Sultan Rivandi
2.3K posts


@TimnasIndonesia Coach Kluivert harus bisa lebih memahami sepak bola Asia. Australia sekalipun total bertahan melawan Jepang. Arab Saudi pun bertahan sehingga bisa menahan imbang. dengan segala sisi Timnas yang timpang, racikan bertahan STY masih relevan.
Indonesia
Sultan Rivandi retweetledi

@kompascom yang dijual destinasi liburan kebahagiaan dengan para binatang, ternyata pemilik jauh lebih binatang dari sifat asli binatang. bagaimana mungkin penyiksaan, perbudakan, pelanggaran ham, kekerasan terhadap anak, dan kebrengsekan (bahasa halus) lainya bisa berlangsung sangat lama?
Indonesia

Sisi Gelap Sirkus Taman Safari: Dirantai, Disetrum, dan Dipaksa Tampil Saat Hamil
Baca di nasional.kompas.com/read/2025/04/1…

Indonesia

capek-capek DPR bersiasat lolosin RUU TNI, sampe digrebek di hotel, eh oknumnya nembak polisi. 👏🏻 #RUUTNI
Indonesia

catatan saya tentang 100 hari pemerintahan baru presiden @prabowo di @hariankompas hari ini, 7/7/25 h.7.
maaf, kata sebagian teman ternyata terbaca agak keras 🤭. maksud saya hanya menunjukkan realita dari kacamata saya, dan mencoba mengusulkan perbaikan.
silakan disimak. kompas.id/artikel/negeri…
Indonesia

@yanuarnugroho @prabowo @hariankompas salah satu keberkahan di hari Jumat ini, adalah membaca tulisan berkualitas dari pak Yanuar. salam hormat.
Indonesia
Sultan Rivandi retweetledi

TANTANGAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN MASA DEPAN
Catatan (sangat) ringkas dari kuliah Prof. Jeffrey Sachs dalam SDGs Lecture 2025, 17 Januari 2025, Bappenas RI @BappenasRI
Yanuar Nugroho
Koordinator TA Seknas SDGs Bappenas 2022-2024
Dosen STF Driyarkara, Jakarta
Ada tujuh tantangan perencanaan pembangunan di masa depan, saat dunia makin 'chaotic' tapi juga 'paradoxical' - berbagai kemajuan --khususnya teknologi, ekonomi-keuangan-- akan terjadi, namun sejumlah krisis --baik krisis alamiah seperti bencana, wabah, maupun krisis 'buatan' seperti krisis ekonomi-- juga menghantui hidup manusia. Sebagai catatan pribadi, pengantar ini mengingatkan saya pada notasi 'Risk Society: Towards a New Modernity' (Ulrich Beck, 1992) dan 'Runaway World: How Globalization is Reshaping Our Lives' (Anthony Giddens, 1999).
Ketujuh tantangan tersebut adalah:
1. MAKIN MUTLAKNYA PERENCANAAN YANG TERINTEGRASI
Dalam bahasa Prof Sachs: "Integrated nature of plan" menjadi keniscayaan. Tak ada aspek dan sektor pembangunan yang berdiri sendiri. SDGs menunjukkan dengan jelas bagaimana obsesi akan pertumbuhan ekonomi tidak boleh menghancurkan lingkungan (dan sudah terbukti!), merusak tata sosial, dan mengabaikan tatakelola. Prof Sachs mengusulkan agar pendekatan perencanaan menyeimbangkan empat pilar dalam SDGs: (a) pilar ekonomi dengan target menghapus kemiskinan khususnya kemiskinan ekstrem; (b) pilar sosial dengan target menghilangkan kesenjangan; (c) pilar lingkungan dengan target menjaga keberlangsungan bentang (landscape) ekologi termasuk energi; dan (d) pilar tatakelola dan kemitraan dengan target membangun institusi publik yang akuntabel dan kemitraan pembangunan yang setara.
2. MAKIN PERLUNYA PERENCANAAN JANGKA PANJANG
Agenda pembangunan mesti dibedakan dari program kerja pemerintah. Program kerja pemerintah bersifat jangka pendek (bahkan bisa tahunan), amat dipengaruhi dinamika politik. Agenda pembangunan selalu berjangka panjang, dan dipengaruhi oleh visi publik. Ini yang menentukan arah perkembangan keadaban. Bahaya mengancam saat visi publik direduksi semata-mata menjadi visi politik. Mengapa? Karena seluruh perubahan fundamental dunia ini hanya bisa diantisipasi dengan visi dan upaya 'membaca tanda-tanda zaman' jangka panjang. Prof Sachs mencontohkan: keniscayaan dilewatinya batas 1.5C (global warming) sudah diingatkan 20-25 bahkan 30 tahun yang lalu. Namun politisi mengabaikan hal ini. Karena itu yang dibutuhkan bukan pernyataan politik spt Paris Agreement tetapi perubahan sistem ekonomi dan pembangunan. Yang diperlukan adalah agenda transformasi pembangunan - meski konteks politik akan berubah-ubah.
3. URGENSI INTEGRASI REGIONAL DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Sudah saatnya memikirkan perencanaan-bersama di tingkat regional (supra-nasional), khususnya di Asia Tenggara. Indonesia, Singapura, Thailand tidak bisa memikirkan dirinya sendiri dan 'ignorant' akan kebutuhan tetangganya. Kasus Myanmar menjadi bukti, demikian juga dengan dampak ekonomi-sosial-geopolitik yang menghantam wilayah ini karena konflik US-China, Rusia-Ukraina. Hal semacam ini akan terus terjadi dan malah makin intensif. Karena itu perencanaan mesti bersifat regional: misalnya strategi dekarbonisasi, atau EV (electric vehicles) tak mungkin dikerjakan hanya oleh satu negara sementara tetangganya mengabaikan. Dibutuhkan regional energy grid, decarbonization strategy, strengthening economic pacts, dst. Negara mesti punya komitmen pada transformasi regional, bukan hanya nasional.
4. PERLUNYA KESADARAN BARU AKAN 'BLENDED NATURE OF TRANSFORMATION'
Fakta bahwa transformasi pembangunan itu 'blended' (bercampur) tak bisa dinafikkan. Tak ada transformasi ekonomi tanpa transformasi lingkungan, sosial, maupun politik. Dan sebaliknya. Selama ini kita berfokus hanya pada transformasi ekonomi. Yang diperlakukan 'blended' hanya saat kita butuh uang untuk pembangunan, khususnya SDGs. Itu baik, tetapi tidak cukup. Kita tidak hanya butuh 'blended financing', kita butuh 'blended transformation', yang mesti dimulai dari 'blended planning'. Pendekatan pembangunan tidak bisa silo-ed (terkotak-kotak/terkompartementalisasi), tapi mesti terintegrasi dan 'campur'. Memang itulah realitas pembangunan: bahwa aspek sosial bercampur dengan aspek ekonomi, lingkungan, politik, dan semuanya.
5. PENTINGNYA PERENCANAAN YANG MEMANFAATKAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Mutlak adanya kesadaran bahwa semuanya berkembang, berinovasi secara cepat! AI, genomics, advanced materials, semuanya. Dalam Bahasa prof Sachs, "Technological progress is unstoppable." Kemajuan seluruh sektor pembangunan kini dipengaruhi, jika tidak ditentukan, oleh kemajuan teknologi. Perencanaan pembangunan perlu memanfaatkan teknologi terbaru (cutting-edge). Ada 10 'cutting-edge tech' ini (silakan disimak di videonya). `China memberi pelajaran berharga: perlu visi "made in China" - yang dicanangkan 30 tahun lalu dan jadi kenyataan saat ini. Pertanyaan Prof Sachs, "What is 'Made in Indonesia 2035' strategy?" - strategi apa yang harus dipunyai untuk mewujudkan 'Made in Indonesia 2035'? Untuk itu, (i) kebijakan teknologi (technology policy) itu sentral, dan (ii) mau tidak mau mesti disusun strategi sains dan teknologi (S&T strategy).
6. URGENSI PERENCAAN DIPLOMATIK ('DIPLOMATIC PLANNING')
Perlu perencanaan diplomatik untuk menavigasi kekuatan politik besar dunia saat ini dan ke depan karena masifnya perubahan dan pergeseran geopolitik dunia membuat proses perdamaian yang dibutuhkan untuk pembangunan menghadapi tekanan/tantangan. Kekuatan besar politik dunia (US-EU-China-AU) mempengaruhi tata dunia, dan ini mesti dihadapi dengan diplomasi bersama-sama. "Don't di diplomacy alone," kata Prof Sachs. Kepemimpinan di asosiasi negara secara politis seperti ASEAN atau ekonomi seperti G20 mesti dimanfaatkan untuk membangun perencanaan diplomatik.
7. HADAPI KENISCAYAAN BAHWA PERENCANAAN MESTI DILAKUKAN SECARA DIGITAL
Siklus kebijakan dan perencaan akan dijalankan secara digital -- itulah keniscayaan baru yang sebenarnya sudah terjadi tapi mungkin enggan diakui. Mulai dari penyiapan regulasi, implementasi, monev, hingga pengendalian pembangunan, teknologi digital mesti digunakan untuk membantu karena masif-dan-beragam-nya dimensi pembangunan. GIS (geospatial information system) dengan dukungan AI, misalnya, mesti bisa dimanfaatkan untuk membantu real-time monev pembangunan. Untuk itu diperlukan strategi e-government (Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik) dan transformasi digital pemerintahan.
Dunia memang menghadapi berbagai perubahan yang berlangsung amat cepat. Dan sayangnya tidak semua perkembangan tersebut membuat kita optimis. Namun kita mesti tetap punya keyakinan, bahwa dunia yang lebih baik itu mungkin. Prof Sachs menegaskan, "Yes, we have to worry (about the current conditions of our world), but we could be creating well-being; because we have new tools available at our hands today to solve many problems that humanity is facing."
Prof Sachs yang tidak asing dengan Indonesia dan Bappenas --bahkan belajar dan mendapatkan inspirasi tentang perencanaan jangka menengah dan panjang dari sini-- menutup kuliahnya dengan menyampaikan harapan, "Saya akan kembali lagi ke sini (tahun depan), dan melihat sudah sejauh apa Bappenas melakukannya."
Semoga catatan amat ringkas dari kuliah Prof Sachs yang amat menarik itu (setidaknya bagi saya) berguna bagi Anda. Kuliah selengkapnya --termasuk tanya-jawab-- bisa disaksikan di sini kanal Youtube Bappenas youtube.com/watch?v=UorjNW…
Jakarta, 17 Januari 2025

YouTube
Indonesia
Sultan Rivandi retweetledi
Sultan Rivandi retweetledi

THX @theafcdotcom , WE ARE BEING ROBBED BY YOUR REFEREE. #afcmafia
English
Sultan Rivandi retweetledi
Sultan Rivandi retweetledi
Sultan Rivandi retweetledi
Sultan Rivandi retweetledi
Sultan Rivandi retweetledi

Greenflation: inflasi yg tjd akibat dr proses transisi perubahan iklim.
Menariknya, ekonomi sirkular yg dicontohkan Pak Mahmud (Madura), adlh salah 1 cara utk kurangi dampak greenflation.
Keponakan paman yg keminter gak paham pertanyaan sdr.
blogs.worldbank.org/allaboutfinanc…
Indonesia
Sultan Rivandi retweetledi












