Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸
9.4K posts

Syair Hak 🇵🇸
@SyairHak
jazz lover. akun ke 2.
Singapore Katılım Aralık 2022
691 Takip Edilen196 Takipçiler
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

Guys, ada satu ironi besar dalam politik Indonesia yang menurut gue perlu lo pahami.
Prabowo Subianto adalah pemimpin yang paling sering melontarkan frasa "antek-antek asing" dalam pidato-pidatonya.
Frasa itu dia pakai untuk menyerang kritikus, membangun narasi musuh bersama, dan memperkuat citranya sebagai nasionalis sejati pelindung kedaulatan Indonesia.
Tapi rekam jejak pribadinya sendiri dari masa kecil sampai sekarang dia menjabat sebagai presiden menunjukkan gambaran yang sangat berbeda dari narasi itu.
Mulai dari keluarga dan ini yang membentuk segalanya:
Ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, adalah ekonom terkemuka yang bergabung dengan PRRI pemerintah revolusioner yang menentang pusat dan selama periode itu menjalin kontak dengan pihak Amerika Serikat termasuk agen CIA di Singapura.
Sumitro sendiri dalam wawancara Tempo 1999 mengakui adanya kontak itu tapi menegaskan bukan sebagai agen bayaran, melainkan untuk menggalang dukungan melawan komunisme.
Setelah PRRI gagal keluarga Sumitro hidup dalam pengasingan. Prabowo kecil berpindah-pindah dari Singapura, Hong Kong, Malaysia, Swiss, sampai Inggris. Dia bersekolah di institusi pendidikan Amerika yang diisi anak-anak diplomat dan ekspatriat.
Hasilnya?
Prabowo tumbuh dengan bahasa, budaya, dan cara pikir ala Barat. Dan dia sendiri yang mengakuinya.
Dalam wawancara Tempo 2013, Prabowo berkata: "Saya dari elit Indonesia yang terus terang saja kiblatnya ke Western elite.
Kita ini kagum sama Barat. Kita besarnya di alam itu. Saya besar di alam bahwa nilai-nilai Barat itulah nilai-nilai modern."
Kalimat itu diucapkan oleh orang yang sama yang kemudian sering menyebut orang lain sebagai antek asing.
Pelatihan militer yang sangat pro-Amerika:
Ketika Prabowo masuk militer dan bergabung dengan Kopassus dia mengikuti program IMET atau International Military Education and Training program yang dirancang Amerika Serikat untuk membangun hubungan jangka panjang dengan perwira militer di negara-negara mitra.
Tahun 1980 Prabowo mengikuti pelatihan pasukan khusus di Fort Bragg, North Carolina pusat utama operasi khusus Amerika Serikat.
Dia diakui sebagai salah satu lulusan terbaik. Bahkan menjadi perwira asing pertama yang merebut lencana penerjun pasukan khusus Amerika.
Lima tahun kemudia pelatihan lanjutan di Fort Benning, Georgia.
Ini bukan hubungan kasual. Ini adalah pembentukan militer yang sangat sistematis dan mendalam dengan sistem pertahanan Amerika Serikat.
Klaim yang paling mengejutkan dan ini perlu lo tahu konteksnya:
Dalam wawancara off the record antara jurnalis Allan Nairn dan Prabowo pada 2001 yang baru dibuka menjelang Pilpres 2014 Nairn mengklaim Prabowo menyebut dirinya sebagai "anak kesayangan Amerika."
Nairn juga mengklaim Prabowo mengaku sangat dekat dengan DIA Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat dan melapor kepada mereka setidaknya seminggu sekali, bahkan selama krisis 1998.
Gue perlu jelas: ini adalah klaim dari wawancara off the record yang sumbernya adalah pengakuan satu pihak jurnalis yang membukanya unilateral. Prabowo tidak pernah secara terbuka mengkonfirmasi isi wawancara itu. Kubu Prabowo menyebut Nairn melanggar etika jurnalistik.
