Rumail Abbas

230.9K posts

Rumail Abbas banner
Rumail Abbas

Rumail Abbas

@Stakof

Nahdliyin-Historian-GUSDURian | Contributing Author at @islamidotco, Former Co-Founder @gayengco | Support & Give: https://t.co/JlubeKz5ud

Kadipaten Japara Hadiningrat Katılım Ağustos 2009
1.5K Takip Edilen120K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Sampean ngeten 👍
Rumail Abbas tweet media
Indonesia
110
536
2.5K
0
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Setelah membaca "paper" milik Ferry Irwandi yang diunggah di Google Drive, kok, saya melihat ada nuansa AI di sini, ya? Hal ini karena ada yang tadi mengulasnya, dan memang saya temukan di beberapa frasa dan beberapa sisi lainnya. Saya bukan praktisi ekonomi, tidak ngeh juga dengan syudududu-ekonomi, angka-angka, dan formula yang Ferry tulis. Tapi frasa yang dipakai, termasuk gaya inferensinya, "cukup akrab" di benak saya sebagai output bergaya-AI. Dan untuk "sisi lain" tadi, tadi sore, sudah ada yang mengulasnya sedikit. Yaitu inferensi yang (mungkin) dijadikan landasan itu bisa jadi berasal dari sebuah paper. Karena seperti yang kita tahu, AI itu punya basis data yang diterbitkan secara daring, dan kadang-kadang ia mengambil inferensi dari hal yang sudah ada. Plus, ternyata bener, tidak ada daftar pustaka yang dijadikan rujukan di semua PDF-nya. Benar bahwa sesekali Ferry, jika tidak keliru, memakai APA sebagai gaya pengutipan (citation style). Tapi saya tidak tahu judul aslinya karena tidak dia cantumkan di halaman terakhir (yang seharusnya berisi daftar pustaka). Di antara yang referensinya ditulis lengkap adalah ini (sekadar contoh saja): Ferry memakai "Poor Economics" sebagai rujukan. Saya punya PDF buku itu. Tapi setelah saya upyek-upyek isi PDF-nya (bahkan meminta AI untuk memastikannya), ternyata buku itu tidak memuat angka yang Ferry pakai. "...Banerjee dan Duflo dalam Poor Economics (2011) dan evaluasi World Bank atas Indonesia BISA Program 2023 menunjukkan bahwa targeted nutrition interventions memberikan return 1,5-2 kali universal coverage dengan budget yang sama." Poor Economics memang mendukung gagasan bahwa investasi gizi yang diarahkan ke kelompok berisiko, seperti anak dan ibu hamil, punya imbal hasil sosial yang besar, dan bahwa sekadar menambah pasokan kalori bukanlah solusi. Tapi, angka 1,5 sampai 2 kali lipat itu tidak ada di sana. Jadi, menurut saya, yang bisa "disangga" buku ini cuma arah argumennya, bukan besaran angkanya, seperti yang ditulis Ferry. Makanya, kalau Ferry menyandarkan pernyataannya yang berinti angka 1,5-2x ke buku ini, dia membuat Poor Economics seolah menanggung lebih dari yang sebenarnya kedua penulisnya tulis di buku itu. NB: saya bisa salah membaca Poor Economics, dan AI juga bisa tidak akurat. Jadi, silakan koreksi bacaan saya ini~ Namun pada intinya, Ferry jika memang serius dengan analisisnya, harusnya mengirim ini ke rumah jurnal. Klaim besarnya soal "makroekonomi" di sini jelas harus difalsifikasi pakar sejawat. Bukannya berakhir di PDF tiga file yang diunggah di Google Drive begini. 😅 Walhasil, saya takjub dengan energi Ferry. Salut untuknya yang telah membikin tiga PDF yang cukup mewakili dedikasinya untuk Indonesia. Salam hangat untuk Ferry dan Malakan.
