Gdafu retweetledi
Gdafu
9K posts

Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi

Ini dulu...
Saat Pak @ganjarpranowo msh gubernur..
Sekolah gratis yg beneran gratis.. no pungli.. no mark up harga.. & bener2 buat rakyat..
Skrg?
Atas nama Makan bergizi gratis tp banyak dana yg gada kaitan dg Gizi bocor & dibiar2kan
Atas nama sekolah rakyat, sepatu aja dimark-up, termasuk bingkai..
Oalah.. nasib
Orang jujur ditolak2
Akhirnya keblondrok 🥱
Indonesia

@Hidupsebagai62 Bank Indonesia, ayo dong jinakkan dollar pakai cadangan devisamu
Indonesia

PEMERINTAH DAN RUPIAH BERGERAK KE ARAH YG BERBEDA
PEMERINTAH BILANG BAIK2 SAJA,
RUPIAH BANTAH KERAS SAMPE TEMBUS LEVEL TERENDAH SEPANJANG SEJARAH
Hari ini kita disuguhkan dua berita yang seharusnya membuat kita berpikir keras.
Di satu sisi, pemerintah mengumumkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen.
Di sisi lain, rupiah amblas ke Rp 17.512 per dolar AS
Kalau ekonomi kita sedang tumbuh, kenapa mata uang kita justru semakin hancur?
Mari kita jujur soal satu hal. Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen yang diklaim pemerintah itu dihitung dari Produk Domestik Bruto atau PDB. Dan PDB adalah angka agregat,
artinya ia menghitung total nilai seluruh produksi barang dan jasa di Indonesia tanpa mempedulikan siapa yang menikmati hasilnya.
Ketika perusahaan tambang batu bara milik konglomerat mengekspor miliaran ton dan menghasilkan triliunan rupiah, itu masuk hitungan PDB.
Ketika properti mewah senilai ratusan miliar berpindah tangan di kawasan elit Jakarta, itu pun masuk hitungan PDB.
Tapi ketika ibu-ibu di pasar tradisional tidak mampu beli tempe karena harga kedelai naik, itu tidak terlihat dalam angka pertumbuhan.
INDEF sendiri sudah menegaskan dengan lugas:
masyarakat bawah belum merasakan pertumbuhan itu.
Ini bukan opini pengamat jalanan, ini pernyataan resmi lembaga ekonomi terkemuka Indonesia.
LALU KENAPA RUPIAH TERUS MELEMAH?
Inilah paradoks yang perlu kamu pahami.
Pertumbuhan ekonomi dan kekuatan mata uang adalah dua hal yang berbeda, dan keduanya bisa bergerak ke arah berlawanan secara bersamaan.
Rupiah melemah karena beberapa faktor yang saling bertimpa.
Pertama, dolar AS menguat secara global akibat kebijakan suku bunga The Fed Amerika yang masih tinggi. Semua mata uang negara berkembang ikut tertekan, dan rupiah tidak terkecuali.
Kedua, defisit neraca berjalan Indonesia masih terjadi, artinya kita lebih banyak membayar ke luar negeri daripada menerima pemasukan dari luar.
Ketiga, investasi asing yang masuk masih didominasi sektor tertentu dan belum cukup kuat menopang nilai tukar.
Keempat, utang luar negeri yang harus dibayar dalam dolar terus menggerus cadangan devisa.
DAMPAK NYATA RUPIAH LEMAH BAGI RAKYAT BIASA
Ini yang paling penting dan paling sering diabaikan dalam diskusi ekonomi di level atas.
Ketika rupiah tembus Rp 17.512 per dolar, harga barang impor naik.
Kedelai yang mayoritas diimpor dari Amerika langsung ikut naik, dan harga tahu tempe pun meroket.
Gandum impor naik, harga mie instan dan roti ikut naik.
Spare part elektronik naik, bengkel ikut menaikkan ongkos. Obat-obatan yang bahan bakunya diimpor, harganya pun terkerek naik.
Sementara itu, gaji karyawan swasta tidak otomatis naik hanya karena dolar naik.
UMR tidak berubah karena nilai tukar memburuk.
Petani kecil tidak mendapat kompensasi karena pupuk impor tiba-tiba mahal.
Inilah yang dimaksud INDEF ketika mengatakan masyarakat bawah belum merasakan pertumbuhan ekonomi. Mereka justru merasakan sesuatu yang lain, yaitu tekanan biaya hidup yang terus meningkat dari semua arah.
Satu hal yang perlu dipahami secara mendalam adalah bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan bukan prestasi,
melainkan bom waktu.
Ketika 10 persen orang terkaya menguasai lebih dari 70 persen kekayaan nasional, angka pertumbuhan 5,61 persen itu pada dasarnya hanya mencerminkan bertambah kayanya kelompok yang sudah kaya.
Sementara 90 persen masyarakat lainnya berjuang dengan harga-harga yang terus naik, upah yang stagnan, dan rupiah yang nilainya terus tergerus.
Pertumbuhan seperti ini ibarat kue ulang tahun yang makin besar,
tapi hanya dipotong dan dinikmati oleh segelintir orang yang sudah duduk di meja.
Orang-orang yang berdiri di luar ruangan tidak kebagian apa pun kecuali aromanya saja.
Jadi ketika kamu melihat headline "Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen" di satu layar dan "Rupiah Tembus 17.512"
berhenti sejenak,
Angka di kertas bisa dimanipulasi dengan metodologi.
Tapi harga di pasar tidak bisa berbohong kepada siapapun.


