Islah Bahrawi@islah_bahrawi
Perjalanan politik keturunan Arab di Indonesia penuh warna. Ada yang bergabung dengan kolonial Belanda, ada yang berjuang untuk kemerdekaan RI, ada yang menjadi pimpinan separatis, bahkan ada juga yang menjadi pengurus PKI. Mereka pendatang yang menyebar dalam berbagai tatanan sosial dan politik, meski sebagian besar dari mereka adalah pendakwah agama yang sangat masyhur dan keramat.
Warga keturunan Arab rata-rata datang sebagai pedagang, seperti juga diaspora bangsa ini ke berbagai belahan dunia. Posisi ini yang membuat pola sosial keturunan Arab selalu berada di zona netral dan nyaman. Mereka rata-rata "safety player" dalam politik dan penuh perhitungan dalam ekonomi. Setidaknya stereotype ini ditulis oleh ahli sejarah bangsa Arab asal Libanon, Philip Khuri Kitti dalam History of The Arabs.
Satu hal yang menguntungkan bagi warga keturunan Arab, mereka mempunyai keyakinan agama yang sama dengan mayoritas pribumi di Indonesia; Islam. Gerakan politik mereka kemudian mudah lebur dan mudah beradaptasi dengan masyarakat.
Keturunan Arab di Indonesia kebanyakan "Hadrami" (orang yang berasal dari Hadramaut, Yaman). Tidak seperti orang-orang Arab dari wilayah lain, pendatang dari Hadramaut masih memegang teguh anjuran penghormatan kepada keturunan Nabi Muhammad. Anjuran ini yang kemudian menguat di dalam masyarakat kita bahwa mereka harus diperlakukan secara terhormat dan "dimaklumi" dalam takaran moral selevel apapun.
Ada sebagian Habaib yang menerima keuntungan dari suasana itu. Karakter dan komunikasi publik yang brutal, ofensif dan agitatif seringkali dipertontonkan secara sengaja. Ironisnya semua aksi antitesis dari Nabi Muhammad ini dinikmati oleh masyarakat luas dengan dasar "demi menghormati dan mencontoh akhlak Nabi". Apalagi Habaib yang sedang "naik daun" dengan aksi-aksi antagonis, seringkali diproteksi oleh politisi dan keturunan Arab yang lain. Sehingga aksi oknum Habaib yang seperti ini berkesan "lingkaran industri" yang penuh permakluman dan sangat pragmatis.
Terkait ini, contoh yang paling faktual adalah kisah Sayyid Sofyan Baraqbah dan Sayyid Fahrul Baraqbah yang "sangat kiri" tapi tetap dihormati oleh rakyat Kalimantan karena dianggap keturunan Nabi, padahal keduanya jelas-jelas menjadi pengurus teras PKI. Sayyid Fahrul bahkan sempat menjadi anggota MPRS dari PKI Kalimantan Timur. Setelah 1965, Sayyid Fahrul ditangkap tentara, sedangkan Sayyid Sofyan lebih memilih untuk bergerilya dan tewas di hutan Terentang oleh tembakan pasukan Baret Merah.
Namun demikian masih banyak juga Habaib yang justeru menolak penghormatan berlebih itu dengan kerendahhatian. Terutama yang masih menjaga tradisi para pendahulunya dari Arab yang berbasis Tasawwuf melalui Jam'iyah Thoriqoh. Meski memang, banyak Habaib yang tawaddluk lebih memilih untuk tidak populer. Para Habaib yang masih kuat akar Tasawwufnya cenderung menjauh dari hedonisme dan pragmatisme. Mereka lebih memilih untuk berdakwah dengan menganjurkan kesejukan dalam beragama dan membangun kedamaian di Bumi Pertiwi NKRI.