Rumail Abbas tweet mediaRumail Abbas tweet media
Indonesia
22
52
411
45K
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
@0pinz Sebagai Sang Penakluk Naga, saya tidak bisa menjangkau apa amalan yang beliau miliki~
Indonesia
0
0
0
13
opinisme
opinisme@0pinz·
@Stakof Amalan apa yang telah ia amalkan selama ini?
Indonesia
0
0
0
484
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
@Cahyo_Cahyo01 Saya tidak tahu kalau nekat akan kena dam. Tapi pas saya mau masuk tanpa baju ihram, langsung diusir. Hhe~
Indonesia
1
0
0
23
Orang Pinggiran
Orang Pinggiran@Cahyo_Cahyo01·
@Stakof Benar Yik, pengalaman saya seperti itu. Kalau masih nekat Askar bilang akan kena Dam
Indonesia
0
0
0
396
Dandelions
Dandelions@mantusekda·
@Stakof Enggak kak, biasanya askar itu sudah nyuruh untuk naik buat yg gak ber ihram lewat flyover ajyad atau ngga boleh turun ke mataf.
Indonesia
1
0
1
426
Indra Daru
Indra Daru@IndraDaru15353·
@Stakof Ha wong mau mau masuk pintunya aja udeh di asykarin. Gimana nyampek plataran. Berarti bahlil memang sang penakluk. Bahlil luar biyasah !
Indonesia
0
0
0
343
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Saya mengunggah tweet saya di atas soal Ferry Irwandi di Facebook, dan tidak menyangka antusiasme mereka jauh lebih tinggi dari X (yang hanya menjangkau 36K views), karena mencapai 80K views. Di antara mereka hanya berpusat pada "tuduhan" yang saya lontarkan ke Ferry bahwa dia memakai AI. Alih-alih, saya juga "dituduh" menulis tweet di atas dengan AI. "Saya juga melihat tulisan Anda dari AI, cuma diobrak-abrik saja supaya tidak terkesan generate AI. Bagi yang jeli, pasti tahu itu. Karena saya pemakai AI juga." begitu salah satu komentarnya. Disclaimer: dua tahun terakhir saya memang pemakai AI yang sangat aktif. Di tahun pertama, saat saya mendapati AI punya penyakit yang bernama halusinasi, hingga sampai sekarang, akhirnya saya memakai AI untuk analisis saja. Bukan untuk menjadi sumber data yang bersifat ground truth. Walhasil, kendati pun saya pemakai AI yang sangat aktif, namun saya berani memastikan bahwa tulisan saya soal Ferry itu 100% dari isi kepala sendiri, dan saya tulis dengan kemampuan menulis saya sendiri. Seperti yang saya deklarasikan sebelumnya, AI saya memang pakai untuk menganalis PDF Poor Economics, itupun setelah saya cek sendiri PDF-nya di bagian yang relevan. AI itu tidak bisa (dan tidak mungkin) dihindari, dan saya tidak mempermasalahkan pemakaian AI yang dilakukan Ferry (jika memang benar). Yang saya sesali dari "paper" Ferry cuma satu: dia mengandalkan AI untuk sebuah klaim yang ternyata tidak ada dari buku yang ia rujuk. Jadi, saya tidak meledek pemakaian AI-nya, tapi saya menyayangkan Ferry yang terlalu beriman dengan halusinasi AI. Itu dua hal yang berbeda. 😅
Rumail Abbas tweet media
Indonesia
0
0
2
621
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Ferry sekolah. Dia cerdas. Sekarang sedang menempuh doktoral dan dalam proses penyelesaian disertasi. Memang aneh ada intelektual bisa nulis besar semua di awal huruf. Kecuali auto-capitalized aktif, saya gak tahu alasan lainnya.
Rumail Abbas tweet media
Sutarman 600@gaplek_pol

@Stakof Gak lah, ini sih orang kaga pernah sekolah. Paling paket A-C ini. Buset, dari tata tulisnya itu gak konsisten.