Indonesia
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi

Dengan gaji hanya Rp500.000/bulan, Moch. Agus Wijaya, warga Tangerang Selatan (Pamulang), setiap hari mengajar di Jakarta Barat. Siang berdiri di depan kelas mendidik murid-muridnya. Malam hari berubah profesi, berjualan nasi goreng keliling, bahkan mengantar paket demi menambah penghasilan.
Rutinitas berat itu dijalani bertahun-tahun, Di saat guru membangun mimpi muridnya - ia sendiri masih berjuang sekadar untuk bertahan hidup.
Indonesia
Gdafu retweetledi

Program andalan
Dibiayai ugal2an
Digarap asal2an
Pencetusnya cukup terima info yg menyenangkan, menutup telinga pd info yg mencengangkan 😏
Hasilnya acakadul
Itu br permulaan
Potensi mangkrak sdh di depan mata
Tp pasti ini pendapat antek aseng yg menentang pemerintah nih 🥱
*Bangunan di gunung, tengah sawah, hadap2an, itu semata2 demi mengembangkan KDMP & memperluas jaringan.
*Tidak sesuai UU koperasi dsb, itu demi kebaikan
*Menggunakan APBN itu sbg dukungan pemerintah pd ekonomi kerakyatan
Kelen paham ga sih? 😌
Indonesia
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi
Gdafu retweetledi

Menkeu minta harta WNI di luar negeri pulang dalam 6 bulan. Pertanyaannya: Emang ada yang berani?
Sebagian harta di sana kan disinyalir "uang panas" hasil keruk kekayaan ilegal di sini. Mana mungkin mereka pulang lewat jalur resmi kalau ujung-ujungnya kena intip PPATK/KPK.
Lagipula, mending simpan SGD di Singapura yang adem daripada bawa pulang ke Republik Komorbid yang lagi "demam tinggi". Rakyat disuruh tanam singkong, pemilik modal disuruh setor nyawa (aset). Lucu juga game plan pemerintah sekarang.
cnnindonesia.com/ekonomi/202605…

Indonesia
Gdafu retweetledi

@LambeSahamjja BI .. ayo gunakan cadangan devisamu agar kurs usd Rp 5000 sesuai omon2 presiden
Indonesia
Gdafu retweetledi

