Sabitlenmiş Tweet
Teddy Gusnaidi
6.6K posts


Teddy: Memangnya Kenapa Kalau Timses Prabowo-Gibran Dapat Jabatan Pemerintahan? wartaekonomi.co.id/read621955/ted…
Indonesia

MASYARAKAT TIDAK DIBERI KEWENANGAN UNTUK MENYATAKAN SALAH DAN BENAR TERKAIT KOPERASI DESA MERAH PUTIH
Video Full di
youtu.be/GWrcz2JH-WM?si…

YouTube
Indonesia


INI PERANG MELAWAN KEJAHATAN, BUKAN PERANG ANTAR INSTITUSI. JANGAN TERPROVOKASI.
Kejaksaan Agung mengungkap kasus yang diduga melibatkan orang yang berprofesi sebagai polisi. Di sisi lain, Kepolisian mengungkap kasus yang diduga melibatkan orang yang berprofesi sebagai Jaksa. Ini justru patut diapresiasi sebagai bentuk penegakan hukum.
Sayangnya, ada pihak-pihak yang berusaha membangun narasi seolah-olah sedang terjadi perang antara Kepolisian dan Kejaksaan Agung. Framing seperti ini keliru dan masyarakat tidak perlu terprovokasi.
Mengapa?
Dalam beberapa tahun terakhir, Kejaksaan Agung telah membongkar berbagai kasus yang melibatkan Kementerian Kominfo, Kementerian Perdagangan, Jiwasraya, dan berbagai lembaga lainnya. Apakah itu berarti Kejaksaan sedang berperang dengan kementerian atau lembaga tersebut? Tentu tidak. Yang diperangi adalah pelaku kejahatan.
Begitu pula Kepolisian. Mereka mengungkap kasus yang melibatkan Kementerian Kominfo, Kementerian ATR/BPN, BUMN, dan berbagai lembaga lainnya. Apakah itu berarti Kepolisian sedang berperang dengan kementerian atau lembaga tersebut? Tentu tidak. Yang diperangi adalah pelaku kejahatan.
Bahkan, kedua institusi juga menindak anggota di internalnya sendiri. Kejaksaan memproses jaksa yang terbukti melanggar hukum, seperti Pinangki, Eka Safitra, Fedrik Adhar, serta sejumlah jaksa di berbagai daerah. Kepolisian juga memproses anggotanya sendiri, seperti Ferdy Sambo, Teddy Minahasa, Napoleon Bonaparte, dan lainnya.
Artinya jelas, baik Kejaksaan maupun Kepolisian menegakkan hukum tanpa melihat seseorang berasal dari institusi mana. Yang menjadi fokus adalah perbuatannya bukan jabatannya.
Jadi, jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang ingin membenturkan kedua institusi. Ini adalah perang melawan kejahatan, bukan perang antar institusi
TEDDY GUSNAIDI
Indonesia

Yang menentukan seseorang layak atau tidak menjabat, bukan para pembenci dan orang-orang kalah. Jadi kalau ada yang ditempatkan pemerintah, itu artinya sudah sesuai kapasitas.
Sejak kapan pembenci dan orang-orang kalah di negara ini, diberikan kewenangan untuk menentukan siapa yang berhak duduk di pemerintahan? Sejak kapan?
Jadi kalau para pembenci dan orang-orang kalah mengatakan ada yang tidak pantas menjabat, abaikan, karena mereka bukan penentu orang yang berkualitas atau tidak
Indonesia

SOEKARNO MEMIMPIN PNI DI UMUR 26 TAHUN. ADA YANG JADI KOMISARIS DI UMUR 27 TAHUN, KOK DI PERMASALAHKAN?
Anak muda umur 27 tahun dipercaya menjadi komisaris di BUMN, diserang beramai-ramai. Anehnya tidak ada satupun dari mereka yang menyerang kemampuannya, tapi umurnya. Kenapa tidak ada yang menyerang kemampuannya? Karena dia baru dilantik dan belum bisa diukur kinerjanya. Orang belum kerja kok sudah dinilai?
Kenapa bisa begitu?
Karena ini adalah bentuk ketidaksukaan pada negara ini dan bentuk ketidaksukaan pada generasi muda.
Kok tidak suka pada negara dan Generasi Muda?
Ya karena di satu sisi, mereka mendukung ketika ada anak muda yang memfitnah negara dan memaki-maki pemerintah. Jadi mereka tidak suka akan negara ini dan menjadikan anak muda sebagai martir.
Memangnya anak muda tidak punya kemampuan memimpin? Coba kita lihat sejarah bangsa ini.
Bung Hatta yang menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia berumur 28 tahun, Soekarno memimpin PNI umur 26 Tahun, Sutan Syahrir umur 23 tahun memimpin PNI baru, Soejatmoko menjadi anggota Delegasi RI di Dewan Keamanan PBB di New York pada umur 25 tahun, Sumitro Djojohadikusumo sebagai Pembantu Menteri Keuangan pada umur 29 tahun, Adam malik menjadi anggota dan wakil ketua pengurus harian KNIP pada umur 28 tahun, Jenderal Sudirman jadi Panglima TKR pada umur 29 tahun dan masih banyak tokoh hebat lainnya yang berkiprah di umur muda.
Mereka yang tidak suka negara ini, bisa mendapatkan kebebasan hari ini, karena pergerakan para founding fathers di usia muda. Apakah para founding fathers itu dinilai tidak pantas?
TEDDY GUSNAIDI
Indonesia

Yang belum nonton debat salim dower dan alimudin, bisa tonton disini
youtu.be/ZQ3asRNloFk?si…

YouTube
Indonesia

Berkali-kali gue sampaikan, bahwa Menteri itu pembantu Presiden, dia bekerja bukan untuk kepentingan rakyat tapi untuk kepentingan Presiden atau untuk program Presiden. Menteri itu dipilih oleh presiden bukan melalui Pemilu. Makanya bosnya itu ya Presiden..
Katanya ahli hukum, kok gak ngerti?
Indonesia

Ini salah satu contoh rakyat yang tidak cerdas, dia marah atas sesuatu yang tidak dia pahami, hanya karena kebencian. Ini banyak terjadi...
Full video di
youtu.be/JkN-Vw5YncE

YouTube
Indonesia

Ada kawan bilang, bro logika dan analisis lu baik di tv, podcast, vlog dan medsos banyak dipakai ulang oleh beberapa pihak.
Gue bilang, gak apa, malah bagus..!
Karena gue dari dulu selalu bilang, para penjahat dalam menyampaikan narasi sesat selalu seragam, sehingga narasi itu tersebar dan dikonsumsi secara luas.
Nah, pihak yang meluruskan narasi sesat itu tidak pernah seragam! dan secara terbuka gue kritik, bahasa narasinya juga elitis, sehingga tidak mudah dipahami masyarakat.
Jadi bagus kalau ada yang menyebarkan ulang pemikiran gue.
Indonesia

Ini kan urusan hukum, jika Nadiem tidak terima dengan putusan pengadilan, bisa banding, kasasi dan melakukan PK. Masih ada upaya hukum.
Perkuat data, bukti dan argumentasi, bukan malah sibuk memperbanyak drama yang selalu dipertontonkan sejak kasus ini muncul.
Drama dukungan artis dan tangisan tukang ojek, sama sekali tidak masuk dalam ranah pembuktian hukum. Itu masuk dalam ranah infotainment ✍️
Indonesia