Tapi yang menarik adalah: Prabowo juga tidak pernah secara terbuka menyangkal isinya di depan publik.
Adiknya yang bicara lebih terang-terangan:
Kalau klaim Nairn masih bisa diperdebatkan pernyataan adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, di forum Washington 2013 jauh lebih terdokumentasi.
Dalam forum terbuka itu, Hashim berkata: "Prabowo is very pro-American. He's been going to American school all his life. He went to special forces. He was in Fort Benning, Fort Bragg. The US will be a privileged partner with a Gerindra administration."
Mitra istimewa. Kata-katanya sendiri. Di forum publik. Terekam.
Sanksi Amerika dan bagaimana hubungan itu akhirnya pulih:
Hubungan Prabowo dengan Amerika memang sempat retak. Setelah tuduhan keterlibatan dalam pelanggaran HAM berat pembantaian Kraras 1983 dan penculikan aktivis 1998 Amerika memutus hubungan dengan Kopassus dan melarang Prabowo masuk wilayahnya sejak tahun 2000.
Sanksi ini bertahan selama era Clinton, Bush, dan Obama hampir dua dekade.
Tapi larangan itu dicabut begitu Jokowi menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan di 2019. Dan sekarang sebagai presiden Prabowo aktif mendekatkan diri ke Amerika. Menemui Trump. Menghadiri forum-forum pertahanan. Menandatangani kesepakatan dagang dan 11 MOU senilai miliaran dolar dengan pengusaha Amerika.
Dan ini paradoks yang paling menohok:
Di satu sisi Prabowo sering menyebut kritikus sebagai antek asing di hadapan rakyat Indonesia.
Di sisi lain dia sendiri dibesarkan di sekolah Amerika, dilatih di Fort Bragg dan Fort Benning, mengikuti program intelijen militer Amerika, punya hubungan transaksional yang sangat dalam dengan sistem pertahanan Amerika, dan adiknya sendiri yang menjanjikan Amerika sebagai mitra istimewa kalau Gerindra berkuasa.
Ini bukan kontradiksi yang tersembunyi. Ini ada di rekam jejak publik yang bisa diverifikasi.
Yang perlu dipahami dengan adil:
Kedekatan dengan Amerika bukan otomatis kejahatan. Banyak pemimpin negara menjalin hubungan strategis dengan Amerika itu adalah realita geopolitik.
Yang menjadi masalah adalah penggunaan frasa "antek asing" sebagai senjata politik untuk menyerang orang lain sementara diri sendiri punya rekam jejak yang jauh lebih dalam dengan kekuatan asing yang dimaksud.
Kalau standarnya adalah "dekat dengan asing berarti antek asing" maka standar itu harus diterapkan secara konsisten. Bukan hanya kepada lawan politik.
Prabowo bukan nasionalis anti-Barat.
Dia adalah pragmatis yang menggunakan retorika nasionalisme untuk konsumsi domestik sementara secara strategis membangun dan mempertahankan hubungan transaksional yang sangat dalam dengan Amerika Serikat.
Itu bukan skandal per se.
Banyak pemimpin melakukan hal yang sama.
Yang skandal adalah ketika frasa "antek asing" dilontarkan kepada mereka yang mengkritik kebijakan pemerintah oleh seseorang yang punya rekam jejak hubungan dengan Amerika yang jauh lebih dalam dari siapapun yang pernah dia tuduh.
⚠️ Disclaimer: Fakta yang dikutip berdasarkan dokumen publik yang bisa diverifikasi termasuk wawancara Tempo 1999 dan 2013, rekaman forum Washington 2013, dan data program IMET. Klaim dari wawancara off the record Nairn-Prabowo 2001 adalah klaim yang belum dikonfirmasi atau disangkal secara terbuka oleh Prabowo. Ini analisis berbasis fakta publik bukan tuduhan hukum.

