonesia
0
0
0
4