Indonesia
5
2
22
3.1K
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
NB: saya dapat gambar statustik tadi sebuah akun dari linimasa tadi, sayang sekali sudah ke-refresh dan tidak nge-save pemilik gambar. 🙏🏻
Indonesia
0
0
1
131
MartoⒶrt
MartoⒶrt@MartoArt·
@Stakof Pada umur berapa kalian tahu dongeng banjir besar di kitab2 Abrahamik hasil plagiarisme dari dongeng Eposh Gilgames?
Indonesia
1
0
2
64
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Pada umur berapa kalian bertanya: apakah banjir Nuh meliputi seluruh dunia, atau sebagian wilayah saja? Saya menduga, buat kebanyakan kita, pertanyaan itu tidak pernah benar-benar muncul. Kenapa? Jawabannya sudah jadi sejak kecil: seluruh dunia! Dalam banyangan masa kecil saya: air laut menutup setiap puncak gunung, dan semua manusia di planet bumi ini lenyap kecuali yang naik bahtera. Kita menerimanya sebagai ijma' yang tidak pernah diganggu siapa pun. Tapi, coba kita lihat dokumen-dokumennya. Ibn Kathir, dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, memang menegaskan kesepakatan itu: وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْأَدْيَانِ النَّاقِلُونَ عَنْ رُسُلِ الرَّحْمَنِ مَعَ مَا تَوَاتَرَ عِنْدَ النَّاسِ فِي سَائِرِ الْأَزْمَانِ عَلَى وُقُوعِ الطُّوفَانِ، وَأَنَّهُ عَمَّ جَمِيعَ الْبِلَادِ "Sungguh telah berijma' ahli agama-agama yang menukil dari para Rasul al-Rahman, beserta hal yang mutawatir di kalangan manusia sepanjang zaman, atas terjadinya topan, dan bahwa ia meliputi seluruh negeri." (Sumber: Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, tahqiq al-Turki, jil. 1/hlm. 275) Kalau berhenti di sini, perkaranya selesai. Banjir Nabi Nuh bersifat global, dan ini sudah ijma'. Tapi penjelasannya begini. Beberapa baris sebelum kalimat ijma' tadi, Ibn Kathir sendiri yang merekam adanya kubu yang menolak: وَاعْتَرَفَ بِهِ آخَرُونَ مِنْهُمْ. وَقَالُوا: إِنَّمَا كَانَ بِأَرْضِ بَابِلَ، وَلَمْ يَصِلْ إِلَيْنَا "Sebagian lain dari mereka mengakuinya, tapi berkata: Sesungguhnya ia hanya terjadi di negeri Babilonia dan tidak sampai kepada kami." (Sumber: Ibn Kathir, al-Bidayah wa al-Nihayah, tahqiq al-Turki, jil. 1/hlm. 275) Maksud saya begini. Intelektual muslim yang sama, di halaman yang sama, dan di kitab yang sama, ternyata melakukan dua hal sekaligus: Pertama, beliau mengklaim ada ijma' bahwa banjir itu global, dan Kedua, beliau mencatat hitam di atas putih bahwa ada yang berpendapat banjir Nabi Nuh itu cuma terjadi di Babilonia. Mungkin ada pertanyaan: "Itu cuma orang Persia dan India, dan Ibn Kathir memang menyebut mereka jahil dan zindiq penyembah api." Itu betul, beliau memang menulisnya begitu, "جَهَلَةِ الْفُرْسِ وَأَهْلِ الْهِنْدِ". Akan tetapi، kalau benar ini ijma' yang mutawatir lintas zaman, kenapa ada yang perlu dicap dan dibantah? Ijma' yang utuh itu tidak butuh 'polisi'. Dan pendapat "banjir Nabi Nuh itu regional" ternyata tidak cuma milik "orang Persia jahil" tadi. Ulama muslim sendiri menukilnya, dan menolak anggapan bahwa 'keumuman geografis banjir