Indonesia
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

Guys, rupiah sekarang di level Rp17.300-an per dolar. Dan banyak pejabat yang bilang "itu masih aman, masih terkendali.
Tapi gue mau ajak kalian mundur ke satu momen dalam sejarah Indonesia yang menurut gue paling relevan dengan kondisi sekarang.
Rupiah tembus Rp16.800 per dolar.
Dari sebelumnya Rp2.400.
Naik tujuh kali lipat dalam hitungan bulan.
Soeharto jatuh.
Ekonomi runtuh.
Rakyat panik.
Dan yang naik menggantikan adalah orang yang tidak ada yang percaya bisa menyelamatkan situasi itu.
BJ Habibie.
Teknokrat pembuat pesawat.
Bukan ekonom.
Lee Kuan Yew pemimpin Singapura yang terkenal skeptis bahkan bilang naiknya Habibie justru akan membuat rupiah makin tidak berdaya.
Hasilnya?
Dalam kurang dari dua tahun rupiah menguat dari Rp16.800 menjadi Rp6.550 per dolar.
Hampir tiga kali lipat menguat.
Bukan karena keberuntungan.
Bukan karena SDA tiba-tiba melimpah lebih banyak.
Tapi karena tiga keputusan konkret yang berani.
Cara pertama: Restrukturisasi perbankan.
Masalah terbesar krisis 1998 bukan hanya rupiah melemah.
Tapi kepercayaan terhadap sistem perbankan hancur. Nasabah menarik uang besar-besaran.
Bank-bank bertumbangan.
Sekarang malah era prabowo himbara
dipreteli agar bisa memberikan pinjaman
ke program presiden
Habibie tidak berdebat soal ini.
Dia bertindak.
Empat bank pemerintah digabung menjadi satu:
Bank Mandiri.
Konsolidasi yang membuat sistem perbankan lebih kuat dan tidak terfragmentasi.
Dan yang paling berani:
dia memisahkan Bank Indonesia dari pemerintah melalui UU No. 23 Tahun 1999.
BI harus independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik.
Itu bukan kalimat yang mudah diucapkan oleh presiden yang baru naik.
Karena artinya dia melepaskan satu instrumen kekuasaan yang selama Orde Baru digunakan sebagai alat politik.
Tapi dia lakukan.
Dan itu yang membuat kepercayaan pasar mulai kembali.
Cara kedua: Kebijakan moneter ketat.
Habibie menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia dengan bunga tinggi dengan satu tujuan: membuat masyarakat mau kembali menabung di bank.
Kalau masyarakat percaya bank uang kembali mengalir ke sistem peredaran uang di luar terkontrol inflasi turun rupiah menguat.
Hasilnya: suku bunga yang sempat meledak di angka 60% turun menjadi belasan persen. Kepercayaan terhadap perbankan kembali pulih.
Cara ketiga: Harga bahan pokok dipertahankan.
Di tengah semua guncangan itu Habibie mempertahankan subsidi listrik dan BBM.
Harga kebutuhan pokok dijaga agar tidak meledak.
Ini keputusan yang tidak populer di mata IMF waktu itu. Tapi Habibie berpegang pada satu prinsip:
kalau rakyat tidak bisa beli bahan pokok, tidak ada stabilitas apapun yang bisa dipertahankan.
Sekarang bandingkan dengan kondisi sekarang:
Rupiah di Rp17.300 per dolar.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Setiap kali rupiah menyentuh level baru Rp17.000, Rp17.100, Rp17.200, Rp17.300 pernyataan resmi yang keluar selalu sama: "masih aman, masih terkendali."
Tapi aman menurut siapa?
Terkendali sampai berapa?
Dan yang lebih penting apa tindakan konkretnya?
Pelajaran dari Habibie yang paling perlu digarisbawahi:
Habibie tidak takut membuat BI independen meskipun itu berarti melepaskan kontrol.
Habibie tidak takut restrukturisasi perbankan yang menyakitkan meskipun itu berarti mengorbankan kepentingan jangka pendek.
Habibie tidak takut kebijakan moneter ketat meskipun itu berarti suku bunga tinggi yang menyakitkan pelaku bisnis dalam jangka pendek.
Dan Habibie tidak takut bermitra dengan pihak asing IMF, investor internasional karena dia tahu: tanpa kepercayaan asing, modal tidak akan masuk, dan rupiah tidak akan pulih.
Dan ini yang gue mau sampaikan dengan jelas:
Ada narasi yang beredar bahwa "berdaulat" berarti tidak butuh asing.
Bahwa bergantung pada investasi asing adalah kelemahan.
Itu narasi yang menyesatkan.
Habibie yang lebih nasionalis dari siapapun,
yang membangun pesawat Indonesia dengan tangannya sendiri tidak sungkan membuka diri kepada asing ketika itu dibutuhkan untuk menyelamatkan ekonomi rakyatnya.
Karena dia paham:
kedaulatan yang sejati bukan berarti isolasi. Kedaulatan adalah kemampuan untuk bermitra dengan siapapun tanpa kehilangan kepentingan rakyat sebagai kompas utama.
