Mac Karyo@Makaryo0
1. Walmart, 1996
Ritel terbesar di dunia ini masuk Indonesia didukung oleh Lippo Group, buka di Supermall Karawaci. Hasilnya ga bertahan lama. Walmart kurang paham karakter belanja orang Indonesia yang waktu itu masih sangat price-sensitive dan lebih percaya produk lokal. Dalam waktu kurang dari setahun mereka tutup, kalah dari jaringan ritel lokal Matahari yang lebih ngerti pasar.
2. 7-Eleven, 2009 - 2017
Gerai pertama di Jakarta langsung jadi magnet anak muda. Konsepnya fresh untuk saat itu, convenience store yang buka 24 jam dengan tempat duduk dan area nongkrong. Tapi modelnya bermasalah sejak awal. Area tempat duduk itu butuh ruang luas, artinya biaya sewa sangat tinggi.
Minuman beralkohol yang jadi salah satu produk andalannya kemudian dilarang dijual di minimarket. Lalu Indomaret dan Alfamart makin agresif ekspansi dengan harga sewa yang lebih efisien. Setelah 8 tahun, semua 190 gerai tutup sekaligus di 2017.
3. Uber, 2014 - 2018
Masuk Indonesia di 2014 saat bisnis ride-hailing sedang booming. Tapi Gojek dan Grab sudah lebih dulu ada dan lebih mengerti konteks lokal, dari sistem pembayaran cash, integrasi dengan ojek motor, sampai kemampuan adaptasi harga yang lebih fleksibel. Uber kuat di pasar Barat tapi tidak punya senjata yang cukup untuk pasar Asia Tenggara yang karakternya sangat berbeda. Di 2018 Uber angkat tangan, jual seluruh operasinya di Asia Tenggara ke Grab dan pergi.
4. Pepsi, 1996 - 2019
Dua puluh tiga tahun beroperasi di Indonesia tapi tidak pernah bisa menggeser Coca-Cola. Pepsi masuk lewat PT Pepsi Indobeverages di bawah Salim Group, lalu pindah ke Indofood. Tapi distribusinya ga pernah sekuat Coca-Cola yang sudah jauh lebih dalam merasuk ke warung-warung kecil di pelosok. Di 2019 kontraknya berakhir dan tidak diperpanjang. Setelah lebih dari dua dekade, Pepsi menghilang dari rak minimarket Indonesia.
5. Giant, sampai 2021
Hypermarket asal Malaysia yang masuk lewat Hero Group. Sempat jadi pilihan keluarga kelas menengah yang ingin belanja semua kebutuhan dalam satu tempat. Tapi modelnya terlalu besar dan terlalu mahal untuk dipertahankan saat e-commerce mulai menggerus traffic mal. Di Juli 2021, semua 40 gerai Giant tutup sekaligus dalam waktu bersamaan. Ribuan karyawan terkena dampaknya.