Nabi Nuh' itu nas Alquran. al-Maqdisi menulis: وَزَعَمَتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنَّ الطُّوفَانَ لَمْ يَعُمَّ الْأَرْضَ كُلَّهَا وَلَعَمْرِي لَيْسَ ذَلِكَ فِي كِتَابِنَا "Satu kelompok dari mereka mengklaim bahwa topan itu tidak meliputi seluruh bumi. Dan demi hidupku, hal itu tidak ada dalam Kitab kami." (Sumber: al-Maqdisi, al-Bad' wa al-Tarikh, jil. 3/hlm. 18) al-Maqdisi melanjutkan: yang diriwayatkan hanyalah bahwa air meliputi bumi sekian pagi, dan hukum orang berakal adalah tidak menyamakan riwayat semacam itu dengan nas Kitab. Ini ditulis ulama abad ke-4 Hijriah, generasi yang cukup mendekati Kanjeng Nabi. Bahkan lebih tua lagi. al-Mas'udi, wafat 345 H, sudah menukil kelompok yang menolak keumuman tersebut: فَيَأْبَوْنَ كَوْنَ الطُّوفَانِ عَمَّ جَمِيعَ الْأَرْضِ "...mereka menolak bahwa topan meliputi seluruh bumi." (Sumber: al-Mas'udi, al-Tanbih wa al-Ishraf, jil. 1/hlm. 171) Wallahu a'lam.
Rumail Abbas tweet media
Indonesia
12
11
50
11.7K
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
@mariamagdal Sebenarnya ini soal kredibilitas saja. Dan mungkin integritasnya sebagai pakar. Saya banyak melihat pemakaian AI bener-bener berguna untuk sains. Tapi sayangnya, jika memang terlalu mengandalkan AI, hasilnya bisa meleset jauh dan robotik.
Indonesia
0
0
1
231
Maria Rosaline
Maria Rosaline@mariamagdal·
@Stakof Kalau ketahuan AI begini, selama bukan peneliti atau dosen, gpp ya? 😅
Indonesia
2
0
0
279
#PajakKitaUntukKita
#PajakKitaUntukKita@kring_pajak·
@haris_amru8 @Stakof Hai, Kak. Demi ketepatan informasi yang kami berikan, mohon diinformasikan kendala atau permasalahan yang Kakak alami. Tks*Atri
Indonesia
1
0
0
104
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Cipeng, alias dr. Tirta, di sebuah sinar bersama Adriano Qalbi mengatakan: orang berjiwa miskin akan pamer kekayaan di media sosial, karena masih perlu validasi dari orang lain. Sementara itu, orang kaya tidak perlu validasi dengan cara yang sama (pamer kekayakan) di media sosial. Selain takut pajak, ya. Ah. Masak? Aku kok gak merasa gitu, ya, @tirta_cipeng?
Rumail Abbas tweet media
Indonesia
63
36
425
173.4K
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
@kuswanto Hahaha. Sejak awal saya juga "risih" sama teks seperti itu. Tapi mungkin ini karena auto-capitalize saja. 😅
Indonesia
0
0
0
490
MasChoose 🎮🎨
MasChoose 🎮🎨@kuswanto·
@Stakof Kenapa guru pertama tiap kata memakai huruf besar semua. Kenapa istilah asing tidak di-italic. Basic formating aja gak bener, tapi berani mengumbar angka.
Indonesia
0
2
4
1.4K
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
@DalamDunia888 Tidak ada yang salah. Yanh salah adalah data dari AI-nya ngaco dan halusinasi.
Indonesia
0
0
4
416
Arya_wiratama
Arya_wiratama@Fahmilaziz·
@Stakof Beberapa hari lalu, saya pernah lihat buku baru seorang Profesor di Malang. Yg bikin agak kaget nama penulis (ada 3), Prof tersebut, sebut A, dan AI. Dalam skema tersebut, entah mana penulis yg dominan.
Indonesia
1
0
1
1.2K