Habibie dulu memisahkan BI dari pemerintah. Persis karena dia tahu kalau bank ikut agenda politik, kepercayaan pasar hancur.
Sekarang?
Bank-bank Himbara BRI, BNI, BTN, Mandiri — didorong untuk ikut mendanai program-program pemerintah.
Kopdes Merah Putih. MBG.
Berbagai program yang belum jelas skema akuntabilitasnya.
Bank itu lembaga keuangan yang harus dikelola berdasarkan prinsip kehati-hatian.
Bukan alat eksekusi program politik.
Kalau bank dipaksa ikut program yang risikonya tidak jelas yang menanggung risikonya siapa?
Nasabah.
Rakyat yang naruh tabungan di sana.
Habibie tahu ini.
Makanya dia pisahkan.
Pemerintahan sekarang melakukan sebaliknya.
Ironi lainnya Bank Indonesia diisi oleh keponakan Presiden sendiri.
Ini yang paling langsung bertentangan dengan warisan Habibie.
Habibie buat UU No. 23 Tahun 1999 yang menjamin BI independen dari pemerintah. Bebas dari intervensi politik.
Karena dia tahu begitu BI diintervensi, kepercayaan investor hilang, rupiah tidak bisa distabilkan.
Dan sekarang posisi penting di Bank Indonesia diisi oleh keponakan Presiden Prabowo.
Tanpa pengalaman yang relevan di bidang moneter atau perbankan sentral.
Ini bukan soal siapa orangnya secara personal.
Ini soal sinyal yang dikirim ke pasar.
Ketika investor global melihat bank sentral diisi oleh keluarga presiden mereka tidak melihat independensi.
Mereka melihat risiko.
Dan mereka memindahkan modalnya ke tempat yang lebih aman.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Rupiah di Rp17.300. Sebagian dari itu adalah respons pasar terhadap sinyal-sinyal seperti ini.
Habibie melepaskan kontrol atas BI untuk menyelamatkan ekonomi.
Prabowo memasukkan kontrol keluarga ke BI dan berharap ekonomi tetap baik.
Dua arah yang berlawanan.
Dua hasil yang bisa diprediksi berbeda.
yang paling gila
Narasi "antek asing" yang membuat modal tidak masuk.
Habibie yang lebih nasionalis dari siapapun, yang bangun pesawat Indonesia, yang didiskriminasi di Jerman tapi tetap pulang untuk bangun negara tidak pernah takut bermitra dengan asing ketika ekonomi membutuhkannya.
Sekarang ada narasi yang beredar dan dipelihara oleh sebagian lingkaran kekuasaan bahwa siapapun yang mendukung keterbukaan terhadap investasi asing adalah "antek asing."
Hasilnya: investor asing ragu masuk.
Bukan karena Indonesia tidak menarik.
Tapi karena iklim politiknya tidak memberikan kepastian.
FDI Foreign Direct Investment adalah salah satu mesin pertumbuhan paling efisien untuk negara berkembang. Membawa modal, teknologi, lapangan kerja.
Tapi kalau setiap investor asing yang masuk dipandang dengan kecurigaan dan setiap pejabat yang mendukung keterbukaan disebut tidak nasionalis siapa yang mau masuk?
Dan tanpa modal masuk rupiah tidak punya cukup dukungan. Devisa tidak tumbuh. Defisit transaksi berjalan melebar. Tekanan pada rupiah terus ada.
Nasionalisme yang sejati bukan menutup pintu dari asing. Tapi memastikan asing yang masuk memberikan nilai terbaik bagi rakyat dengan syarat yang jelas, transparan, dan menguntungkan Indonesia.
Habibie tahu itu.
Dan itu yang dia praktikkan.
Satu kalimat yang merangkum semuanya:
Habibie melepaskan kontrol atas BI supaya pasar percaya.
Habibie bermitra dengan asing supaya modal masuk dan rupiah pulih.
Habibie restrukturisasi bank supaya sistem keuangan kuat.
Prabowo memasukkan keluarga ke BI.
Mendorong bank ikut program pemerintah.
Dan memelihara narasi anti-asing yang membuat investor ragu.
Tiga langkah yang persis berlawanan arah dengan yang terbukti berhasil.
Dan rupiah yang sekarang di Rp17.300 dengan pejabat yang terus bilang "masih aman" adalah hasilnya.
Dan setiap kali ada pertanyaan konkret tentang kondisi fiskal dan moneter jawabannya: "masih aman."
Habibie tidak pernah bilang "masih aman" ketika situasinya tidak aman.
Dia bilang ada masalah dan ini yang akan dia lakukan untuk mengatasinya.
Perbedaan antara pemimpin yang mengelola kepanikan dan pemimpin yang mengelola narasi itu yang paling terasa sekarang.
Tidak perlu belajar ke Prancis, Rusia, atau Inggris. Buku sejarahnya ada di sini.
Aktornya orang Indonesia.
Hasilnya terbukti.
Yang dibutuhkan bukan ilmu baru.
Yang dibutuhkan adalah copas apa yang dilakukan
habibie dahulu lalu inovasikan
tinggal mau atau tidak nya
dari situ kita bisa menilai
arah kepentingan presiden sekarang