Guys, ini skenario yang menurut gua perlu dibahas dengan sangat serius dan sangat konkret karena bukan tidak mungkin terjadi.
jika Rupiah tembus Rp20.000 per dolar tahun ini
apakah yang akan terjadi untuk kaum menengah kebawah?
Yang paling terasa adalah dapur kita
kenapa begitu ??
Gandum seluruhnya impor.
Semua produk berbasis tepung terigu langsung naik. Roti.
Mie instan.
Biskuit.
Kue.
Mi ayam gerobak di depan rumah lo.
Kedelai mayoritas impor.
Tahu dan tempe yang selama ini jadi protein paling terjangkau bagi rakyat kecil harganya naik.
Ini bukan pertama kali terjadi kita sudah sering lihat demo perajin tahu tempe ketika rupiah melemah.
Beras dalam negeri tapi pupuknya banyak yang impor.
Harga pupuk naik berarti ongkos produksi petani naik berarti harga beras ikut naik.
Minyak goreng berbahan CPO tapi biaya produksi dan distribusinya pakai bahan bakar yang harganya mengikuti harga minyak global yang dibayar pakai dolar.
Gula mayoritas masih impor.
Daging sapi frozen sebagian besar impor dari Australia.
Estimasi kasar harga kebutuhan pokok bisa naik 10 sampai 20 persen dalam 3 sampai 6 bulan setelah rupiah tembus Rp20.000.
Untuk pekerja bergaji UMR.
UMR Jakarta sekarang Rp5,3 juta.
Dengan inflasi yang dipicu pelemahan rupiah daya beli riil mereka bisa turun 15 persen tanpa ada potongan di slip gaji.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada pengumuman.
Uang yang sama tapi bisa beli lebih sedikit.
Simulasinya begini.
Sebelumnya dengan Rp5,3 juta kamu bisa makan tiga kali sehari bayar kos naik transportasi masih ada sedikit sisa.
Setelah harga naik 15 persen dengan gaji yang sama kamu harus memilih kurangi makan atau nunggak kos atau berhenti bayar cicilan.
Dan kenaikan UMR tidak otomatis mengikuti inflasi. UMR ditetapkan setahun sekali.
Inflasi bisa terjadi kapan saja.
Artinya ada jeda antara harga yang naik dan gaji yang menyesuaikan dan selama jeda itu pekerja UMR yang menanggung selisihnya.
Yang paling parah adalah mereka yang sudah punya cicilan.
Cicilan KPR subsidi yang bunganya naik karena suku bunga acuan ikut naik untuk menjaga rupiah.
Cicilan motor yang tenor-nya masih panjang.
Cicilan pinjol yang sudah menumpuk sebelum rupiah lemah sekarang makin mencekik karena pengeluaran dasar sudah naik semua.
Yang kedua pelaku UMKM kecil.
Ini adalah kelompok yang paling tidak punya bantalan sama sekali.
Ambil contoh penjual gorengan.
Minyak goreng naik.
Tepung terigu naik.
Gas elpiji naik karena subsidi energi makin berat ditanggung negara.
Tiga komponen utama biaya produksinya naik sekaligus.
Kalau dia naikkan harga jual pelanggan berkurang karena daya beli mereka juga sedang turun.
Kalau dia tidak naikkan harga marginnya habis bahkan bisa rugi.
Solusinya yang biasa dilakukan UMKM kecil adalah shrinkflation porsinya dikecilkan tapi harganya sama. Tahu goreng yang tadinya besar jadi kecil
Mi ayam yang tadinya banyak isinya jadi sedikit.
Ini bukan solusi jangka panjang tapi pilihan yang paling mungkin dilakukan saat modal tidak ada dan akses kredit tidak tersedia.
UMKM yang sedikit lebih besar usaha konveksi kecil misalnya kena lebih parah.
Bahan baku kain dan benang sebagian besar impor atau menggunakan bahan baku yang harganya mengikuti kurs.
Mesin jahit yang rusak butuh suku cadang yang harganya naik.
Sementara order dari konsumen turun karena konsumen mereka sendiri juga sedang mengurangi pengeluaran.
Yang ketiga buruh pabrik.
Ini adalah kelompok yang ada di dua sisi masalah sekaligus.
Di satu sisi sebagai konsumen mereka kena dampak inflasi yang sama dengan semua orang di atas.
Di sisi lain sebagai pekerja di industri manufaktur mereka berhadapan dengan risiko PHK.
Karena ketika rupiah melemah signifikan pabrik yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi dua pilihan naikkan harga jual atau potong biaya produksi.
Memotong biaya produksi artinya mengurangi jam kerja mengurangi shift atau mengurangi jumlah pekerja.
