Rumail Abbas
230.9K posts

Rumail Abbas
@Stakof
Nahdliyin-Historian-GUSDURian | Contributing Author at @islamidotco, Former Co-Founder @gayengco | Support & Give: https://t.co/JlubeKz5ud

Setelah membaca "paper" milik Ferry Irwandi yang diunggah di Google Drive, kok, saya melihat ada nuansa AI di sini, ya? Hal ini karena ada yang tadi mengulasnya, dan memang saya temukan di beberapa frasa dan beberapa sisi lainnya. Saya bukan praktisi ekonomi, tidak ngeh juga dengan syudududu-ekonomi, angka-angka, dan formula yang Ferry tulis. Tapi frasa yang dipakai, termasuk gaya inferensinya, "cukup akrab" di benak saya sebagai output bergaya-AI. Dan untuk "sisi lain" tadi, tadi sore, sudah ada yang mengulasnya sedikit. Yaitu inferensi yang (mungkin) dijadikan landasan itu bisa jadi berasal dari sebuah paper. Karena seperti yang kita tahu, AI itu punya basis data yang diterbitkan secara daring, dan kadang-kadang ia mengambil inferensi dari hal yang sudah ada. Plus, ternyata bener, tidak ada daftar pustaka yang dijadikan rujukan di semua PDF-nya. Benar bahwa sesekali Ferry, jika tidak keliru, memakai APA sebagai gaya pengutipan (citation style). Tapi saya tidak tahu judul aslinya karena tidak dia cantumkan di halaman terakhir (yang seharusnya berisi daftar pustaka). Di antara yang referensinya ditulis lengkap adalah ini (sekadar contoh saja): Ferry memakai "Poor Economics" sebagai rujukan. Saya punya PDF buku itu. Tapi setelah saya upyek-upyek isi PDF-nya (bahkan meminta AI untuk memastikannya), ternyata buku itu tidak memuat angka yang Ferry pakai. "...Banerjee dan Duflo dalam Poor Economics (2011) dan evaluasi World Bank atas Indonesia BISA Program 2023 menunjukkan bahwa targeted nutrition interventions memberikan return 1,5-2 kali universal coverage dengan budget yang sama." Poor Economics memang mendukung gagasan bahwa investasi gizi yang diarahkan ke kelompok berisiko, seperti anak dan ibu hamil, punya imbal hasil sosial yang besar, dan bahwa sekadar menambah pasokan kalori bukanlah solusi. Tapi, angka 1,5 sampai 2 kali lipat itu tidak ada di sana. Jadi, menurut saya, yang bisa "disangga" buku ini cuma arah argumennya, bukan besaran angkanya, seperti yang ditulis Ferry. Makanya, kalau Ferry menyandarkan pernyataannya yang berinti angka 1,5-2x ke buku ini, dia membuat Poor Economics seolah menanggung lebih dari yang sebenarnya kedua penulisnya tulis di buku itu. NB: saya bisa salah membaca Poor Economics, dan AI juga bisa tidak akurat. Jadi, silakan koreksi bacaan saya ini~ Namun pada intinya, Ferry jika memang serius dengan analisisnya, harusnya mengirim ini ke rumah jurnal. Klaim besarnya soal "makroekonomi" di sini jelas harus difalsifikasi pakar sejawat. Bukannya berakhir di PDF tiga file yang diunggah di Google Drive begini. 😅 Walhasil, saya takjub dengan energi Ferry. Salut untuknya yang telah membikin tiga PDF yang cukup mewakili dedikasinya untuk Indonesia. Salam hangat untuk Ferry dan Malakan.





Bukannya wajib pakai Ihrom ya kalau masuk pelataran Ka’bah situ? (Bertanya dengan suara rakyat biasa)