Indonesia
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

⛔️Here is the clear evidence of the faked show tonight ‼️
⛔️ Right before Trump is rushed off stage… a man holds up a card‼️
⛔️It looks like he may have been signaling something to another person‼️
⛔️One second later, Melania reacts with an exaggerated fake expression of horror on her face‼️
⛔️Did you get it or not yet‼️
English
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

Kejadian lagi, Setelah Cianjur, kini belasan siswa SD di Jeneponto keracunan program MBG gara-gara ikan busuk. Ini bukan lagi kelalaian, tapi kejahatan pengadaan.
Anggaran besar jangan cuma jadi lahan bancakan vendor nakal yang tega kasih 'ikan bangkai' buat anak-anak. Audit total dan blacklist vendornya sekarang juga! Nyawa anak bangsa bukan bahan percobaan.
.
Indonesia
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

BREAKING: President Trump and top administration officials have been rushed out of the White House Correspondents' Dinner by Secret Service. A source says the president is safe. cnn.it/4cwSzMi

English
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

@VisionerUmkm Sejak lama saya berkomunikasi melalui media sosial, karena saya ingin meninggalkan jejak digital setiap komitmen, janji agar bisa digunakan sebagai bukti untuk menagih.
Indonesia

@bachrum_achmadi Selain SYL ,dan NH, Idrus Marhan salah satu aib bg warga sulsel.
Indonesia
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

@geloraco Sejarah menilai bhw kau ad Koruptor dan aib bg warga sulsel.
Indonesia

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai
gelora.co/2026/04/idrus-…
Indonesia
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi
Syair Hak 🇵🇸 retweetledi