Buruh pabrik tekstil adalah yang paling rentan. Industri tekstil Indonesia sudah tertekan oleh serbuan produk tekstil murah dari China.
Rupiah yang melemah sebenarnya membuat produk ekspor tekstil Indonesia lebih kompetitif di pasar global tapi masalahnya bahan baku benang dan kain banyak yang juga impor sehingga efek kompetitifnya tidak sebesar yang diharapkan.
Yang kemungkinan besar terjadi adalah gelombang PHK lanjutan di sektor yang sudah PHK massal tekstil garmen sepatu elektronik.
Dan pekerja yang kena PHK tidak langsung dapat pekerjaan baru karena lapangan kerja formal juga sedang menyempit.
Yang keempat petani kecil.
Paradoks paling menyedihkan ada di sini.
Ketika rupiah melemah harga komoditas ekspor seperti beras CPO dan kopi secara teori naik dalam rupiah karena dibayar dolar.
Seharusnya petani untung.
Tapi yang terjadi di lapangan berbeda.
Pupuk naik.
Biaya angkut naik.
Bensin untuk pompa air naik.
Plastik untuk pembungkus dan pengemasan naik.
Dan petani kecil tidak punya daya tawar untuk menentukan harga jual yang menentukan adalah tengkulak atau koperasi atau pasar yang sering kali tidak serta-merta menaikkan harga beli dari petani secepat kenaikan harga jual di konsumen.
Artinya ongkos produksi naik tapi harga yang diterima petani tidak naik proporsional.
Marginnya semakin tipis.
Dan petani yang sudah bergantung pada utang untuk modal tanam semakin terjepit.
Yang kelima orang yang punya utang dalam dolar atau produk yang harganya mengikuti dolar.
Ini termasuk cicilan kendaraan dan elektronik yang spesifikasinya diimpor.
Smartphone yang baru.
Laptop.
Komputer.
Peralatan rumah tangga.
Semua yang komponen intinya impor harganya akan naik dalam rupiah.
Orang yang berencana membeli laptop Rp8 juta sekarang harus siapkan Rp9 sampai Rp10 juta.
Yang berencana beli smartphone Rp5 juta mungkin harus bayar Rp5,5 sampai Rp6 juta.
Soal apa yang terjadi dengan subsidi dan bagaimana itu memperparah fiskal negara.
Ini adalah lingkaran setan yang paling berbahaya.
Rupiah melemah berarti harga BBM impor dalam rupiah naik.
Tapi pemerintah tidak serta-merta naikkan harga BBM karena takut inflasi meledak dan gejolak sosial. Jadi subsidi energi yang harus dibayar negara makin membengkak.
Subsidi yang sudah jebol 266 persen
dari target di Q1 2026 akan semakin jebol.
Defisit APBN semakin lebar.
Dan untuk menutup defisit itu pemerintah harus meminjam lebih banyak atau mencetak uang keduanya menekan rupiah lebih jauh lagi.
Lingkaran itu berputar ke bawah.
Soal satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang biasa untuk memproteksi diri.
Dalam kondisi rupiah melemah signifikan ada beberapa langkah yang bisa diambil secara individual meskipun semua punya trade-off.
Pertama untuk yang punya tabungan pertimbangkan sebagian kecil di emas atau dolar bukan spekulasi tapi sebagai lindung nilai. Nilai rupiah dari tabungan biasa akan tergerus inflasi.
Kedua untuk UMKM kurangi ketergantungan pada bahan baku impor sebisa mungkin. Cari substitusi lokal meski kualitasnya mungkin tidak identik.
Ketiga untuk semua orang ini waktu yang paling penting untuk tidak menambah utang konsumtif. Cicilan yang terasa ringan sekarang akan terasa lebih berat ketika harga barang kebutuhan pokok sudah naik semua.
Keempat untuk yang punya keahlian digital atau bisa bekerja dalam dolar ini adalah waktu terbaik untuk mencari klien atau pekerjaan yang dibayar dalam mata uang yang lebih kuat.
Rp20.000 per dolar bukan angka abstrak.
Itu adalah harga beras yang lebih mahal.
Tahu tempe yang lebih mahal.
Ongkos produksi UMKM yang lebih berat.
PHK di pabrik yang lebih banyak.
Dan gaji UMR yang nilainya riilnya makin kecil meski angkanya sama.
Yang paling tidak adil dari seluruh situasi ini adalah orang-orang yang paling tidak punya pilihan yang tidak bisa pindah ke investasi dolar tidak bisa raise harga tanpa kehilangan pelanggan tidak bisa nego cicilan dan tidak bisa nunggu kondisi lebih baik justru yang paling keras merasakan dampaknya.

Indonesia
Gdafu retweetledi