Pada umur berapa kalian bertanya: apakah banjir Nuh meliputi seluruh dunia, atau sebagian wilayah saja? Saya menduga, buat kebanyakan kita, pertanyaan itu tidak pernah benar-benar muncul. Kenapa? Jawabannya sudah jadi sejak kecil: seluruh dunia! Dalam banyangan masa kecil saya: air laut menutup setiap puncak gunung, dan semua manusia di planet bumi ini lenyap kecuali yang naik bahtera. Kita menerimanya sebagai ijma' yang tidak pernah diganggu siapa pun. Tapi, coba kita lihat dokumen-dokumennya. Ibn Kathir, dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, memang menegaskan kesepakatan itu: وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْأَدْيَانِ النَّاقِلُونَ عَنْ رُسُلِ الرَّحْمَنِ مَعَ مَا تَوَاتَرَ عِنْدَ النَّاسِ فِي سَائِرِ الْأَزْمَانِ عَلَى وُقُوعِ الطُّوفَانِ، وَأَنَّهُ عَمَّ جَمِيعَ الْبِلَادِ "Sungguh telah berijma' ahli agama-agama yang menukil dari para Rasul al-Rahman, beserta hal yang mutawatir di kalangan manusia sepanjang zaman, atas terjadinya topan, dan bahwa ia meliputi seluruh negeri." (Sumber: Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, tahqiq al-Turki, jil. 1/hlm. 275) Kalau berhenti di sini, perkaranya selesai. Banjir Nabi Nuh bersifat global, dan ini sudah ijma'. Tapi penjelasannya begini. Beberapa baris sebelum kalimat ijma' tadi, Ibn Kathir sendiri yang merekam adanya kubu yang menolak: وَاعْتَرَفَ بِهِ آخَرُونَ مِنْهُمْ. وَقَالُوا: إِنَّمَا كَانَ بِأَرْضِ بَابِلَ، وَلَمْ يَصِلْ إِلَيْنَا "Sebagian lain dari mereka mengakuinya, tapi berkata: Sesungguhnya ia hanya terjadi di negeri Babilonia dan tidak sampai kepada kami." (Sumber: Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, tahqiq al-Turki, jil. 1/hlm. 275) Maksud saya begini. Intelektual muslim yang sama, di halaman yang sama, dan di kitab yang sama, ternyata melakukan dua hal sekaligus: Pertama, beliau mengklaim ada ijma' bahwa banjir itu global, dan Kedua, beliau mencatat hitam di atas putih bahwa ada yang berpendapat banjir Nabi Nuh itu cuma terjadi di Babilonia. Mungkin ada pertanyaan: "Itu cuma orang Persia dan India, dan Ibn Kathir memang menyebut mereka jahil dan zindiq penyembah api." Itu betul, beliau memang menulisnya begitu, "جَهَلَةِ الْفُرْسِ وَأَهْلِ الْهِنْدِ". Akan tetapi، kalau benar ini ijma' yang mutawatir lintas zaman, kenapa ada yang perlu dicap dan dibantah? Ijma' yang utuh itu tidak butuh 'polisi'. Dan pendapat "banjir Nabi Nuh itu regional" ternyata tidak cuma milik "orang Persia jahil" tadi. Ulama muslim sendiri menukilnya, dan menolak anggapan bahwa 'keumuman geografis banjir Nabi Nuh' itu nas Alquran. al-Maqdisi menulis: وَزَعَمَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنَّ الطُّوفَانَ لَمْ يَعُمَّ الْأَرْضَ كُلَّهَا وَلَعَمْرِي لَيْسَ ذَلِكَ فِي كِتَابِنَا "Satu kelompok dari mereka mengklaim bahwa topan itu tidak meliputi seluruh bumi. Dan demi hidupku, hal itu tidak ada dalam Kitab kami." (Sumber: al-Maqdisi, al-Bad' wa al-Tarikh, jil. 3/hlm. 18) al-Maqdisi melanjutkan: yang diriwayatkan hanyalah bahwa air meliputi bumi sekian pagi, dan hukum orang berakal adalah tidak menyamakan riwayat semacam itu dengan nas Kitab. Ini ditulis ulama abad ke-4 Hijriah, generasi yang cukup mendekati Kanjeng Nabi. Bahkan lebih tua lagi. al-Mas'udi, wafat 345 H, sudah menukil kelompok yang menolak keumuman tersebut: فَيَأْبَوْنَ كَوْنَ الطُّوفَانِ عَمَّ جَمِيعَ الْأَرْضِ "...mereka menolak bahwa topan meliputi seluruh bumi." (Sumber: al-Mas'udi, al-Tanbih wa al-Ishraf, jil. 1/hlm. 171) Wallahu a'lam.

Cipeng, alias dr. Tirta, di sebuah sinar bersama Adriano Qalbi mengatakan: orang berjiwa miskin akan pamer kekayaan di media sosial, karena masih perlu validasi dari orang lain. Sementara itu, orang kaya tidak perlu validasi dengan cara yang sama (pamer kekayakan) di media sosial. Selain takut pajak, ya. Ah. Masak? Aku kok gak merasa gitu, ya, @tirta_cipeng?