Guys, ini salah satu berita yang menurut gue paling mengerikan yang keluar hari ini dan bukan karena dramatis, tapi karena implikasinya sangat nyata terhadap keselamatan jutaan anak Indonesia.
BPOM secara resmi mengakui di depan DPR:
mereka belum pernah melakukan
sampling makanan MBG.
Sama sekali.
Karena tidak ada anggaran.
Mari kita letakkan ini dalam konteks yang benar:
Program MBG sudah berjalan berbulan-bulan.
Sudah menjangkau 27.000 SPPG di seluruh Indonesia.
Sudah menyerap Rp60 triliun anggaran.
Dan selama itu semua tidak ada satu pun sampel makanan yang diuji oleh BPOM.
Tidak ada verifikasi independen bahwa makanan yang masuk ke mulut anak-anak kita itu aman.
Tidak ada pengujian laboratorium resmi.
Tidak ada audit kualitas dari lembaga yang berwenang.
Dan angkanya membuat gue tidak habis pikir:
MBG: Rp60 triliun sudah terserap.
Hampir Rp1 triliun per hari.
Anggaran BPOM untuk mengawasi program ini yang tersedia saat ini: Rp2,9 miliar.
Bukan Rp2,9 triliun.
Bukan Rp2,9 miliar per bulan.
Total Rp2,9 miliar.
Perbandingannya:
anggaran pengawasan keamanan pangan untuk program yang menelan Rp60 triliun hanya 0,005% dari total anggaran program itu sendiri.
Dan kondisinya lebih buruk dari sekadar kekurangan anggaran:
BPOM sebelumnya sudah mengajukan anggaran Rp196 miliar untuk pengawasan MBG.
Sudah disetujui.
Tapi kemudian ada kewajiban pengembalian dana ke bendahara umum negara artinya dana itu dipotong dan tidak bisa digunakan.
Ada juga dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui Komisi IX DPR tapi sampai hari ini belum bisa dieksekusi karena masih menunggu tahapan administrasi yang entah kapan selesainya.
Jadi BPOM punya anggaran di atas kertas tapi tidak bisa digunakan.
Sementara makanan untuk jutaan anak terus dikirim setiap hari tanpa pengujian.
Dan ini yang paling ironis:
Kepala BPOM Taruna Ikrar bilang mereka sudah melatih 32.000 lebih tenaga ahli untuk mengawasi SPPG.
Tapi tidak ada anggaran untuk mengambil dan menguji satu pun sampel makanan.
Jadi kita punya 32.000 orang terlatih tapi tidak ada alat ukur yang bisa membuktikan bahwa makanan yang mereka awasi itu aman.
Itu seperti punya 32.000 dokter tapi tidak ada satu pun alat diagnosa.
Mereka bisa melihat.
Tapi tidak bisa membuktikan.
Konteks yang membuat ini semakin mengerikan:
Kita sudah tahu bahwa 6.457 orang dilaporkan terdampak keracunan MBG angka yang BGN sendiri laporkan ke DPR.
Belatung ditemukan dalam makanan MBG dan diakui sendiri oleh Hashim Djojohadikusumo.
Kasus keracunan terjadi di Duren Sawit, Bantul, dan berbagai daerah lain.
Dan selama semua itu terjadi lembaga yang seharusnya bertugas memverifikasi keamanan pangan itu tidak pernah melakukan satu pun uji sampel karena tidak ada anggaran.
Yang tidak masuk akal dari seluruh situasi ini:
BGN punya anggaran untuk:
Motor listrik Rp1,2 triliun
Digitalisasi Rp3,1 triliun
Semir sepatu Rp1,25 miliar
Sikat semir Rp272 juta
Tapi BPOM lembaga yang bertugas memastikan makanan itu tidak meracuni anak-anak hanya tersisa Rp2,9 miliar yang bisa digunakan.
Prioritas anggaran ini mengatakan sesuatu yang sangat jelas tentang apa yang dianggap penting dalam program ini dan apa yang tidak.
Pertanyaan yang harus dijawab:
Satu — Selama berbulan-bulan program MBG berjalan tanpa pengawasan sampling BPOM, siapa yang bertanggung jawab memastikan keamanan pangan dari 27.000 SPPG itu?
Dua — Apakah BGN tahu bahwa BPOM tidak bisa melakukan sampling karena tidak ada anggaran? Kalau tahu — kenapa tidak ada tindakan untuk mengalokasikan anggaran yang memadai?
Tiga — Apakah 6.457 korban keracunan itu bisa dicegah kalau sampling BPOM berjalan sejak awal? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.
Tapi pertanyaannya sangat valid dan harus ditanyakan.
Empat — Dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui tapi belum bisa dieksekusi apa yang menghalanginya dan siapa yang bertanggung jawab atas kemacetan administrasi itu?
Bottom line:
Indonesia menjalankan program makan gratis terbesar dalam sejarahnya dengan anggaran hampir Rp1 triliun per hari tanpa pengujian keamanan pangan yang independen.
Bukan karena teknologinya tidak ada.
Bukan karena BPOM tidak mau.
Tapi karena anggarannya tidak tersedia sementara di sisi lain uang mengalir untuk motor listrik dan semir sepatu.
Ini bukan kelalaian kecil.
Ini adalah kegagalan sistemik dalam memprioritaskan keselamatan anak-anak di atas kepentingan pengadaan dan administrasi.
Dan yang paling mengejutkan dari semua ini bukan fakta bahwa BPOM tidak punya anggaran.
Yang paling mengejutkan adalah bahwa program senilai Rp60 triliun ini diizinkan untuk terus berjalan hari demi hari tanpa mekanisme pengawasan keamanan pangan yang paling dasar sekalipun.
atau ini bukan program makan bergizi
atau cara menghabiskan anggaran dengan gaya??

Indonesia










